fbpx
kenangan setahun kemarin

Setahun Kemarin

Bukan, postingan Setahun Kemarin ini bukan tentang lagu populer jaman saya sekolah (eh sekolah apa jaman kuliah ya?) itu kok. Tapi ini tentang kejadian setahun kemarin di Bandara Schiphol – Belanda. Saya kan pakai aplikasi Heyday di hape saya, nah aplikasi ini memberi notifikasi kalau ada kejadian tertentu di tahun lalu, beberapa bulan lalu dan lain sebagainya. Nah, kemarin itu, notifikasinya adalah untuk setahun kemarin, yang mana saya tiba di Bandara Schiphol Belanda dengan wajah kurang tidur. 😀

Jadi saya balik ke Indonesia itu memang di pertengahan Agustus 2014, setelah sebelumnya menunda mengambil cuti saya yang seharusnya di bulan Mei 2014. Kalau saya berangkatnya itu JKT – KL – PARIS – Monrovia, pas pulang ini saya lewat rute berbeda. Rute pulang saya itu dari Monrovia melalui Accra baru ke Belanda terus Singapura lanjut Indonesia.

Awalnya, saya tuh berencana mengambil cuti di bulan Juni 2014, berhubung cuti saya sudah bisa dipakai per Mei 2014. Tapi karena saya ada tugas menggantikan seseorang, akhirnya cuti itu pun ditunda. Ternyata, seperti kata banyak orang bahwa ada pelajaran dari setiap kejadian, penundaan cuti saya pun demikian. Ada hikmah dibalik kejadian penundaan kepulangan saya untuk cuti itu. Walau sebel melihat teman-teman yang lain sudah pada pulang cuti. 😀

Kejadian Virus Ebola di Liberia itu jadi membuat saya bisa pulang dan stay di Indonesia lebih lama. 😀 Kalau saja saya cuti sesuai waktu, mungkin saya sudah harus balik Liberia lagi di mana kondisinya masih ramai dengan Ebola dan akhirnya tidak bisa balik, seperti yang sempat dialami oleh beberapa teman kerja saya sih.

Pengalaman Pengecekan Bandara Super Ketat

Jadi sebenarnya bandara di Liberia itu bukanlah bandara besar, mungkin seperti bandara Ngurah Rai sebelum direnovasi. Nah, karena kondisi menyebarnya virus Ebola dan Liberia menjadi negara “penghasil” yang cukup besar, untuk yang mau masuk dan keluar Liberia itu pengawasannya ketat banget.

Pas saya mau balik itu, saya harus standby (berdasarkan informasi dari bos yang sudah jalan 3 hari sebelum saya), sekitar 2 jam-an biar gak kena masalah antrian. Eh bener aja dong, antrian di depan itu dah panjang banget. Jadi karena kondisi pengetatan pengawasan itu, kita yang mau berangkat gak boleh masuk langsung. Diatur sedemikian rupa hingga masuk satu-satu melewati pengecekan bandara super ketat.

Pertama, pas antrian itu saya disuruh isi formulir (yang sebenarnya sudah saya punya) yang isinya menyatakan kalau saya tidak mengalami panas dan menderita penyakit apapun. Terus pas dah dibolehkan masuk, saya harus cuci tangan dengan air yang sudah diberi antiseptik dulu. Sebelum masuk ke gedung bandaranya, ada suster yang standby.

Suster ini mengecek satu per satu telinga penumpang yang antri. Semua dicek berapa suhu tubuhnya. Kalau suhu tubuh lebih dari 37 derajat, gak boleh pulang. Syukurnya saya lolos (ya kan memang gak lagi demam). Check in deh. Pas check in itu sebelnya adalah semuanya kan masih gak secanggih di Indonesia ya (bersyukur banget karena tinggal di Indonesia yang lebih maju), jadi antriannya lama bangettttt.

Saya sengaja memilih wrapping full tas saya, karena pengalaman sebelumnya adalah dibukain sebelum masuk. Karena malas digituin, saya bayar aja $5. Setelah menunggu kurang lebih sejam, saya pun akhirnya check in, dengan drama putus koneksi segala pula. Masuk ke dalam, dicek lagi sama petugas imigrasi. Seharusnya sih lancar-lancar aja, toh mang gak ada yang aneh-aneh.

Tapi mereka memang agak mengincar orang-orang asing. Saya dah diingatkan sama teman yang lain. Jadi dah siap itu $1/$5 an di kantong. Saya hampir kena juga di lorong imigrasi ini. Semua dokumen dah lengkap lepas ini itu dan lewatin pintu metal detector juga oke-oke aja. Ya dasarnya si petugas mau duit, dibilang saya kurang lengkap dokumenlah ini lah itulah. Semua saya tantang di awal sampai dia gak bisa ngomong apa-apa.

Terus saya bilang, ini buat kamu, gak perlu bilang dokumen gak lengkap segala kok. Saya dah siapkan. Dia pun senyum sumringah dan menerima langsung. Saya pun jalan masuk ke bandara. Nunggu pesawat deh.

Siap Uang Receh Di Bandara

Saya pikir sih sudah beres ya… tapi ternyata. Ternyata, selama menunggu pesawat yang memang masih sejam lagi baru dateng, saya pun kena lagi. Small money oleh petugas bandara. Gak cuma saya sih. Kalau saya perhatiin itu yang dari Asia pasti kena, karena kelihatan banget kan bedanya. Berhubung wabah ebola itu, banyak orang Asia yang memang pulang saat itu.

Saya perhatikan malah ada satu orang dari Cina daratan (memang banyak orang Cina daratan di sana) yang diajak ke luar dan dimintakan uang beberapa kali oleh petugas. Saya sendiri diajak ke toilet – saya pikir saya dah mau diapa-apain coba di toilet. Wong sampe kunci pintu toilet gitu. Serem kannnn….

Dia bilang di tas saya (kali ini tas bagasi saya yang kena – padahal tadi dah lolos), ada barang yang tidak diperbolehkan. Jadi harus bongkar tas dan lainnya. Saya senyum lagi. Dan sama seperti yang sebelumnya, saya bilang: “This is for you… no need to tell me things about documents or bags problem.” $5 lagi deh. Dia pun senyum dan keluar. Saya kembali ke ruang tunggu.

kenangan setahun kemarin
Salah satu kumpulan foto di Liberia

Gak lama saya lihat petugas itu kembali deketin beberapa orang Cina daratan dan diajak ke luar lagi. Another small money deh. 😀 Kata bos saya (sekarang sih ex bos), yang pernah kerja di Indonesia pas tahun 70-an, kondisi Liberia itu mirip kondisi Indonesia 30 tahun lalu. Sekarang sih dah lebih baik di Indonesia. Yahhh… setidaknya ucapan itu membuat saya bersyukur karena dilahirkan di Indonesia dan jadi warga Indonesia (walau kadang tetep aja ada yang SARA ke saya karena mata).

Setelah nunggu beberapa lama, akhirnya pesawat pun datang (delay lohhhh) dan kami pun antri untuk masuk pesawat yang akan membawa saya ke Accra – persinggahan. Cuma satu dalam pikiran saya saat itu. Moga saya gak ditinggal sama connecting flight berikutnya – kalau ditinggal, gimana dong… gak ada duit buat beli tiket.

Bersambung ya untuk kelanjutannya sampai di Schiphol dengan keadaan super duper ngantuk dan gak mandi. 😀

Ini sih gara-gara heyday, jadi inget lagi deh kejadian setahun kemarin, mungkin di November akan diingatkan kejadian dua tahun kemarin (pas berangkat ke Liberia) hahaha.. Ya.. walau saya pulangnya tidak sesuai jadwal yang saya sudah rencanakan dan bikin bete banget pengen cuti (saat itu), tapi saya sepertinya malah memang diatur agar pulang lebih lama dari yang lain biar gak bolak-balik.

Banyak orang bilang kalau orang Indonesia itu positive thinking banget… abisnya setiap ada kejadian apapun, sekalipun buruk, pasti akan bilang: “untungnya….” Ya… walau untuk saya sih tetep kesel mengkel ngedumel dikit pas masih di sananya, pas sampai Indonesia cuma bisa bilang: “Untung cutinya mundur jadi Agustus….” 

11 Comments

    • Febriyan 26 Februari 2016
  1. gustyanita pratiwi 19 Agustus 2015
    • Febriyan 19 Agustus 2015
  2. Fahmi (catperku) 19 Agustus 2015
    • Febriyan 19 Agustus 2015
      • Fahmi (catperku) 19 Agustus 2015
      • Febriyan 19 Agustus 2015
      • Fahmi (catperku) 19 Agustus 2015
      • Febriyan 19 Agustus 2015
      • Febriyan 19 Agustus 2015

Leave a Reply