fbpx
Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

Local Brand Kalah Dibanding Produk Luar #SMESCONV

2 min read

local brand lebih keren dengan smesco dukungan pemerintah untuk ukm

Local brand kalah dibanding produk luar, kalau menurut kalian gimana? Saya pribadi sih masih meyakini local brand lebih keren dibandingkan produk luar. Dan tentunya gak kalah dengan produk luar. Gak sedikit produk lokal yang menurut saya memiliki kualitas gak kalah bagusnya dengan produk luar sana.

local brand lebih keren smesco dukungan pemerintah untuk ukm
Background picture by Nurul Noe

Sebut aja Batik. Coba siapa yang punya batik coba? Secara internasional aja udah dikenal sebagai warisan budaya Indonesia. Saya sih bakalan kaget kalau ada merk luar sana yang memasarkan batik ini. Batik adalah produk lokal kita dan memang sudah seharusnya kita kembangkan agar go international gitu.

Local Brand Lebih Keren

Memang untuk saat ini, brand-brand lokal untuk batik ini masih dipegang oleh beberapa pengusaha ternama Indonesia, seperti merk Batik Keris. Tapi banyak sekali pengusaha batik di Indonesia yang juga berusaha membuat batik ini untuk lebih terkenal dan membuat local brand yang lebih keren lagi.

Sebut saja, salah satu teman di Path saya, Gielang. Jejaka (masih gak ya) asli Garut ini aktif banget dalam memperkenalkan batik dengan brand AcukLa2ki melalui Instagram dan juga media online lainnya seperti path, line dan juga twitter. Saya sendiri sebenarnya lupa bagaimana bisa kenal dengan anak muda keren ini. Tapi satu yang saya lihat dan kagumi adalah semangatnya memperkenalkan dan memperjuangkan local brand miliknya ini.

A photo posted by AcukLa2ki (@acukla2ki) on

Mohon jangan salah fokus, lihat batiknya yak. Jangan lihat orangnya – lirik blogger princess satu itu. Modifikasi yang dilakukan untuk batik-batiknya ini menurut saya cukup keren dan membuat batik menjadi lebih trendi.

Dunia UKM Indonesia

Nah, Gielang ini sebenarnya sudah bisa digolongkan sebagai calon pengusaha, dia menjalankan Usaha Kecil Menengah (UKM). Dan sebenarnya Gielang juga mengalami yang namanya kesulitan sebuah UKM dan local brand lainnya adalah bersaing dengan brand internasional yang menyerbu Indonesia dalam era global ini.

Dukungan Masyarakat dan Pemerintah Untuk UKM Indonesia

Dukungan masyarakat dan pemerintah terhadap dunia UKM tentunya sangat dibutuhkan dalam hal ini. Dukungan dari masyarakat bisa dalam berbagai bentuk, salah satunya seperti yang dilakukan oleh duo travel blogger ini yang mengenalkan Local Brand melalui tulisan mereka. Atau ya dengan membeli produk lokal.

Satu hal yang sering saya temui soal beli membeli produk lokal adalah bahwa produk lokal itu harganya mahal. Dulu saya pun juga berpikir gitu. Daripada saya beli produk lokal dengan harga segitu, kenapa saya gak beli produk luar sekalian? Sekarang coba deh baca tulisan dari Mbak Katerina ini, betapa susahnya membuat satu kain songket.

You spend more time, materials, and other resources – means more cost – and it will make the price higher also. The question you need to answer is actually – is the quality worth for the price you pay?

Dalam sisi ini, pengusaha yang bergerak dalam bidang UKM ini pun juga harus berpikir ulang, bagaimana menghasilkan produk berkualitas bagus dengan harga yang lebih terjangkau. Yang harus diingat adalah Kualitas Barang Harus Nomor 1.

Pemerintah sendiri juga memegang peranan dalam mendukung Local Brand dari UKM-UKM ini. Salah satunya dengan pemasaran produk-produk UKM ini. Saat ini, tepatnya sejak Maret 2007, sebenarnya pemerintah telah membentuk satu lembaga, yaitu SIC – Smesco Indonesia Company. Tujuan dari lembaga ini adalah membantu mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia.

Di SMESCO ini ada gallery UKM yang menampilkan beragam local brand yang keren dan gak kalah dengan brand luar sana. Coba saja lihat dua produk lokal yang ada di Gallery UKM SME Tower ini.

Keren kan dukungan pemerintah untuk Dunia UKM Indonesia ini? Setidaknya itu yang terlihat dari yang menjadi tujuan dibentuknya SMESCO. Kalau mau tahu lebih detail mengenai Gallery UKM di SMESCO ini sendiri bisa baca di sini atau rangkuman tentang SMESCO di bawah ini:

local brand lebih keren - smesco dukungan pemerintah untuk ukm
Tentang SMESCO

Cara Local Brand Bersaing Di International

Jadi, menurut saya pribadi sih, local brand lebih keren dari produk luar atau brand luar, terutama untuk yang mengusung tema budaya local seperti batik. Atau juga produk dan jasa local seperti wisata Indonesia. Kita harusnya bangga dengan Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia. Banyak banget lokasi yang keren dan dicari oleh wisatawan asing. Baca deh Lokasi Diving di Indonesia Yang Patut Dikunjungi yang ditulis oleh Mbak Indah.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita, sebagai warga negara Indonesia mendukung Brand Local ini untuk bersaing dengan brand luar dan juga dukungan pemerintah. Dukungan pemerintah lebih luas juga mencakup infrastruktur, kebijakan ekonomi dan juga stabilitas keamanan untuk masyarakat. Semua itu juga diperlukan agar Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah di Indonesia bisa berkembang dan berjaya.

Kalau penasaran pendapat blogger lain tentang Local Brand Lebih Keren atau gak, bisa baca tulisan Mas Bartzap di Netizen Vaganza di Rumah Kreatif Bangsa. Dia menampilkan daftar lengkap siapa saja yang menulis tentang #SMESCONV ini.

PS: Makasih ya Mbak Nurul untuk foto Sepatu Batik dan Radio Cawang Klasik.

Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

34 Replies to “Local Brand Kalah Dibanding Produk Luar #SMESCONV”

    1. Makasih mas Bart dah diijinkan pasang link yang super informatif itu. 😀

      O iya tadi juga kelupaan, masalah paten. Paten produk lokal itu susah gak ya? Tiba-tiba kepikir aja gitu mas.

      1. Sama-sama mas 🙂

        Nah kalau soal paten, aku juga harus belajar lagi nih. Mungkin tidak sulit, tapi yang pasti untuk yang belum terbiasa akan terkesan ribet. Maklum lah, pasti ini urusannya dengan birokrasi. Semoga bantuan kepada UKM juga termasuk bimbingan untuk penyiapan dan pembuatan paten 🙂

  1. Kalau membicarakan local brand dan produknya, salah satunya Batik, saya lebih suka yang versi klasik daripada yang dikreasi-kreasikan, terutama untuk produk pria. Gak tau ya, rasanya lebih asik aja, meskipun ini relative dan masalah selera juga sih ya. Dan soal produk-produk local yang terkadang lebih mahal daripada import, sepertinya kita harus lihat dulu asal muasal produknya sebelum dibandingkan. Misalnya batik printing buatan cina yang diproduksi massal, jelas gak setanding jika dibandingkan dengan batik solo yang dibuat dengan tangan dan menggunakan pola batik klasik yang dipatenkan. Jadi dalam hal ini, memang kebanggaan pada produk dalam negeri lah yang harus ditumbuhkan. Selain memang daya beli pasar dalam negeri juga harus ditunjang dengan perekonomian yang lebih sehat. Dan perlindungan pemerintah sendiri terhadap produk-produk local. Kalau ekonomi kita bagus, pemerintah melindungi, saya yakin pasti kita juga lebih suka produk-produk local. Dan brand-brand local juga akan lebih terjamin dan bersaing di pasar dunia.

    Nice article mas, saya doakan menang ,,, dan tetap rajin menulis ya. Tetap ditunggu postingan selanjutnya 🙂

  2. memang tidak bisa dipungkiri ya mas kalau sebagian besar produk lokal yang berkwalitas harganya masih agak mahal, tapi kalau dilihat lagi dari segi material yang digunakan seperti contohnya kain tenun atau batik memang waktu yg dibutuhkan untuk mendapatkan satu lembar kain relative lama ,jadi otomatis berpengaruh pada cost produksinya. Ditambah lagi kebanyakan pengusaha lokal masih berkerja dengan tangan atau manual tidak seperti produksi masal yg mengandalkan mesin. Kalau saya pribadi malah suka produk lokal karena keunikannya ini, pengerjaan manual dan motif kain hasil tenun akan selalu berbeda setiap kali dibuat jadi dengan kata lain produknya tidak akan ada yg sama persis.

    1. Bukan masa production ya Mbak. Jadi masing2 punya keunikan ya. Justru di sana yang bikin cost naik kan ya. Kalau pd tahu kondisinya gt hrsnya ok dg local brand itu ya mbak.

  3. Padahal sebenernya banyak banget Yan produk lokal yang sudah berhasil grab pangsa pasar dunia dan jauuuh lebih oke. Hihihi. Semoga menang ya. Btw ini sampe kapan sih kompetisinya?

  4. Emanglah agak lama saya mandangin model diatas *emak gagal mup on* hahaha.
    Dan objek UKM ini seolah jadi ajang petarungan antara brand dalam negeri sama luar negeri. Yang modalnya besar sih ga jadi masalah, ini yang modalnya kecil-kecilan “seringkali” jadi produk penawaran saja, alias cuma ditawarkan tanpa diimbangi kualitas.

    1. Hahaha. Mbak Yulia… masih blm bisa move on mbak? Banyak di IG-nya mbak itu foto2nya.
      Kondisi yang memang harus diperhatikan mbak. Untuk bisa bersaing butuh modal. Dan akhirnya berkorban kualitas yang pada waktunya nanti justru merugikan si UKM ini ya mbak.

  5. Jika harga lokal dan luar itu sama, saya lebih prefer ke lokal. What for pake luar? Hanya untuk bisa say, hii ini produk luar loh! Hmm dibandingkan membeli tas merk H, C, LV dll yang kualitas KW aja 500rb trus bangga selangit, saya mending beli DOWA yang harga sama, limited dan gak pasaran. Ada pride tersendiri bagi saya menggunakan local brand.
    Dan masalahnya masyarakat kita terkadang menganggap : kok mahal bener tu batik? Tanpa tahu bahwa batik mahal itu karena handmade (cap atau tulis), pengerjaannya tidak lama cyiiin! Begitu juga soal tenun dan songket, pada protes mahal, hikz sungguh jika lihat prosesnya pasti akan mengamini jika harga segitu worth it loh!
    Saya memiliki online shop yang jual kain lokal yang handmade dalam artian cap, tulis dan tenun. Saya sih say no to printing untuk online shop saya. Memang dilema juga akan harga, tapi saya yakin local brand itu bisa bersaing dan kualitasnya gak kalah kok sama luar.
    Satu sisi edukasi tentang local brand ini penting biar budaya kapitalis gak terlalu meraja, dan generasi kita lebih menghargai karya bangsa. Sisi lain, perlunya awerness dari pemerintah juga untuk merangkul para UKM ini.

    Think global, wear local. 😉 viva local brand!

    Nice sharing mas! sorry kepanjangan nih udah semi curcol hahahahha

    1. Wahh. Mbak Ranny semangat sekali. Bacanya juga jadi semangat banget ini mbak saya. Hidup produk local.
      Tadi saya share ke path, ada juga yang komen: “pada gak tahu aja kalau brand luar bikinan sini juga – cuma karena brand aja jadi wow.”
      Memang lihat pembuatannya suka sedih mbak. Itu bikinnya gak gampang dan worth lah kalau sampai lihat cara pembuatannya ya.
      Tetap semangat ya mbak untuk online shop-nya. Kok jadi keinget The Bankers ya… 😀

  6. mas ryan, ini buat ikutan kompetisi ya ? semoga berhasil ya 🙂
    mau komen ttg ini, eh uneg unegku udah diwakili sama Mas Gara 😛
    iya, gak memungkiri kalo produk lokal yang bagus kalah duluan dalam segi harga ama produk luar. maksudku, orang awam kebanyakan beli sesuatu ditimbang dari harganya dulu, masuk apa engga sama budget. *tunjuk diri sendiri* dan ituuu..produk lokal yang bagus duh harganya rada lumayan 🙂

  7. Ini diikutkan di lomba blog itukah Mas? Kalau iya, semoga menang ya :hehe.
    Paradoksnya menurut saya memang di sana sih, di satu sisi kita mesti membeli produk lokal sebagai wujud nasionalisme, tapi di sisi lain harga produk lokal tidaklah murah, kalah bersaing dengan produk luar yang serupa dan harga lebih murah. Antara nasionalisme, dan ekonomi, menurut saya buat sekarang kompromi orang pasti lebih ke ekonominya. Dengan demikian kita perlu jalan keluar, mau “memaksakan” nasionalisme dengan menjadikan negara diktator dengan memblok barang luar, atau “memperbaiki” ekonomi dengan menambah pemasukan, lapangan pekerjaan, dan segala macam. Tapi bagaimana mau menambah lapangan pekerjaan kalau industri kecil saja tak berkembang lantaran gempuran produk luar?

    Jadinya semacam lingkaran setan sih.

    1. Coba-coba ikutan aja Gar. 😀 hehehehe. Makasih ya.
      Nah itu dia Gar, memang paradoks yang agak susah, kecuali sampai ada yang bisa menggebrak dan melepas lingkaran itu.
      Makanya dukungan pemerintah itu diperlukan banget di samping tentunya kita sebagai warga melakukan dg yang kita bisa. Seperti kamu misalnya, nulis soal sejarah dan budaya Indonesia itu kan juga dah mengangkat local brand yang lebih keren itu Gar. Saya masih belum sampai ke sana nih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *