[Adv] Netflix dan Derasnya Persaingan Video on Demand di Indonesia

Follow my blog with Bloglovin

Siapa yang pernah dengar video on demand bernama Netflix? Video on demand (VoD) adalah layanan yang paling banyak dibicarakan pada 2016. Layanan yang memungkinkan kita menonton film favorit menggunakan pulsa maupun paket internet itu memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat.

Indonesia jelas menyambut baik layanan VoD ini. Bila sebelumnya netizen mengalokasikan kuota dalam paket internet mereka untuk streaming musik, kali ini pulsa yang dimiliki dialokasikan untuk layanan VoD. Buktinya, ada banyak sekali layanan streaming video on demand yang membanjiri Tanah Air. Fenomena ini sekaligus menggeser popularitas streaming musik yang tampak mendominasi pada tahun sebelumnya. Di antara sekian banyak layanan, Netflix adalah yang paling pertama dibicarakan.

nasib netflix indonesia - persaingan video on demand

Netflix

Baca juga: Malam Minggu Jomblo – Nonton Youtube aja

Kita tentu masih ingat bahwa ketika 2016 baru berusia beberapa hari, timbul berbagai pemberitaan tentang upaya Telkom menghadang Netflix. Alasannya, Netflix tidak memenuhi regulasi di Indonesia. Akibatnya, akses Netflix diblokir.

Kemenkominfo lantas bertindak. Rudiantara saat itu meminta Netflix untuk mematuhi regulasi terkait di Indonesia. Regulasi menuntut Netflix untuk mengurus izin sebagai Badan Usaha Tetap (BUT) sehingga ia harus memiliki kantor di Indonesia, merekrut tenaga kerja lokal, dan membayar pajak.

Sayangnya, ujian Netflix tidak berhenti sampai di situ. Ekspansi yang dilakukan di 130 negara memang membuahkan penambahan pelanggan yang menggembirakan. Namun, ekspansi ini ternyata menekan pertumbuhan layanannya. Di Amerika Serikat, Netflix bahkan menaikkan biaya berlangganannya. Peningkatan ini kemudian juga dilakukan di pasar global secara bertahap.

Persaingan Deras Video On Demand!

Pesaing adalah tantangan Netflix selanjutnya. Lihat saja HOOQ yang menyusul layanan VoD asal Amerika tersebut ke Tanah Air setelah menyambangi India, Filipina, dan Thailand. Penyedia VOD asal Singapura ini HOOQ menyediakan tiga jenis kualitas streaming pada layanannya, yaitu High, Medium, dan Low. Kualitas streaming bisa disetel agar adaptif terhadap kecepatan jaringan internet yang ada.

Selang beberapa bulan, VuClip hadir demi meramaikan persaingan. Mengandalkan layanannya yang bernama Viu, perusahaan asal Hong Kong ini mengandalkan kelengkapan konten serial drama Korea terbaru, sinetron, dan film India. Drama Korea bahkan benar-benar digarap dengan serius dengan cara menggandeng empat studio besar dari Negeri Ginseng. Empat studio tersebut adalah KBS, CJ, SBS, dan MBC.

Baca juga: Cara Membuat Visa Korea Terbaru

Viu masuk ke Indonesia melalui kerja sama dengan Telkom. Hal ini membuat pelanggan IndiHome bisa menikmati Viu gratis secara otomatis selama satu bulan.

Namun, bukan Viu saja yang memanfaatkan Telkom sebagai rekan bekerja sama. iFlix yang kemudian masuk pun melakukan hal serupa. iFlix bahkan merangkul Indosat rekan lainnya. Katakanlah kamu membeli pulsa melalui Traveloka untuk dikonversi menjadi paket internet. Nah, paket internet Indosat yang kamu beli dari Traveloka itu akan membuatmu mendapatkan kuota tambahan sebesar 10 GB yang akan digunakan untuk streaming iFlix. Kamu pun juga bisa membeli paket internet langsung dari Traveloka, sehingga tak perlu mengonversi dari pulsa.

Namun, Traveloka juga membuka layanan untuk penyedia layanan paket internet lainnya. Telkomsel, Tri, XL, Bolt, dan Smartfren adalah provider yang turut bekerja sama dengan aplikasi terfavorit untuk urusan liburan ini.

traveloka connectivity

Traveloka Connectivity via traveloka.com – cara top up pulsa baru untuk penikmat video on demand

Nah, ketika banyak layanan streaming menyiarkan tayangan dari luar negeri, Mox justru melakukan langkah terbalik. Perusahaan ini justru berupaya menyediakan layanan streaming khusus konten lokal. Selain bertujuan meraup rupiah, Mox tampak ingin melestarikan film-film Indonesia sekaligus mengurangi pembajakan.

video on demand film indonesia - mox

Mox – penyedia video on demand lokal Indonesia – sumber: dailysocial.id

Layanan yang lahir pada Juni 2016 lalu ini mengklaim telah memiliki lima ratus judul film Indonesia. Untuk dapat menikmati konten yang disediakan, pengguna dapat membeli film yang diinginkan. Harga yang diberikan untuk setiap judul film adalah Rp15.000 untuk tujuh hingga tiga puluh hari. Lamanya rentang waktu untuk menikmati film tergantung dari tahun produksi.

Menginjak bulan Oktober, strategi baru layanan Video on Demand muncul. Catchplay hadir sebagai layanan yang mengupayakan kecepatan dalam menyajikan layanan VoD. Maksudnya, pengguna hanya membutuhkan waktu dua-tiga hari untuk dapat menikmati film-film terbaru.

Menghadapi Persaingan (Video on Demand) Sedemikian Derasnya, Apa Kabar Nasib Netflix?

Nasib Netflix rupanya berubah pada caturwulan ketiga 2016. Perusahaan VoD itu mengumumkan bahwa strateginya berhasil membuahkan 3,57 juta pengguna baru berbayar. Angka ini lebih besar dari perkiraan sebelumnya yang memproyeksikan pertumbuhan sebanyak 2,3 juta pengguna. Secara global, total pengguna berbayar Netflix mencapai 86,74 juta pengguna. Pendapatan yang dihasilkan? US$2,29 miliar (sekitar Rp30 triliun)!

Pada akhirnya, 2016 memang tahun yang manis bagi Netflix, baik di Indonesia maupun seluruh dunia. Video on Demand jelas menjadi layanan internet paling bersinar pada tahun ini. Meskipun tersendat-sendat di awal, menghadapi persaingan yang luar biasa di pertengahan, Netflix berhasil survive dan meraih manisnya profit di akhir.

Advertisements

8 Comments

  1. Aa Indra 30 Januari 2017
    • Febriyan 31 Januari 2017
  2. dani 29 Januari 2017
    • Febriyan 30 Januari 2017
  3. gambar kupu kupu 27 Januari 2017
    • Febriyan 27 Januari 2017
  4. Arman 21 Januari 2017
    • Febriyan 21 Januari 2017

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: