fbpx
Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

Review Film Di Balik 98: Mengupas Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 Besutan Perdana Lukman Sardi

4 min read

Review Film Di Balik 98: Mengupas Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 Besutan Perdana Lukman Sardi 1

IMG_6338Malam minggu sendirian? Gak masalah kan. Bisa nonton bareng keluarga. Inilah yang saya lakukan barusan. Nonton sama mama, kakak dan suaminya di Plasa Cibubur. Nonton apakah kami tadi? Tak lain dan tak bukan adalah sebuah film Indonesia besutan Lukman Sardi. Fim “Di Balik 98” dengan latar belakang kerusuhan Mei 1998 itu.

Siapa sih yang tak kenal dengan nama Lukman Sardi? Begitu banyak film yang dia sudah bintangi, seperti yang terakhir saya nonton 7 Hari 24 Jam dan yang memorable salah satunya adalah Rectoverso, yang masuk dalam list film yang saya suka.

Film ini, seperti judulnya, berkisah tentang apa yang terjadi di 1998 lalu. Kerusuhan Mei 98. Masih ingatkah? Kenapa Lukman Sardi mengambil film ini sebagai film pertamanya sebagai sutradara?

Berikut cuplikan wawancaranya yang saya dapatkan di cineplex21.com terkait alasan membuat film Dibalik 98 ini:

“Banyak jendela untuk melihat suatu peristiwa. Kita kan hanya melihatnya kerusuhan, tetapi film ini lebih mengangkat konflik drama dan keluarga. Mereka itu yang terlibat kerusuhan, juga punya keluarga, punya kehidupan, punya kisah percintaan.

Itulah yang coba divisualisasikan di film ini namun tetap dengan latar peristiwa 98 itu,” ujar putra dari Idris Sardi tersebut di acara Ramah Tamah Media Dibalik 98 di Hanamasa, Mahakam, Jakarta Selatan, Kamis (18/12) malam.

Plot/Cerita Film Di Balik 98

review film di balik 98 - film dengan latar belakang kerusuhan mei 1998 karya lukman sardi
Di Balik 98 – Ada apa di balik kerusuhan Mei dari mata Lukman Sardi

Kalau mau tahu sinopsis film ini lebih detail, klik link judul di atas ya. Kalau kita mendengar Mei 98 itu, pasti banyak peristiwa yang berlarian dalam ingatan kita. Sebagian besar dari kita pasti memiliki pengalaman mengenai waktu itu. Karena itulah, film ini tidak mengambil secara keseluruhan. Film ini berfokus pada beberapa tokoh saja.

Adalah Diana (Chelsea Islan), seorang mahasiswi Trisakti yang turut prihatin dengan keadaan Indonesia kala itu. Kurs yang melonjak dengan sangat tajam (dari Rp 2,500 – 16,000), ikut dalam demo yang diselenggarakan di kampus itu.

Dia bersama dengan Daniel (Boy William), pacarnya, ikut serta dari awal di kampus Trisakti hingga akhirnya turun ke jalan yang berakhir dengan meninggalnya 4 mahasiswa.

Kisah mereka dan yang di sekitar mereka berdua inilah sebenarnya yang diangkat, yaitu tentang kakak iparnya, Bagus (Dony Alamsyah) dan istrinya (Ririn Ekawati). Bagus bekerja sebagai anggota ABRI sedangkan Salma, sang kakak – istrinya Bagus, adalah petugas Istana Negara.

Bahwa adanya kontradiksi di mana Diana terlibat dalam demo sedangkan sang kakak dan ipar bekerja pada pemerintahan, sudah terlihat dari awal film. Salma yang sedang hamil berusaha membujuk Diana untuk tidak ikut dalam demo, bahkan sempat menghasilkan pertengkaran dengan Bagus.

Berbeda dengan Diana, Daniel adalah warga keturunan Tionghoa yang sejak kecil sudah tinggal di Jakarta (bahkan ayahnya juga dilahirkan di sini). Sudah tahu dong kalau warga keturunan saat kerusuhan saat itu menjadi target. Termasuk Daniel dan keluarganya, hingga akhirnya mereka harus meninggalkan Indonesia. Daniel kembali ke Indonesia di tahun 2015, karena sang ayah memintanya untuk menaburkan abu jasadnya di tempat dia dilahirkan.

Di saat kerusuhan terjadi, Diana termasuk yang berada di barisan depan. Karenanya Salma merasa khawatir hingga akhirnya mencoba menyusulnya. Namun karena kerusuhan itu, dia diturunkan di tengah jalan. Dan mengalami kerusuhan itu di depan matanya. Bahkan dia melihat tindakan pemerkosaan tanpa bisa berbuat apapun hingga akhirnya dia pingsan.

Review Film Di Balik 98: Mencoba Memahami Kerusuhan 98 yang MenakutkanΒ 

review film di balik 98
Review film Di Balik 98

Film ini juga menampilkan sederet bintang film yang tidak tanggung-tanggung untuk memerankan tokoh-tokoh pemerintahan saat itu. Presiden Soeharto, Habibie, Wiranto, Yudhoyono, dan lainnya.

Di antara ini semua saya kagum dengan akting pemeran Soeharto dan Habibie (saya tidak tahu nama aktor yang memerankan). Mereka menampilkan kedua tokoh ini dengan baik.

Soeharto jarang berdialog (kecuali saat-saat terakhir film), namun kita merasakan apa yang ada dalam hatinya lewat gerakannya. Habibie, semua karakter dari mantan Presiden ke-3 kita ini ditampilkan dengan baik.

Kemudian ada juga dua tokoh yang sepintas lalu bukanlah tokoh yang akan diingat orang.

Seorang pemulung dengan anaknya. Pemulung ini ada di tengah-tengah demo. Mencerminkan kalangan bawah yang sebenarnya tidak memahami terlalu banyak tentang apa yang terjadi di dunia perpolitikan kita.

Dalam satu adegan, saat mahasiswa baru mau menuju gedung DPR-MPR dan dihadang ribuan polisi, dia berkata pada anaknya:

Mungkin sedang ada yang ulang tahun Nak. Kita tunggu saja, kita akan dapat nasi kotak.

Inilah kenyataannya. Banyak orang yang sebenarnya tidak memahami apa yang sebenarnya diributkan. Namun mereka “diperbudak” dengan kata demi kata sehingga mudah diprovokasi dengan iming-iming tertentu. Menyedihkan sih tapi inilah kenyataannya.

Hal ini diangkat oleh Lukman Sardi dengan apik. Namun dengan ending menyedihkan bagi sang rakyat jelata. Tentunya kalian gak mau spoiler kan karenanya saya tidak menyebutkan endingnya di sini.

Bagaimana dengan Diana, Daniel, Bagus dan Salma? Happy ending? Saya bisa bilang bahwa endingnya cukup happy.

Kisahlah Inti dari Film Ini

Secara akting di antara ke-4-nya, saya suka dengan Chelsea di sini. Di film Merry Riana, dia memerankan juga salah satu “korban” kerusuhan. Di sini dia menampilkan dirinya yang tak bermake-up ria (gak ada iklan untungnya di film ini) dan berlari-larian. Kenapa saya suka akting dia di sini? Karena akting yang lainnya bagi saya kurang. Hahaha…

Yang saya suka banget sebenarnya adalah kisahnya. Bagaimana Lukman Sardi ingin menunjukkan bahwa di antara orang-orang yang terlibat kerusuhan itu, masih ada orang baik di antaranya.

Masih teringat dalam benak saya, ketakutan yang saya alami bersama keluarga karena kami keturunan Tionghoa. Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SMEA.

Pulang dari sekolah, sore itu, sangat takut rasanya. Walau sekolah dekat rumah, namun dalam perjalanan saya juga takut. Apalagi belum tahu di mana kakak perempuan saya saat itu, mama yang sedang bekerja di Kebayoran, koko yang juga kerja. Cici dan koko pulang jalan kaki. Untungnya teman kantor mereka baik, menemani mereka hingga dekat rumah.

Di film ini, apa yang dialami keturunan Tionghoa digambarkan tidak secara gamblang dari sisi Daniel dan juga apa yang disaksikan Salma. Bagaimana Salma sebenarnya ingin menolong dan sudah mencoba menolong. Akan tetapi tak berdaya menghadapi para lelaki itu, apalagi dia sedang mengandung saat itu. Kebaikan dari sisi antar umat di Jakarta ditunjukkan dengan indah oleh Lukman Sardi.

Saya yakin dia sengaja menampilkannya karena ingin mengatakan bahwa tidak semua bisa digeneralisasi. Umat muslim (dan pribumi – kata yang sangat didengungkan saat itu) masih ada yang peduli, tak melihat suku, ras, agama. Keluarga Daniel dan Daniel diselamatkan oleh salah satu dari mereka. Dan Salma yang pingsan, diselamatkan oleh seorang nenek keturunan Tionghoa. Inilah nilai yang membuat saya terharu.

Dan nilai lain yang ingin diangkat Lukman Sardi dalam film ini adalah bahwa reformasi yang didengungkan saat itu seakan tak ada artinya saat ini. Seberapa yang kita sudah berhasil reform dari kondisi saat dulu? Masih banyak yang perlu diperbaiki dan nilai reformasi yang didengungkan dulu berubah maknanya. Ini yang ditunjukkan dalam adegan ending film ini.

Secara keseluruhan, saya memberi film ini 3,5 dari 5 bintang.

Bagi yang mau menonton, berikut saya pasang trailer film ini yang saya dapatkan dari Youtube.

  • Alur/Plot
  • Visual Efek
  • Akting
3.5

Ringkasan Review Film Di Balik 98

Kerusuhan Mei 1998… ini yang coba diangkat oleh Lukman Sardi dari balik lensanya. Dia menjadi sutradara film Di Balik 98 ini bukan tanpa alasan. Sebuah film yang dirasa menjadi bagian tak terpisahkan bagi warga Indonesia. Bagaimana dan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Lukman Sardi melalui film ini?

Sending
User Review
1 (1 vote)
Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

110 Replies to “Review Film Di Balik 98: Mengupas Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 Besutan Perdana…”

  1. Lah kamu orang cibubur juga?
    Gw taun 98 masih SMP, kelas 2 kayaknya mau naik kelas 3.
    Sekolah di liburin dan gw langsung jalan ke emol. Sungguh bodoh, karena emolnya kemudian ditutup tengah hari dan emak gw ngomel-ngomel takut anaknya kena kerusuhan.

    1. Iyaaa Cibubur. Di sana juga ya Mba? Akhirnya ada kenal org Cibubur juga… hiks.
      Waduhhh. masih berani mau jalan ke mall juga ya. πŸ˜€

      1. Gw deket kranggan situ yan, lu dimenoong?
        Maklumin dah namanya anak ingusan, libur dikit bawaanya kabur ke emol.
        Plaza Cibubur belom ada sih taun segitu, Cibubur masih sepiiii..

  2. Sebenernya gw kurang begitu suka sama bioskop indonesia. tapi baca review mas ryan jadi pengen nonton nih. di bioskop masih tayang nggak ya..

    Untungnya waktu kerusuhan gw ikut nyokap di jawa jadi ngga begitu kena dampaknya, lagipula zaman segitu baru masuk kelas 1 SD jadi belum tau apa-apa. mas ryan udah kelas 2 sma, berasa bocah banget gw mas hehe

    1. Duh… baca komenmu malah makin merasa tua dah Fer. hahahaha. Di Jawa ada juga kan Fer kerusuhannya walau tak sebesar Jakarta.
      Ayo nonton. Masih ada kayaknya. Cuma gak tahu, Rabu ini bakalan diganti gak ya.

      1. film indonesia dan bagus itu suka cepet turun ya dari bioskop ><

        testimoni soal BECkah? sudah ditulis minggu kemarenkan πŸ˜€

  3. Reviewnya keren soalnya saya jadi penasaran nonton filmnya :hehe.
    Mas, waktu 1998 sudah kelas 2 SMA? Wah :hihi
    Saya cuma ingat 1998 adalah saat kami berempat tidur di rumah gara-gara ketakutan terus ada bunyi tembakan dan kami berempat entah kenapa kaget terus kepala kejedot semua di dinding. What a day, huhu.

    1. Gak kok Mbak. Review film yang sebelumnya (2 terakhir) itu kan repost. Br ini aja yang ntn. Dah lama gak ntn aku juga. Hehehe.

      Moga dapat mba di sana

      1. Kalau dah nonton review ya Mba. Jangan cuma film luar yang di-review karena rotten tom*
        Kabur ah sebelum dijitak.
        Eh maaf mba. Blm BW ke blogmu. Dah publish kah?

      2. Hahaha…iya nih maap saya cinta bangsa dan produknya tapi belum sold on the movies. Baru very few. Udah tadi tgl salah schedule wkwkwkwk pantesan ga keluar2 pdhl hrsnya nongol jam 7pg

  4. Omong2 soal Chelsea Islan, langsung keinget acting dia sbg Bintang di Tetangga Masa Gitu πŸ˜†

    Btw, reviewnya kereeeen … Jadi kebayang ngerinya situasi tahun segitu. Tahun 98 kan masih kelas 3 SMP, jd ga banyak ngikuti berita, tahu2 ada mahasiswa yang gugur dan ada temen sekolah yg disuruh libur gara2 kondisi masih tidak aman untuk mereka.

    oiya, yg mencuri perhatian di trailernya itu Dony Alamsyah yg jadi tentara #blush

    1. Iya. Dia di TMG itu lucu. Agak corky tapi menggemaskan. Hahaha. Palagi disandingkan ma pasangan aneh sebelah.

      Wewww. 3 SMP. Kayaknya salah deh panggil Mba selama ni. *tutup muka.
      Hahaha. Wajar kok kalau dia yang diliat. Btw ada Fauzi Baadilah juga jd tentara. Anak buahnya

  5. Hadeuh jadi inget jaman2 kuliah, tiap hari kerjaan demo di gedung sate, teriak2 “gantung soeharto” eh ternyata saat Beliau meninggal akang sendiri yang memeriksa darahnya. Menetes air mata akang saat melapor hasil ke perawat dan mendapat kabar bahwa Pak Harto telah meninggal.

      1. Iya ngeri banget, padahal kan jauh ya tapi tetep parno ngebayangon gimana kalo toko deket rumah yang dibakar juga dan gimana kalo sampe kalo pas aku pulang sekolah diculik *ya ampun..waktu SD udah deramah… πŸ˜›

      2. Hahaha. Baru ngeh sekarang ya kalau dr dulu sudah deramah.

        Tapi wajar kok. Memang mengerikan. Jadi wajar berpikir macam2. Apalagi dulu sempat menyebar ke seluruh negeri.

      3. Terus sempet kepikiran juga ntar kalo kuliah hrus siap demo demo gitu buat membela negara, eh pas kuliah sih boro boro, dosen sepuluh menit ga dateng aja tinggal pulang tidur,muahahahaha

  6. Reviewnya keren Yan, gak beda kok. Ade sotoy. Huehehehe.
    Inget jaman itu serem banget. Gw masih awal-awal SMA apa ya. Ngeri. Merinding deh. Btw gw sukak BANGET ama si Chlesea ini. Seger lihatnya. πŸ˜€

      1. Gak suka nonton sendiri ya Nit?
        Gw sih kadang nonton sendiri. Apalagi film Indonesia. Temen gw bukan penggemar film Indonesia dan beberapa gak mau bayar segitu mahal buat nonton film Indonesia.

  7. mengingat judulnya aja aku jadi sedih jangan sampai deh dua kali kejadian spt ini, kurasa aku tak mau nonton film ini, pahit banget

    kita yg cuma lihat di tv was2,
    tp aku lihat gerobak pemulung yg bawa jarahan dari pasar, suasana malam juga mencekam krn sempat kedengaran kabar rombongan penjarah hampir mendekati wilayah kami,
    untungnya itu cuma kabar bohong

    1. Trauma ya Mba. Ada yang khususkah?
      Memang penjarahannya parah banget mba. Saya ingat. Dekat rumah ada mall, gak deket2 banget sih, berasa. Juga yang kejadian di mall di bilangan pondok kopi itu. Gak terlalu jauh. Denger yang terjadi bikin sedih.

      Mamaku awalnya jg gak mau nonton mba. Dia bilang, cuma mengingatkan soal pemerkosaannya dan kejadian menyakitkan bagi keturunan.

      Untungnya. LS berhasil, menurut saya menggambarkan bahwa itu balik lagi ke orangnya masing2.

      1. nggak ada yg khusus sih Ryan,
        saat kejadian aku malah lagi sakit tiphus, jadi nggak kerja dan di rumah aja
        cuma aku sedih liat bangsa ini jadi brutal dan begitu banyak kejadian menakutkan, ada teman yg lari dan nggak pernah kembali ke sini
        pdhal dia orang baik
        kemarin aku lewat pondok rangon dan lihat plang petunjuk arah makam korban masal tragedi 98, itu aja udah menyeramkan banget buatku

      2. Iya mba. Banyak yang lari dan gak mau balik lagi. Mereka punya uang utk itu. Tapi dikecam juga karena lari itu, dianggap tak nasionalis lah.
        Moga gak akan ada kejadian seperti ini lagi ya mba.

  8. Pengen nonton ini.. secara diriku waktu itu asih smp dan dibully dari org kecil ampe dewasa gara2 namaku tutut ._. Makanya walo diharuskan pake name tag di seragam, aq gk pernah mau…

      1. Orang2 itu kreatif kalo ngebully.. mulai dari suara kentut lah.. kereta api lah.. sampai akhirnya tahun 98, gw dibullly gr2 nama mirip..

        “Eh ad anaknya pak harto.. gimana kabar tommy? Mau korupsi apa lagi?” Atau “males ah temenan ama anak koruptor”

        Hiks.. salah apa sih gw???

      2. Bully seperti itu. Mereka pikir mereka bercanda, no harm feeling. Tapi sebnarnya, bully seperti itu lebih berbahaya ya Ecchan. I am really sorry hearing you experience thing like that.

      3. Yeah.. verbal bullying itu lebih berbahaya. Makanya dulu sempet pake nama “widhi” kalo kenalan ama orang.. trus demi menjauh dari temen2 sd-smp, aq sengaja pilih sma jauh dri rumah, di tengah kota.. alhamdulillah anak2 sma gak rese seperti temen sd-smp hehehehe..

        Dan berkat mereka juga, aq jadi bangga pake nama tutut.. hihihihi

      4. Wah. Sepertinya cerita yang menarik nih. Ada postingannya kah? Kalau belum ada aku tunggu loh (linkback kalau bisa).

        Verbal bullying. Aku pernah nonton beberapa video di youtube terkait ini. Dan sangat sedih loh nontonnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *