fbpx
Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

Social Media

2 min read

Social Media 1

 just open it, tweet it, check in, upload to IG, post on FB and Path… 

anything else?

 Siapa yang memahami kata-kata di atas, mungkin yang memang memiliki semua aplikasi di atas. Dan mungkin termasuk yang eksis. Saya gak mempermasalahkan kok. Semua itu kan hak masing-masing orang. Apalagi dengan kecanggihan handphone yang pintar itu sekarang. Semua bisa terkoneksi dengan cepat dan mudah.

Yup… hanya cukup tekan satu kali… kita bisa share ke semua. Saya pun termasuk yang mempunyai akun sosial media. Mulai dari Path, FB, IG, Twitter, Pinterest (ini termasuk gak?), WordPress, dan lain-lain. Kemudahan yang saya bilang misalnya dengan saya mempost ini, akan otomatis masuk ke dalam Path, Twitter dan FB saya. Hanya cukup satu kali tekan Publish… semua akan masuk.

Dan tak jarang dari kita yang menghabiskan waktu dengan handphone pintar kita itu. Bahkan kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk itu dibandingkan menghabiskan waktu berinteraksi dengan teman, keluarga dan lainnya. Siapa sih yang gatal ingin membuka Path saat lagi meeting? Atau pas lagi kumpul sama teman-teman, kongkow cantik kalau kata Mas Dani, buka twitter dan kemudian terbahak-bahak sendiri. Atau pas lagi arisan keluarga malah asik dengan IG masing-masing.

Well, saya pun juga tak menyangkal kok. Saya mungkin termasuk dalam daftar orang-orang itu. Dan saya menganggap diri saya sendiri juga addict. Tapi gak cuma terhadap social media ya kalau saya… juga terhadap game yang ada di handphone pintar itu. Beberapa kali malah keasikan main hingga lupa kalau sudah waktunya berangkat kerja (ini parah… jangan ditiru).

Teknologi 

Ingatkah ada tagline iklan berbunyi “teknologi yang mengerti Anda.” Dan sepertinya memang teknologi dibuat sedemikian rupa hingga membuat kita nyaman. Bahkan sangat nyaman dengan kehadirannya. Ya, handphone pintar itu salah satu contohnya. Semua bisa diakses dari satu alat itu.

Nyasar? Tinggal buka google dan tanya ke sana. Arah mana yang harus diambil. Google akan mengarahkan kita dengan map-nya. Ingin chatting dengan teman-teman yang jauh di sana, bisa tinggal buka Skype, Whatsapp, Viber, Blackberry Messenger, Line dan lainnya. Tinggal pilih, mau chat pesan ataukah telepon atau mungkin video call. Memudahkan kita kan?

Inilah teknologi. Dua sisi mata uang. Di satu sisi, teknologi artinya kemajuan bagi kita yang menggunakannya. Siapa yang tidak terbantu dengan adanya aplikasi-aplikasi chatting dan video call seperti yang saya sebutkan sebelumnya? Saya sendiri sangat merasa terbantu. Apalagi saat saya bekerja di benua Afrika sana. Really help. Memudahkan saya tetap berkomunikasi dengan keluarga, teman dan rekan kerja yang ada di Indonesia.

Namun di sisi lainnya, teknologi ini juga menjauhkan. Ingat beberapa waktu lalu ada ungkapan: “mendekatkan yang jauh – menjauhkan yang dekat.” Yup. Seperti itulah sisi lain dari teknologi ini. Siapa yang pernah lihat, sebuah keluarga sedang makan di restoran mewah. Makanan terhidang di hadapan mereka. Eh tapi ternyata mereka diam-diaman. Bukan… bukan karena marah-marah. Tapi karena masing-masing asik dengan handphone pintarnya. Ayah lagi buka e-trading, sahamnya harus dipantau. Ibu sedang membuka toko busana online. Anak gadis sedang chatting dengan pacar. Adik kecil sedang bermain game kesukaannya. Makanan pun jadi dingin. Tak disentuh sama sekali.

Menyedihkan? Iya. Tapi ini adalah nyata. Tak jarang kan kita menemukan ini. Atau bahkan kita sendiri termasuk pelaku dalam hal seperti ini. Berikut ini ada satu video yang saya dapatkan dari teman di group WA saya. Nice video. And worth to watch.

Saya juga sempat nonton video relatednya, yaitu Youtubers React. Di sana video yang sudah ditonton lebih dari 40 juta orang ini dibahas oleh beberapa orang yang memang tugasnya itu membahas video-video di youtube. Nah, dari beberapa orang ini, reaksinya pun macam-macam.

Ada yang bilang kalau video itu baik sekali. Inspiratif. Dan patut ditonton dan disebarluaskan. Ada juga yang bilang kalau tidak mungkin tinggalkan handphone di rumah seperti dalam video. Tidak mungkin tanpa teknologi. Dan juga mengatakan bahwa agak ironi bahwa video ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu fokus dalam social media, tapi video ini sendiri disebarkan melalui social media (so true).

Tapi di luar dari penggunaan social media untuk penyebarannya, video ini pada dasarnya memang baik. Bagus. Mengingatkan kita yang mulai terbiasa dengan kenyamanan dan kemudahan handphone pintar sekarang ini. Bahwa hidup itu tak hanya terbatas dalam handphone pintar itu saja. Masih banyak hal-hal yang perlu dinikmati di luar sana. Dan kita tidak akan pernah tahu juga apa yang kita dapatkan di luar sana.

Ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran dari video itu, antara lain:

1. Jangan terlalu fokus pada handphone pintar dan segala social media yang ada dalam handphone pintar itu. Sesekali, lihatlah sekeliling kita saat kita berjalan. Habiskan waktu memandang sekeliling kita.

2. Saat bersama orang-orang yang kita sayangi, cobalah melepaskan diri dari daya tarik social media. Berbicaralah dengan orang-orang itu. Bahas apa saja. Tertawa bersama mereka. Menangis bersama mereka.

3. Bijaksanalah dalam menggunakan teknologi. Teknologi diciptakan untuk membantu kita semua. Bukan untuk membatasi kita dalam bersosialisasi. Sebagai pengguna handphone pintar, kita dituntut secara tidak langsung untuk “pintar” menyikapi yang ada dalam genggaman.

Mungkin ada yang mau menambahkan? Bagaimana reaksi kalian terhadap video ini sendiri?

Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

67 Replies to “Social Media”

      1. ha ha ha… nyesel aku karena kupikir bisa sekedar link… bukan gambar segede gaban gitu yang muncul di komen..

        maafkan 🙁

  1. Saya sudah nonton videonya, dan saya jadi malu sendiri karena video itu memang kenyataan yang terjadi pada saya (haha). Teknologi memang, seperti ungkapan itu, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Tapi menurut saya kembali lagi ke kesadaran manusia yang menggunakannya. Jangan kebablasan kalau pakai handphone. Seperti yang Mas bilang, “bijaksana dalam menggunakan smartphone”.

    Saya suka kata Gary, “We are slaves in the invention we mastered.” That’s true, if we want to be slaved by our smartphone (and be dumb people).

    I honestly think that I don’t want to be slaved by my tablet, so I won’t. And now, at least I’m trying to do so.

      1. nggak ah. ini aja yang paling sering ditengok cuma blog. baru kemudian FB.
        ngetwit yang bener2 alias bukan otomatis ketika publish postingan blog biasanya buat ngirim link ikutan lomba 😀

      1. Terima ajahalah. Kita hidup di generasi sosmed. Kalau mau nggak mau bersosial di sosmed, tinggal saja di pedalaman irian jaya atau gabung sama suku baduy dalam. Hohehehhehe:p

  2. Ada peraturan di keluarga teteh, Hp kalau bisa ndak ada di Meja makan.
    Kalau kumpul sering main PS atau Wii bareng2… 😀

    Generasi kepala nunduk sekarang mah yaah hehe

  3. Videonya sama dengan yang di posting di grup ya mas? Aku belum bisa klik link diatas :D.
    Menurutku kebanyakan kita memang sudah termakan socmed. Gak harus juga siyh ninggalin sampe ninggalin HP yang penting bisa mengontrol penggunaannya.
    Aku biasanya saat-saat lagi mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan tugas & tanggung jawab malah jadi lupa sama HP sendiri. Tapi miris suka liat keluarga lagi jalan-jalan bareng eh malah sibuk sama hpnya masing-masing.

    1. Iya. Videonya sama dengan yg di group.

      Kalau sampai ninggalin HP saya juga kurang setuju sih. Sekarang dah perlu. Buat kontak. Tapi ya mungkin ngurangi menundukkan kepalanya ya.

      Tapi sekarang dengan grup nunduk kepala mulu. Ini belum buka lagi kayaknya dah bejibun.

  4. hihi sebenernya yg penting penggunaannya wajar aja kali ya 🙂 bener banget tuh, kan teknologi diciptakan untuk memudahkan kita, cuma kadang kitanya aja yg kelewatan makenya. Selama yg di dunia nyata gak terbengkalai sih, okeoke aja dengan penggunaan teknologi. Untuk aktivitas keluarga di rumah, bisa dibikin rules biar ga terus2an hidup di dunia maya hehe

      1. Kalau saya mungkin tolok ukurnya adalah saat orang2 di sekitar kita gak terbengkalai, maksudnya misal lagi kumpul2 trus malah sibuk sma gadget masing2, diajak ngobrol tapi matanya ke gadget, as simple as that, i guess 😀

      2. jadi jangan sampai membuat orang di sekitar merasa dicuekin ya?
        Pernah mengalami gak, saat kumpul, godaan untuk memegang hape pintar itu datang, buka twitter dan lainnya? Gimana menahan godaan itu?

      3. Kalo buat sekedar cek2 timeline gt sih klo mnurutku perlu pembiasaan, mas. Kan dorongannya dr diri kita sndiri aja, kcuali klo emg kerjaannya jd mimin suatu akun hahaha apa bisa jg kumpul2nya kurang seru kali ya, ampe pengen asik dgn timeline sndiri..hmm.

  5. Belom bisa liat videonya tapi mau komen. Iya lagi addict sama IG dan WP. Path dah lama di apus. Ga suka soale.orang2nya sama aja ama di fb. Fb utk menjalin silahturahmi ama keluarga yg tinggal jauh.

    Wktu travelimg ke medan kemaren aku off hp…sibuk melamun sepanjang jalan.rasanya udah lama ga melamun..hehehe penting banget ya..hihi

  6. udah apus path, twetter ngk pernah di buka, fb juga iya. ig ngak punya. pinterest kalau lagi bosen aja. kebetulan hpnya ngk ada lg. jadi gimana ni? temen jauh smua. hahaha

  7. aku pengen komentarin videonya..

    tapii… masalahnya, aku ngga ngerti dia ngomong apa… 😐

    🙁

    mas rian, aku mau join wa yg english club, udah daftar sm kak nit, tp blm direspon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *