fbpx

Komunikasi itu…

Komunikasi Itu Penting

Saya teringat pada situasi yang pernah saya alami dulu saat bekerja di rumah sakit. Keluarga salah seorang pasien complaint, bahkan berusaha untuk mengajukan tuntutan ke pengadilan atas kondisi keluarganya.  Keluhan mereka sebenarnya tidaklah berat. Mereka lebih menuntut kejelasan dari dokter yang menangani mengenai kondisi keluarganya yang sedang dirawat itu. Dokter yang menangani sebenarnya telah menjelaskannya kepada keluarga sebelum mengambil tindakan apapun yang diperlukan.

Lalu kenapa masih muncul keluhan itu?

Karena sang dokter menjelaskan dengan bahasa mereka, bahasa kedokteran yang tidaklah terlalu dipahami oleh pasien dan keluarga yang awam. Penjelasan itu pun dilakukan pada kondisi keluarga sedang panik karena keluarganya dirawat.

Di sinilah saya mulai memahami arti penting dari sebuah komunikasi. Komunikasi yang baik bukanlah hanya tentang menyampaikan pesan dalam bahasa yang sama, dalam hal ini Bahasa Indonesia, tapi juga bagaimana menyampaikan pesan dalam bahasa yang dimengerti oleh pihak terkait dalam komunikasi tersebut. Selain itu, komunikasi yang baik itu juga melibatkan kapan pesan itu disampaikan.

Komunikasi pada dasarnya adalah cara menyampaikan sebuah pesan, baik tulis maupun lisan, kepada pihak-pihak terkait sehingga pesan tersebut dimengerti oleh kedua belah pihak. Dalam contoh kejadian di atas, pihak terkait adalah pihak rumah sakit, dalam hal ini diwakili oleh dokter, dan pihak pasien, dalam hal ini diwakili oleh keluarga.

Bahasa Yang Disampaikan

Dalam kejadian di atas, komunikasi sebenarnya memang telah terjadi antara kedua belah pihak. Namun penyampaian komunikasi itu yang tidaklah tepat sehingga pada akhirnya menimbulkan efek yang tidak menyenangkan, dalam hal ini keluhan dari pasien dan keluarga.

Dokter dalam proses komunikasi ini telah menyampaikan kondisi pasien sebenarnya kepada keluarga pasien. Namun karena bahasa yang digunakan adalah istilah kedokteran, hal ini mengakibatkan terjadi yang dikenal dengan misscommunication. Dokter dan para perawat mungkin akan mengerti jika dijelaskan istilah-istilah kedokteran, namun sebagai orang awam, keluarga pasien tidaklah terlalu memahaminya. Oleh sebab itu, dalam komunikasi, kita sebagai pihak terlibat, harus mengetahui audience kita.

Siapakah mereka, apakah mereka akan memahami jika kita menjelaskan istilah-istilah tertentu? Itulah yang perlu dipersiapkan sebelumnya. Sampaikanlah pesan dalam bahasa yang dimengerti oleh pihak yang diajak berkomunikasi. Contoh lainnya, saya sebagai akuntan, hendaknya jangan mengucapkan istilah-istilah akuntansi kepada orang-orang yang tidak pernah mempelajari akuntansi sama sekali.

Waktu Penyampaian

Dalam kejadian di atas, komunikasi terjadi di saat salah satu pihak terlibat sedang dalam kondisi emosi, di mana salah seorang anggota keluarganya sedang dalam keadaan kritis. Komunikasi memang terjadi, namun pihak penerima pesan mungkin tidaklah terlalu konsentrasi pada waktu itu.

Seringkali kita pun melakukan komunikasi yang mengakibatkan misscommunication dikarenakan waktu penyampainnya yang tidak tepat seperti dalam kejadian di atas. Misalnya saja, jika pihak terlibat komunikasi dengan kita sedang dalam kondisi marah, ada baiknya kita menunggu sebentar sampai emosinya mereda. Biarkan dia melepaskan kemarahannya terlebih dahulu. Biasanya orang dalam keadaan marah, sulit menerima komunikasi dengan baik, terutama yang sifatnya adalah masukan untuk orang itu. Jadi biarkanlah dia meredakan amarahnya itu terlebih dahulu.

Dalam kejadian di atas, masalah terselesaikan dengan diadakannya komunikasi dua arah yang lebih baik antara rumah sakit dan keluarga pasien. Komunikasi dilakukan di ruang tertutup, antara Kepala Rumah Sakit dan juga Kepala Keluarga dalam kondisi yang lebih nyaman. Kepala Rumah Sakit mengutarakan apa yang terjadi pada pasien dengan bahasa yang lebih sederhana yang dapat dimengerti oleh siapapun. Sedangkan Kepala Keluarga sudah lebih tenang karena kondisi pasien sudah lebih baik. Hasilnya adalah kesepakatan bersama antara kedua belah pihak terkait.

Komunikasi itu…

Pada akhirnya, dari kejadian itu, saya belajar bahwa komunikasi itu:

  1. Penting sekali agar pihak-pihak terkait saling memahami – eye to eye – tentang suatu kondisi yang ada.
  2. Cara penyampaiannya harus tepat, jika caranya salah, baik dari bahasa, gesture tubuh, dapat mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman dan akhirnya komunikasi tidak berjalan dengan baik.
  3. Waktu penyampaiannya juga harus pas. Lihatlah keseluruhan situasi si pihak lawan. Cari waktu yang tepat agar pesan yang disampaikan benar-benar dimengerti.

Jadi… mari kita berkomunikasi dengan lebih baik lagi.

Komunikasi Itu Penting

Saya teringat pada situasi yang pernah saya alami dulu saat bekerja di rumah sakit. Keluarga salah seorang pasien complaint, bahkan berusaha untuk mengajukan tuntutan ke pengadilan atas kondisi keluarganya.  Keluhan mereka sebenarnya tidaklah berat. Mereka lebih menuntut kejelasan dari dokter yang menangani mengenai kondisi keluarganya yang sedang dirawat itu. Dokter yang menangani sebenarnya telah menjelaskannya kepada keluarga sebelum mengambil tindakan apapun yang diperlukan.

Lalu kenapa masih muncul keluhan itu?

Karena sang dokter menjelaskan dengan bahasa mereka, bahasa kedokteran yang tidaklah terlalu dipahami oleh pasien dan keluarga yang awam. Penjelasan itu pun dilakukan pada kondisi keluarga sedang panik karena keluarganya dirawat.

Di sinilah saya mulai memahami arti penting dari sebuah komunikasi. Komunikasi yang baik bukanlah hanya tentang menyampaikan pesan dalam bahasa yang sama, dalam hal ini Bahasa Indonesia, tapi juga bagaimana menyampaikan pesan dalam bahasa yang dimengerti oleh pihak terkait dalam komunikasi tersebut. Selain itu, komunikasi yang baik itu juga melibatkan kapan pesan itu disampaikan.

Komunikasi pada dasarnya adalah cara menyampaikan sebuah pesan, baik tulis maupun lisan, kepada pihak-pihak terkait sehingga pesan tersebut dimengerti oleh kedua belah pihak. Dalam contoh kejadian di atas, pihak terkait adalah pihak rumah sakit, dalam hal ini diwakili oleh dokter, dan pihak pasien, dalam hal ini diwakili oleh keluarga.

Bahasa Yang Disampaikan

Dalam kejadian di atas, komunikasi sebenarnya memang telah terjadi antara kedua belah pihak. Namun penyampaian komunikasi itu yang tidaklah tepat sehingga pada akhirnya menimbulkan efek yang tidak menyenangkan, dalam hal ini keluhan dari pasien dan keluarga.

Dokter dalam proses komunikasi ini telah menyampaikan kondisi pasien sebenarnya kepada keluarga pasien. Namun karena bahasa yang digunakan adalah istilah kedokteran, hal ini mengakibatkan terjadi yang dikenal dengan misscommunication. Dokter dan para perawat mungkin akan mengerti jika dijelaskan istilah-istilah kedokteran, namun sebagai orang awam, keluarga pasien tidaklah terlalu memahaminya. Oleh sebab itu, dalam komunikasi, kita sebagai pihak terlibat, harus mengetahui audience kita.

Siapakah mereka, apakah mereka akan memahami jika kita menjelaskan istilah-istilah tertentu? Itulah yang perlu dipersiapkan sebelumnya. Sampaikanlah pesan dalam bahasa yang dimengerti oleh pihak yang diajak berkomunikasi. Contoh lainnya, saya sebagai akuntan, hendaknya jangan mengucapkan istilah-istilah akuntansi kepada orang-orang yang tidak pernah mempelajari akuntansi sama sekali.

Waktu Penyampaian

Dalam kejadian di atas, komunikasi terjadi di saat salah satu pihak terlibat sedang dalam kondisi emosi, di mana salah seorang anggota keluarganya sedang dalam keadaan kritis. Komunikasi memang terjadi, namun pihak penerima pesan mungkin tidaklah terlalu konsentrasi pada waktu itu.

Seringkali kita pun melakukan komunikasi yang mengakibatkan misscommunication dikarenakan waktu penyampainnya yang tidak tepat seperti dalam kejadian di atas. Misalnya saja, jika pihak terlibat komunikasi dengan kita sedang dalam kondisi marah, ada baiknya kita menunggu sebentar sampai emosinya mereda. Biarkan dia melepaskan kemarahannya terlebih dahulu. Biasanya orang dalam keadaan marah, sulit menerima komunikasi dengan baik, terutama yang sifatnya adalah masukan untuk orang itu. Jadi biarkanlah dia meredakan amarahnya itu terlebih dahulu.

Dalam kejadian di atas, masalah terselesaikan dengan diadakannya komunikasi dua arah yang lebih baik antara rumah sakit dan keluarga pasien. Komunikasi dilakukan di ruang tertutup, antara Kepala Rumah Sakit dan juga Kepala Keluarga dalam kondisi yang lebih nyaman. Kepala Rumah Sakit mengutarakan apa yang terjadi pada pasien dengan bahasa yang lebih sederhana yang dapat dimengerti oleh siapapun. Sedangkan Kepala Keluarga sudah lebih tenang karena kondisi pasien sudah lebih baik. Hasilnya adalah kesepakatan bersama antara kedua belah pihak terkait.

Komunikasi itu…

Pada akhirnya, dari kejadian itu, saya belajar bahwa komunikasi itu:

  1. Penting sekali agar pihak-pihak terkait saling memahami – eye to eye – tentang suatu kondisi yang ada.
  2. Cara penyampaiannya harus tepat, jika caranya salah, baik dari bahasa, gesture tubuh, dapat mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman dan akhirnya komunikasi tidak berjalan dengan baik.
  3. Waktu penyampaiannya juga harus pas. Lihatlah keseluruhan situasi si pihak lawan. Cari waktu yang tepat agar pesan yang disampaikan benar-benar dimengerti.

Jadi… mari kita berkomunikasi dengan lebih baik lagi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Si Sulung

12 Comments

  1. widauwid 3 Juli 2013
    • ryan 4 Juli 2013
  2. tinsyam 1 Juli 2013
    • ryan 1 Juli 2013
  3. ayanapunya 1 Juli 2013
  4. araaminoe 1 Juli 2013
    • ryan 1 Juli 2013
      • araaminoe 2 Juli 2013
      • ryan 2 Juli 2013
  5. Yudhi Hendro 1 Juli 2013

Leave a Reply