fbpx

Judging or Loving?

If you judge people, you have no time to love them – Mother Teresa

Teresa

Quote yang bagus dari Mother Teresa. “Jika kau menilai (kejelekan) orang-orang, kau tidak ada waktu untuk mencintai mereka.”

Seperti itulah manusia. Kecenderungan lebih menilai dan menilai terutama dalam hal jelek. Semua akan lebih mudah menemukan yang salah-salah daripada sebuah keindahan dalam diri orang lain (bahkan terkadang terhadap dirinya sendiri).

Seorang teman pernah bertanya, kenapa orang itu cenderung dengan mudah menyebutkan kekurangan demi kekurangan mereka daripada kelebihan. Banyak yang mengatakan memang demikianlah adanya. Orang-orang memang cenderung untuk melihat segala sesuatunya dari sisi negative. Bukan dari sisi lainnya.

Didikan dan tempaan kepada kita sejak kecil sebenarnya mendidik kita untuk melakukan itu. Percayakah kalian mengenai hal ini?

Didikan

Banyak yang bilang golden age seseorang berada dalam 5 tahun pertama orang itu di dunia ini artinya sampai dengan umur 5 tahun apapun yang diberikan kepada seseorang, secara tidak langsung akan membentuk orang itu nantinya.

Banyak orang tua yang tidak menyadarinya. Mereka terus menerus menanamkan kepada anak-anak mereka sisi negative dan negative sehingga anak-anak mereka juga menjadi orang dari sisi negative ini.

Contohnya:

Kecenderungan orang tua akan melarang anaknya untuk bermain di jalan raya dengan mengatakan “Jangan main di sana. Bahaya!!!” dengan kata-kata ini memang ditangkap oleh sang anak dan dituruti. Namun kenyataan dalam bawah sadar dia sudah ada satu kata jangan.

Kemudian saat sang anak sekolah ternyata mendapatkan nilai jelek, kebanyakan orang tua akan langsung ‘memaki’ dan ‘memukul’ sang anak (ini sisi ekstrim ya…:P). kemudian ada kejadian lainnya di mana sang anak tidak menuruti kata orang tua. Orang tua mengeluarkan perkataan “Dasar anak bandel. Susah banget dibilang jangan ya jangan…. Be*o – ngga ngerti banget kalo dibilangin. To*ol” banyak sekali kata demi kata negative yang keluar dari mulut mereka.

Sebuah kata Jangan, Be*o, To*ol, dan cacian demi cacian apalagi kalau ditambah dengan pukulan… semua itu akan mendorong seseorang menjadi negative. Dia cenderung melihat semua dari sisi negative.

Misalnya jika saat seorang anak bermain di jalan raya dikatakan begini: “Main disana boleh namun tidak sekarang karena sekarang banyak mobil. Bagaimana kalau sekarang main di….. “

Tujuannya sama: mengarahkan agar si anak tidak bermain di jalan raya kan? Sebuah kata “jangan” telah membentuk seseorang menjadi lebih berpikir negative daripada positive.

Saya bukan mengkritik or menyalahkan orang tua dalam hal mendidik. Tapi itu adalah kenyataan yang dihadapi kita di dunia ini. Bukan hanya di Indonesia tapi hampir di seluruh dunia juga mengalaminya.

Menilai

Dari didikan itu… orang cenderung menilai orang lain (yang baru ditemuinya ataupun kawan dekat) dari sisi negative dulu dibandingkan dengan sisi positive. Padahal menilai orang itu tidaklah mudah dan memakan tenaga cukup besar.

Satu per satu penilaian dilakukan. Mulai dari penampilan fisik terlebih dahulu. Mulai dari gaya rambut, dandanan, pakaian, aksesoris dan lain sebagainya. Satu per satu dinilai dan dinilai dan dinilai. Saat menemukan sesuatu yang jelek akan dengan mudah menambah list ketidaksukaannya kepada orang tersebut. Saat menemukan yang bagus – tidak langsung menambah kesukaan alias mengurangi ketidaksukaan yang tadi.

Tapi yang dilakukan saat menemukan sesuatu yang bagus dari orang itu, seseorang cenderung mencari alasan jelek dibalik kebagusan itu. Contohnya bila melihat bahwa pakaian orang di hadapan itu bagus. Tidak serta merta meningkatkan kesukaannya terhadap orang itu dalam fashion. Kebanyakan mencari alasan dulu seperti: ya iyalah… wong orang kaya jadi bisa pake yang bagus-bagus, atau alah… bagus jangan-jangan curian lagi.

Saat melakukan penilaian satu demi satu – seseorang sebenarnya melakukan background check secara tidak langsung. Akan tetapi background check ini akan menjadi bias dan tidak menggambarkan yang sebenarnya bila sudah diawali dengan penilaian demi penilaian jelek sebelumnya. Karena secara tidak sadar, penilaian jelek atas seseorang akan selalu ada.

Mencintai

love-print-c10098742

Mencintai orang lain tidaklah mudah. Menyukai juga tidak mudah. Dibutuhkan sebuah keberanian untuk meninggalkan semua kebencian jika ingin menyukai seseorang. Apa yang dilakukan orang dengan melakukan penilaian demi penilaian (jelek) akan sangat menyulitkan seseorang menyukai orang tersebut.

Menyukai orang ini sangatlah berlawanan (walaupun ada yang bilang kalo benci itu benar-benar cinta. Dan kalau misalnya kita membenci seseorang, bisa-bisa nanti mencintai orang itu) dan sangat susah dilakukan bila memang orang itu sudah masuk dalam daftar penilaian kita sebelumnya.

Untuk mendapatkan gambaran lebih baik tentang orang lain, seseorang perlu melepaskan penilaian demi penilaian (baca: penilaian negative)yang pernah dilakukan dan menggantinya dengan penilaian positive.

Pupuk satu demi satu sisi positive dari orang yang kita ingin cintai itu. Satu per satu kita harus lihat dari sisi positivenya. Seakan merubah channel yang sudah biasa disetel ke channel lainnya untuk mendapatkan gambar lain. Seperti menanam di tanah gersang. Kita harus benar-benar rajin untuk memupuk satu per satu dan memperhatikannya dari hari ke hari dan memastikan tanah menjadi bagus dan dapat ditanam.

Sulit tapi bukannya tidaknya mungkin…. Semua dapat dilakukan dan diraih apabila memang ada kemauan dan keinginan yang kuat. Bahkan dengan siraman air yang terus-menerus, karang tegar di pantai saja dapat terkikis, masa kejelekan tidak dapat terkikis oleh usaha kita menumbuhkan cinta???

14 Comments

  1. yisha 17 Mei 2013
    • ryan 17 Mei 2013
  2. araaminoe 16 Mei 2013
    • ryan 16 Mei 2013
  3. duniaely 16 Mei 2013
    • ryan 16 Mei 2013
  4. Jamie Dedes 16 Mei 2013
    • ryan 16 Mei 2013
  5. nyonyasepatu 16 Mei 2013
  6. tintin syamsuddin 16 Mei 2013
    • ryan 16 Mei 2013
      • tintin syamsuddin 16 Mei 2013
      • ryan 16 Mei 2013

Leave a Reply