fbpx
Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

Giveaway Kecil-kecilan – Fiksi – Hina

2 min read

Giveaway Kecil-kecilan - Fiksi - Hina 1

“Pergi sana! Tak mau aku melihatmu lagi. Orang hina sepertimu tidak pantas di sini. Ini kelompok elit. Tidak cocok untukmu.” Ucapan rupanya tidak cukup bagi Dwi. Dia juga menghadiahiku ludahnya, tepat mengenai mataku. Aku pun hanya dapat mengerjapkan mata dan membersihkan ludahnya dengan punggung tanganku.

Aku pun melangkahkan kakiku keluar dari gedung megah tempatku belajar itu. Aku ini memang bukanlah anak berada seperti dirinya, ataupun anggota yang disebut kelompok elit itu. Aku bisa berada di gedung ini pun karena beasiswa yang aku perjuangkan sejak aku masih di SMA. Dulu aku berpikir dunia itu adil. Bahwa dunia akan memberikan yang terbaik kepada mereka yang ingin berusaha. Dan itulah yang aku lakukan hingga aku pun berhasil mendapatkan beasiswa itu.

Sepanjang perjalanan pulang, aku berpikir terus. Apakah memang diriku sedemikian hina? Aku tidak mengejar dirinya dan berusaha masuk dalam kelompok itu dengan sengaja. Mereka yang memintaku untuk bergabung. Sejak awalpun aku sudah menolak, namun karena bujukan merekalah aku akhirnya bergabung. Dwi, Ananda, Nisa dan Louis. Kelompok yang memang dikenal di kampusku sebagai kelompok orang berada. Ayah mereka semua adalah petinggi penting di negara ini. Tidak ada yang berani mengganggu mereka.

***

“Sudahlah… jangan diambil hati. Dwi memang terkadang begitu.” Ujar Nanda, nama panggilan untuk Ananda, menghiburku keesokan harinya. Aku lebih dekat dengannya dibanding dengan yang lain. “Anak-anak yang lain tidak masalah kok dengan kehadiranmu. Kami akan bicara dengan Dwi. Ok?”

“Gak kok. Gak masuk dalam kelompokmu itu pun aku tak masalah Nanda.” Jawabku setelah memikirkan masak-masak. “Sepertinya lebih baik seperti itu. Toh… aku jadi punya banyak kesempatan untuk belajar lebih giat lagi.”

“Yah… kok gitu sih. Kalau kamu keluar, nanti siapa yang akan bantu kami? Kamu itu yang paling pintar di antara kita semua.” Jawab Nanda setengah merajuk. Aku tahu, kalau sudah seperti ini akan sulit menolak. Nanda paling pintar memainkan emosi lawan bicaranya hingga akhirnya menuruti keinginannya.

 “Tanpa dalam kelompok pun, aku juga masih bisa bantu. Kapanpun kalian membutuhkan bantuanku tentang mata kuiah yang aku bisa, pasti akan aku bantu.”

“Hmmm…. baiklah. Aku minta maaf ya, atas nama kelompok.” Nanda kemudian memelukku sesaat.

***

“Gimana? Dia mau balik gak?” Tanya Louis pada Nanda begitu Nanda tiba di kantin tempat biasa mereka berkumpul. Dwi memasang muka kesalnya. Namun tidak diindahkan oleh yang lainnya.

“Gak. Dia gak mau.” Jawab Nanda seraya menyeruput jus melon yang dipesannya.

Dengusan Dwi terdengar keras.

“Tuh kan… tuh anak gak tahu diri. Dia pikir dia siapa sih.” Wajahnya yang semakin merah menahan amarah semakin jelas terlihat. “Orang hina kayak dia saja. Ngapain sih diurusin? Udah. Lupakan saja.”

“Ini semua gara-gara lo Wi. Kalau aja lo gak ngomong seperti itu sebelumnya.” Nisa yang daritadi diam akhirnya pun urun bicara. “Dia itu asset kita. Kalau gak ada dia….” Nisa diam tidak meneruskan ucapannya.

“Emangnya kenapa kalau gak ada dia? Gak bisa hidup lo? Sebelum ada dia juga gak masalah kan? Apa sih hebatnya dia? Dia itu orang hina…” Dwi membalas Nisa dengan kesal.

“Hei… hei… Udah.” Louis mencoba menenangkan Dwi. “Jangan berantem.”

“Iya. Udah. Gak usah berantem. Dia tetep mau bantu kita kalau kita butuh bantuannya, tapi dia gak mau balik dalam kelompok kita. Itu kata dia.” Ujar Nanda menerangkan.

“Iya… tapi gw jadi gak enaklah. Mentang-mentang butuh bantuan, kita cari dia.” Ujar Nisa. “Gw gak mau dianggap memanfaatkan.”

“Iya sih Nis, tapi toh kenyataannya, selama ini juga kita begitu. Kita memperbolehkan dia dalam kelompok karena kita butuh dia kan? Apa bedanya sekarang? Kita tuh memang dari dulu dah memanfaatkan dia.” Ucapan Louis membuat mereka semua terdiam. Kata hina yang dilontarkan Dwi sebenarnya adalah salah sasaran, merekalah yang hina. Mendekati seseorang karena ingin sesuatu darinya.

*****

Nah… cerita fiksi di atas saya tutup sampai di sana karena kelanjutannya justru saya ingin jadikan Giveaway (GA) kecil-kecilan. Hadiahnya? Adalah… seperangkat alat sholat dibayar tunai – eh salah, ini gara-gara akad nikah temen kemarin. Sebelum ke hadiah, saya kasih aturan mainnya dulu ya.

Aturan mainnya simpel kok.

1. Tulis di kolom komen di bawah, lanjutan fiksi untuk ending cerita di atas. Tema dan tokoh jangan dirubah ya. Be creative ya. Boleh sudut pandang si Aku, Dwi, Nanda atau siapapun dalam tokoh di atas. Mau dibawa happy ending? Sad ending? Atau mau jadi komedi juga monggo. (updated: jumlah paragraf dihapuskan karena sepertinya susah kalau hanya 2/3 ya?)

2. Format komen adalah Nama, alamat blog, akun twitter baru deh lanjutan versi kalian. Contohnya gini:

Nama: Ryan

Blog: https://febriyanlukito.com

Twitter: @feb_ryan24

Lanjutan cerita:

Btw yang saya pertimbangkan untuk pemenang yang domisili di Indonesia ya. Belum sanggup kirim keluar negeri euy.

3. Giveaway akan ditutup tanggal 28 Februari 2014.

4. Pemenang ditentukan dengan kombinasi dua cara berikut

a. Dari jumlah jempol yang diberikan ke masing-masing tulisan peserta

b. Penilaian dari juri, yaitu saya sendiri.

Akan ada beberapa hadiah untuk yang menang, yaitu:

1. Kacamata  hitam trendi (bisa untuk pria dan wanita) dari kakak saya

2. Kosmetik (khusus wanita) juga dari kakak saya

3. Buku kumcer, kalung Bali, gantungan kunci dan kartu pos dari Belanda dan Singapura dari saya (satu paket).

Udah, itu aja sih. Jadi dah tahu dong jumlah pemenangnya berapa kan?

Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

95 Replies to “Giveaway Kecil-kecilan – Fiksi – Hina”

  1. Senengane last minute hehehehe.
    Akhirnya nemu pangsit juga 😀
    Ikutan ya, Mas ^^

    Nama : Maya Indah
    Blog : https://chiemayindah.wordpress.com/
    Twitter : @chiemayindah

    Lanjutan cerita :

    Keesokan harinya, Louis tergopoh-gopoh mendatangi kelompoknya yang sedang berada di kantin. Mukanya pucat. Napasnya terengah-engah.

    “Gawat! Kita dipanggil Pak Sihombing!” ujarnya ketika akhirnya dia tiba di depan kelompoknya.

    Sontak ketiga temannya yang lain memandangnya.

    “Ada apa?” tanya Dwi.

    “Gak tau. Dia cuma bilang mau bicara sama kita di ruangannya. Tapi, dia megang tugas akhir semester ini punya kita yang dikumpulin minggu lalu, Girls …, “ jawab Louis.

    Mendengar jawaban itu, ketiga temannya memucat. Pak Sihombing adalah salah satu dosen killer di kampus ini. Satu dari segelintir dosen yang tidak perduli status orang tua dari anak didiknya. Ketahuan berbuat tidak jujur di kelasnya, sudah pasti tidak akan lulus.

    “Sialan! Pasti si Hina itu mengadu kepadanya,” ujar Dwi emosi. “Nanti kalian diam saja. Biar gw aja yang bicara,” lanjutnya.

    >><<

    Ketika mereka akan memasuki ruang Pak Sihombing, mereka berpapasan dengan Yulia.

    “Tunggu pembalasan gw!” desis Dwi kepadanya, sambil gegas memasuki ruangan Pak Sihombing. Yulia hanya memandangnya dengan bingung.

    “Permisi, Pak. Bapak memanggil kami?” tanya Dwi.

    “Oh, Kalian. Masuk. Silakan duduk,” jawab Pak Sihombing sambil menunjuk kursi yang tersedia di ruangannya.

    Baru saja mereka duduk, tiba-tiba Dwi berkata, “Apa yang dilaporkan Yulia itu bohong, Pak!”

    "Maksud kamu?”

    “Memang benar tugas akhir kami dikerjakan olehnya. Tapi, itu bukan kami yang meminta. Dia memohon-mohon untuk mengerjakannya agar bisa diterima di kelompok kami. Dia bahkan bersedia untuk menanggung semua akibat jika ketahuan oleh Bapak,” ujar Dwi panjang lebar.

    Ketiga temannya hanya terdiam. Mereka tahu pasti itu tidak benar. Yulia sebenarnya sudah menolak karena khawatir jika ketahuan, tapi mereka memaksa.

    “Oh, jadi kalian sudah tidak jujur di kelas saya!” Pak Sihombing berkata dengan suara tinggi. “Kalian semua tidak lulus!”

    Muka mereka berempat seketika menjadi pias. “Tapi, Pak… itu Yulia yang …,” Dwi masih berusaha membela diri.

    “Yulia tidak pernah bilang apa-apa ke saya!” putus Pak Sihombing.

    “Yulia tadi ke sini karena dia menjadi anggota panita saya dalam acara reuni akbar saat ulang tahun kampus ini beberapa bulan lagi. Saya sebetulnya memanggil kalian ke sini untuk meminta kalian menyampaikan kepada orang tua kalian surat permohonan donasi untuk acara tersebut!”

    — tamat-

    Maafkeun kalau kepanjangan 😀

  2. halo. Ikutan yaa 🙂
    Nama: Vanisa Desfriani

    Blog: https://vanisadesfriani.blogspot.com

    Twitter: @ishavanisa

    Lanjutan cerita:
    Kakiku melangkah dengan cepat. Spontan, kusiram lemon tea yang sedang ku pegang kearah Dwi. Semua orang menoleh, Dwi terkejut. Tapi kemudian dia menunduk, entah dia sedang merasa malu karena mungkin seumur hidupnya tak pernah diperlakukan seperti itu. Louis, Nisa dan Nanda. Mereka menatapku dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
    Mukaku memanas, tak ada satu pun suara yang ku dengar. Hening.
    Tanganku mulai bergetar, Tidak. Ini keputusan yang tepat. Batinku. Ini adalah balasan tepat untuknya. Aku mengingat kembali ucapan mereka tadi.
    Pikiranku dipenuhi oleh hal-hal yang telah kami lakukan bersama sebelumnya, mengerjakan tugas kuliah, tertawa di sudut restoran disebuah mall. Hingga tiba-tiba tubuh basah beraroma lemon tea memelukku. Dalam isak ia mengatakan maaf.. aku mengangguk. Kutepuk bahunya pelan. Louis, Nisa dan Nanda mendekat, dan kami saling berpelukan.
    Semoga persahabatan ini abadi.

  3. Fiksa Ryan kereen, dan menikmati sambungannya di komen para sahabat terpana pada aneka ragam ending yang kece. Selamat memilah dan memilih ya Ryan. Sukses untuk GA-nya.
    Salam

    1. Makasih mba. Ah aku jd tersipu malu. Ayo mba. Ikutan. Msh dua hari lagi kok.

      Iya nih. Bacanya jadi pusing. Tang ting tung yang mana yang untung. Hahaha

  4. Nama: Ami

    Blog: https://lailaturrahmi.wordpress.com

    Twitter: @aminocte

    Lanjutan cerita:

    Aku sedang berjalan menuju halte terdekat dari fakultas saat bunyi klakson sebuah Mitsubishi Mirage mengagetkanku. Tiba-tiba saja jendela kaca mobil itu terbuka, memperlihatkan sosok pengemudi yang berada di dalamnya.

    Dwi?

    Ia menunjuk jok di sebelah kanannya dengan dagu. “Masuk, Ka. Ada hal penting yang mau kita omongin sama kamu.”

    Tunggu, apa katanya? Kita? Bukankah ia hanya seorang diri di dalam mobil itu? Lagipula, apa haknya menyuruhku setelah perlakuannya yang telah menginjak harga diriku di depan teman-teman lainnya?

    “O-oke, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf karena tadi sampai meludahimu supaya kamu punya alasan kuat untuk keluar dari kelompok kita. Tapi kita melakukan ini semua untuk kebaikanmu juga.” Dwi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seolah-olah takut bila ada orang lain yang memergokinya berbicara denganku. “Ya, nggak, Louis?”

    Kaca jendela bagian belakang terbuka, memperlihatkan sosok Louis yang menatapku dingin. Seolah-olah aku ini adalah makhluk yang tidak perlu diperhitungkan. Ck, ingin sekali aku menampik ajakan Dwi, tetapi aku harus mengetahui penjelasan atas perlakuan buruk yang ia berikan padaku selama ini.

    Tak ada jalan lain, aku pun duduk di sebelahnya. Keheningan melingkupi kami untuk beberapa saat sampai mobil kembali melaju, membawa kami ke luar dari area kampus.

    “Kamu mungkin nggak sadar, tetapi Nanda dekat denganmu karena ada maunya.” Suara Louis membuka percakapan. “Dia yang memperkenalkan kamu ke kita, dengan dalih kamu adalah mahasiswi terpintar di kelas dan bisa membantu kita untuk memahami berbagai mata kuliah yang sulit. Sebenarnya dia hanya malas mengerjakan tugas. Nisa pun sudah mengikuti jejaknya. Mereka berdua jadi bergantung denganmu, tanpa ada usaha untuk belajar sendiri.”

    Dwi menyunggingkan senyum miring. “Preambule lo kelamaan, Louis.”

    “Gue cuma nggak ingin aset kita ini kaget, Dwi.” Louis menambahkan tawa ringan di akhir kalimatnya.

    Apa maksud mereka? Apakah mereka ingin mempermainkanku kali ini? Menginjak harga diriku yang telah patah hingga remuk tak bersisa?

    “Ka, asal kamu tahu ya, Nanda itu suka sama kamu,” jelas Dwi tanpa basa-basi. “Dia selama ini selalu membujukku untuk bersikap baik supaya dia ada alasan untuk berduaan dengan kamu.”

    Aku terperangah. Tidak, tidak mungkin. Kugelengkan kepala kuat-kuat. Ini pasti hanya omong kosong. Selama ini Ananda memang baik sekali padaku, bahkan tak jarang ia memeluk dan mengusap-usap tanganku di saat kami berbincang empat mata. Akan tetapi, aku yakin itu semua dilakukannya sebagai ungkapan kasih sayang seorang teman.

    “Tapi, dia kan perempuan.”

    Louis tergelak.

    “Memangnya kenapa kalau perempuan? Kamu nggak tahu kalau di dunia ini ada yang namanya lesbian?”

    ==tamat==

  5. Mas Ulangg yah.. yang di bawah gak ada infoonya

    Nama : Ajen Angelina
    Blog : http://www.ajenangelina.com
    twitter @AjenAngelina

    Tepat pukul delapan aku sampai di rumah. Aku melangkahkan kaki menuju rumah. Sebuah Mercy terparkir di halaman rumah kami yang sederhana. Ibu dan Bapak duduk di beranda. Mereka tampak kontras. Bapak yang sederhana dengan baju kaus dan celana bahan kumal. Ibu dengan gaun merah dan perhiasan menghiasi telinga, anting, dan tangannya.

    “Ayu, kamu baru pulang!” sapa Ibu.

    Aku mengangguk.

    “Ibu dan adikmu datang ingin minta maaf,” sambung Ayah.

    Aku menghela napas. Teringat lagi perlakuan Dwi tadi pagi. Mengatainya hina jelaslah tak masalah baginya. Namun diludahi di depan umum, jelaslah bukan masalah kecil. Walaupun Dwi sering meludahiku. Kami memang bersaudara. Bapak dan Ibuku bercerai ketika aku berumur delapan
    dan Dwi tujuh tahun. Sejak lama Dwi selalu ingin ikut Bapak, tapi Bapak lebih memilihku. Ketika akhirnya Ibu menikah lagi dengan pria kaya yang juga pejabat, Dwi seperti membuat benteng denganku dan Ayah. Dia kaget waktu tahu aku masuk Universitas yang sama dengannya dengan beasiswa penuh. Tentu saja dia marah mengetahui teman-temannya mendekatiku.

    “Aku nggak masalah, Bu! Aku tahu sejak dulu Dwi membenciku. Aku juga tak bermaksud mendekati teman-temannya.”

    “Nggak bermaksud gimana? Seharusnya lo nggak terima tawaran Nanda. Gue nggak mau tahu, kalau sampai satu kampus tahu Dwi Cantika bersaudara dengan Ayu si kutu buku gue bakal ditinggal sama geng gue. Lagian gue gituin lo supaya lo juga sadar. Mereka tuh cuma memanfaatkan lo juga.” Dwi muncul dari dalam rumah.

    “Tapi kamu nggak mesti ngeludahin aku, kan?”

    “kamu meludahi kakakkmu, Dwi?” Ibu berdiri di antara kami.

    Dwi salah tingkah.

    “Berani-beraninya kamu! Ayu inikan kakakmu. Mama nggak suka. Mobil dan kartu kreditmu disita selama sebulan.”

    “Tapi, Ma….” Wajah Dwi pucat.

    Mampus! pikirku dalam hati. Bisa apa Dwi tanpa mobil dan kartu kredit.

    ***

  6. Tepat pukul delapan aku sampai di rumah. Aku melangkahkan kaki menuju rumah. Sebuah Mercy terparkir di halaman rumah kami yang sederhana. Ibu dan Bapak duduk di beranda. Mereka tampak kontras. Bapak yang sederhana dengan baju kaus dan celana bahan kumal. Ibu dengan gaun merah dan perhiasan menghiasi telinga, anting, dan tangannya.

    “Ayu, kamu baru pulang!” sapa Ibu.

    Aku mengangguk.

    “Ibu dan adikmu datang ingin minta maaf,” sambung Ayah.

    Aku menghela napas. Teringat lagi perlakuan Dwi tadi pagi. Mengatainya hina jelaslah tak masalah baginya. Namun diludahi di depan umum, jelaslah bukan masalah kecil. Walaupun Dwi sering meludahiku. Kami memang bersaudara. Bapak dan Ibuku bercerai ketika aku berumur delapan
    dan Dwi tujuh tahun. Sejak lama Dwi selalu ingin ikut Bapak, tapi Bapak lebih memilihku. Ketika akhirnya Ibu menikah lagi dengan pria kaya yang juga pejabat, Dwi seperti membuat benteng denganku dan Ayah. Dia kaget waktu tahu aku masuk Universitas yang sama dengannya dengan beasiswa penuh. Tentu saja dia marah mengetahui teman-temannya mendekatiku.

    “Aku nggak masalah, Bu! Aku tahu sejak dulu Dwi membenciku. Aku juga tak bermaksud mendekati teman-temannya.”

    “Nggak bermaksud gimana? Seharusnya lo nggak terima tawaran Nanda. Gue nggak mau tahu, kalau sampai satu kampus tahu Dwi Cantika bersaudara dengan Ayu si kutu buku gue bakal ditinggal sama geng gue. Lagian gue gituin lo supaya lo juga sadar. Mereka tuh cuma memanfaatkan lo juga.” Dwi muncul dari dalam rumah.

    “Tapi kamu nggak mesti ngeludahin aku, kan?”

    “kamu meludahi kakakkmu, Dwi?” Ibu berdiri di antara kami.

    Dwi salah tingkah.

    “Berani-beraninya kamu! Ayu inikan kakakmu. Mama nggak suka. Mobil dan kartu kreditmu disita selama sebulan.”

    “Tapi, Ma….” Wajah Dwi pucat.

    Mampus! pikirku dalam hati. Bisa apa Dwi tanpa mobil dan karu kredit.

    ***

  7. eh sorry, ngepostnya kedouble. ><
    hapus aja satunya biar nggak menuhin. OTL

    terima kasih kembali, Mas Ryan! 😀

  8. Nama: Dinda Faiza P
    Blog: https://dindafay.blogspot.com
    Twitter: @dindafza

    Kubasuh wajah beberapa kali sembari menatap pantulan diriku dalam cermin. Ewh, aku tak menyangka ia akan benar-benar meludahiku. Tak terbayang bagaimana tampangku kala itu, yang jelas aku terkejut hingga tak tahu harus melakukan apa.
    Kuambil sabun muka dari dalam tas dan mulai mengusap parasku sekali lagi ketika pintu toilet sekonyong-konyong terbuka.
    Sesosok wanita cantik berambut ikal panjang, yang langsung kukenali sebagai Lisa, masuk kemudian tertawa-tawa saat menyadari bahwa aku tengah berdiri di depan wastafel, membersihkan air liurnya yang tertempel di wajahku.

    “Kau tak mau minta maaf, Mbak Dwi?”
    “Hahaha maafkan aku,” Ia berusaha menahan tawa, “Sungguh, aku tak sengaja.”
    “Ya baiklah, terserah. Sutradara pasti amat puas melihat aktingmu yang tak tanggung-tanggung itu.”
    “Hahaha dan sutradara kita juga harus kagum dengan ekspresi shock yang kau hasilkan. Tampak natural di kamera.”
    “Hey, itu memang asli. Siapa yang tak shock bila tau-tau ada ludah bersarang di matamu?”
    “Tenang, aku sudah sikat gigi.” Ujarnya dengan nada meyakinkan. Aku memutar bola mata.

    Tiba-tiba pintu toilet terbuka sekali lagi, Desi yang dalam FTV garapan kami berperan sebagai Nanda kini berdiri di ambang pintu, “Yuk, cepat! Lima menit lagi take terakhir. Keburu larut, pintu gerbangnya mau dikunci. Kita izin take di sekolah ini kan cuma sampai setengah tujuh.”
    Benar juga. Hampir menjelang maghrib, namun aku dan seluruh kru masih berkumpul di gedung sekolah elit yang kami pinjam untuk lokasi pengambilan gambar ini.
    Buru-buru kami ke luar toilet, bersiap untuk memulai adegan sengit berikutnya. Lisa sebagai Dwi, sementara aku sang pemeran utama yang terdzalimi.

    END(?)

    *Tambahannya sekitar 250 kata. Maaf banget kalau kepanjangan. :”3
    Salam kenal!

  9. Nama: Dinda Faiza P
    Blog: https://dindafay.blogspot.com
    Twitter: @dindafza

    Kubasuh wajah beberapa kali sembari menatap pantulan diriku dalam cermin. Ewh, aku tak menyangka ia akan benar-benar meludahiku. Tak terbayang bagaimana tampangku kala itu, yang jelas aku terkejut hingga tak tahu harus melakukan apa.
    Kuambil sabun muka dari dalam tas dan mulai mengusap parasku sekali lagi, ketika pintu toilet sekonyong-konyong terbuka.
    Sesosok wanita cantik berambut ikal panjang, yang langsung kukenali sebagai Lisa, masuk dan tertawa-tawa begitu menyadari bahwa aku tengah berdiri di depan wastafel, membersihkan air liurnya yang tertempel di wajahku.
    “Kau tak mau minta maaf, Mbak Dwi?”
    “Hahaha baiklah, maafkan aku,” Ia berusaha menahan tawa, “Sungguh, aku tak sengaja.”
    “Ya baiklah, terserah. Sutradara pasti amat puas melihat aktingmu yang tak tanggung-tanggung itu.”
    “Hahaha dan sutradara kita juga kagum dengan ekspresi shock yang kau hasilkan. Nampak bagus serta natural di kamera.”
    “Hey, itu memang asli. Siapa yang tak shock bila tau-tau ada ludah bersarang di matamu?”
    “Tenang, aku sudah sikat gigi.” Ujarnya dengan nada meyakinkan. Aku memutar bola mata.
    Tiba-tiba pintu toilet terbuka sekali lagi, Desi yang dalam FTV garapan kami berperan sebagai Nanda nampak berdiri di ambang pintu, “Yuk, cepat! Lima menit lagi take terakhir. Keburu larut, pintu gerbangnya mau dikunci. Kita izin take di sekolah ini kan cuma sampai setengah tujuh.”
    Benar juga. Hari sudah menjelang maghrib, namun aku dan seluruh kru masih berkumpul di gedung sekolah super megah yang kami pinjam untuk lokasi pengambilan gambar ini.
    Aku dan Lisa buru-buru ke luar toilet. Bersiap untuk memulai adegan sengit kami berikutnya. Lisa sebagai Dwi, sementara aku sang pemeran utama yang terdzalimi.

    END(?)

  10. Nama: Edmalia Rohmani

    Blog: https://edmaliarohmani.blogspot.com

    Twitter: @edmaliarohmani

    Lanjutan cerita:

    Sial! Kakiku sudah pegal benar menanti Dwi keluar dari cafe itu. Awas, Dwi, akan kubalas kau nanti!

    “Ngapain kamu celingukan di situ? Perempuan hina…,” hardik seseorang dari belakangku.

    Mataku terbelalak. Dwi!

    Gegas kujambak rambutnya yang tergerai panjang. Mulutnya memekik kesakitan. Tubuhnya meronta dan terus melawan.

    Auuw! Aku berteriak kesakitan saat dia menggigit tanganku.

    “Kukira urusan kita sudah selesai kemarin. Ternyata semua omonganmu pada Nanda cuma sandiwara. Dasar hina!” cemoohnya padaku.

    “Diaam!! Jangan sebut aku hina lagi! Kemarin aku masih mengalah agar tak jatuh harga diriku di depan Nanda dan Louis. Tapi kamu memang keterlaluan, Dwi! Apa salahku sebenarnya?” tanyaku tanpa mampu membendung murka.

    “Sekali hina, tetaplah hina. Kaukira bisa berlindung di balik wajah polosmu, hah? Kaukira aku tak tahu apa yang sudah kaulakukan di Hotel Royal Palace?”

    Deg! Apakah mungkin Dwi tahu yang telah kulakukan?

    Kudeguk ludah menahan cemas yang diam-diam menyeruak di dada. “Kau…kau…tahu?”

    “Dasar perek! Berapa orang yang sudah kautiduri untuk menambah uang jajanmu, hah?”

    Plak! Kutampar pipinya hingga memerah.

    “Tutup mulutmu! Bukan salahku kalau ibumu mau tidur denganku!” teriakku dengan nada bergetar.

    Mulut Dwi menganga. “Ja…jadi…selain dengan bapakku, kau juga pernah tidur dengan ibuku?”

    Ups!

    Sesaat kemudian kulihat tubuhnya limbung seketika.

    * * *

    Hanya meramaikan saja ya Mas Ryan :))
    Baiklah, memang ada yang lubang dan tidak padu dg cerita di atas, but I’ve done my best :))
    Moga2 sukses ya GA-nya 😀

    1. Iya. masih sampe 28 (baru gw pusing milih).

      Jangan di bunderan HI ah, gak seru. Gimana kalau di kali sebelah stasiun Sudirman aja Ye? Mau gak? 😀

      Ditunggu ya partisipasinya.

  11. Nama : Riga Sanjaya
    Blog : https://attarsandhismind.wordpress.com/
    Twitter : @attararya

    ***
    Sejak semula aku sudah menyadari betapa kelirunya keputusanku masuk ke dalam geng Dwi. Aku dan mereka berempat sungguh berbeda. Mereka termasuk dalam golongan ‘the have’ sementara aku? Jika tak ditunjang dengan beasiswa, mana mampu aku kuliah di kampus sebesar ini. Mereka gadis-gadis muda yang enerjik, ceria. Hidup sepertinya cuma ajang hura-hura bagi mereka. Sedangkan aku harus bekerja keras setiap hari; belajar keras, bekerja keras. Pihak kampus memang membebaskan aku dari biaya kuliah. Tapi untuk kebutuhan hidup sehari-hari, tentu harus kucari sendiri. Memang, semenjak bergabung dengan geng Dwi, sebagian kebutuhan perkuliahanku terpenuhi: buku kuliah, biaya praktikum, dan beberapa hal kecil lainnya ditanggung oleh mereka. Tapi ada perbedaan yang lebih besar antara aku dan empat gadis itu. Aku adalah…

    “Ardan!”

    Sebuah suara nyaring mengagetkanku. Lamunan menguap entah ke mana. Di belakangku, tegak sesosok cantik dengan mata bulatnya yang membelalak. Diam-diam aku memujinya; dalam keadaan marah pun Dwi tetap terlihat cantik.

    “Mau lo apa sih?” Dia melangkahkan kaki mendekatiku yang sedang duduk di bangku panjang di bawah pohon akasia. Aku tergeragap; membetulkan kacamata yang melorot, menepis-nepis debu di celana panjangku.

    Dwi duduk di sebelahku. Gerak-gerik tubuhnya tegang. Matanya masih meradang. “Lo pikir gue bakal datang memohon-mohon buat lo balik ke grup?” Aku diam. Bingung harus menjawab apa. Dwi masih mengomel. Tapi tiba-tiba suaranya melunak.

    “Gue minta maaf.”

    Aku menoleh. Minta maaf? Untuk apa?

    Dwi menundukkan kepala dan menggigit bibir bawahnya. Aku menunggu. “Sebenarnya gue suka sama lo, Dan.” Dia melirikku sekilas, lalu kembali menunduk. Apa aku nggak salah dengar?

    Dwi melanjutkan. “Lo pintar, baik, pengertian, dan… “ Dwi terdiam lagi. Sekilas kulihat pipinya merona. “…ganteng. Tapi gue denger dari Nanda lo udah punya cewek. Gue nggak terima. Alasan gue maksa lo gabung juga salah satunya karena gue suka sama lo. Gue udah coba kasih lo perhatian lebih. Tapi ternyata lo nggak nanggapin sinyal gue.”

    Benarkah? Apa aku terlalu bebal untuk mengerti hal ini?

    Dwi tersenyum tipis. “Sekarang gue sadar, gue nggak bisa maksa. Cuma gue harap lo masih mau gabung sama geng kita dan kayak dulu lagi. Lo mau kan, Dan?” Binar matanya menyentuh hatiku. Aku mengangguk. Dwi memekik senang.

    “Makasih, Dan!” Dia memelukku. “Gue mau telepon cewek-cewek lain dulu!” Dwi beranjak menjauh dan menelepon. Suaranya kecil, tapi samar-samar masih bisa kudengar.

    “Beres, Ardan bisa kubujuk. Tugas Desain Pemodelan Grafik dari Pak Sembiring sudah aman.”

    *aturannya 2-3 paragraf, tapi jadinya segini paragraf. Hehe. Ya, sudah. Yang penting ikutan. 🙂

    1. Hahaha. Sopo sing artis mas? Aduhhh. Sy mah bukan artis. Elek, item, buled, idup lagi… Mana bisa jd artis.
      Sok atuh. Mampir ke kantor sapa tahu ketemu. Wkwkwk.
      Ayo ikutan mas. Giveawaynya.

      1. Hahhahaha aku baca kreatif org2 aja dehh. Lucu2 endingnya. Ada aja pemikiran teman2 yg lain menutup ceritanya :). Ehh gak bisa gituuu sule aja ganteng abis bisa jd artis. Gak boleh merendah2 ahh… Heheheh

      2. Gak merendah masbro. Hanya mendeskripsikan diri apa adanya. Haha.
        Memang pada kreatip yak endingnya.
        Justru penasaran nih. Ending versi masbro gimana.

  12. Nama: Grant
    Blog: https://bbmagz.wordpress.com
    Twitter: @GlowingGrant
    Lanjutan cerita:

    ‘Memanfaatkan? Oke, memang kenyataannya begitu, kan? Apa salahnya itu? Kenapa mereka bertiga sekarang sepertinya membela si hina itu?’ pikir Dwi saat ia mengendarai mobilnya keluar dari tempat parkir di kampusnya. Ia mendengus kesal. ‘Dasar hina! Setelah keluar dari kelompokku kamu malah menarik simpati dari teman-temanku? Menyebalkan!!’ umpatnya dalam hati.

    Karena kesal, Dwi menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobilnya meluncur membelah keramaian. Dwi tak sadar ia menerobos lampu merah. Saat itu ada seseorang sedang menyeberang jalan. Dwi tak sempat menginjak rem. BRUKK!! Ia menabrak orang tersebut.

    “Oooh… Apa yang aku lakukan? Bagaimana ini?!” Dwi berteriak dengan panik. Seseorang mengetuk kaca mobilnya dan memaksanya keluar dari mobil. Dengan tubuh yang bergetar, ia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Ia berjalan terseok-seok ke arah kerumunan orang. Sirine mengaung-ngaung memekakkan telinga. Beberapa orang polisi berusaha mengamankan lalu-lintas yang mendadak kacau karena kecelakaan yang terjadi. Seorang di antara mereka menggiring Dwi dan menanyainya. Namun Dwi tak menggubris pertanyaan polisi itu. Matanya menatap sosok yang barusan ditabraknya.

    Si hina terbujur kaku bersimbah darah. Dwi menatapnya tak percaya. Pandangannya tak lepas dari tubuh gadis yang sudah terbujur kaku itu. “Dia meninggal di tempat!” teriak seseorang membuat Dwi semakin membelalakkan matanya. “Tidak… Tidak mungkin… Kalian pasti salah!” ujarnya. “Aku bukan pembunuh!! Aku bukan pembunuh!! Itu salahnya!!!” teriaknya histeris.

    * * *

    “Ini semua salahnya… Ini semua salahnya!! Salahnya kenapa ia menyeberang tidak melihat kanan dan kiri lagi!!” teriak seorang gadis dari balik pintu besi. “Si hina itu yang gila!! Dia yang gila!!” gadis itu berteriak lagi. Beberapa orang mendekatinya dan mencengkeram tangan serta kakinya. Salah satunya menancapkan sesuatu di tangannya. Seketika gadis itu diam tak bergerak. Kemudian orang-orang itu pergi meninggalkan gadis itu di dalam ruangan berpintu besi dengan posisi terkunci. “Dasar gadis gila!” kata salah satu dari mereka.

  13. Nama: Syifa
    Blog: engineerindisguise.wordpress.com
    Twitter: @syidil
    Lanjutan:
    Aku buru-buru pergi bersembunyi ke parkiran setelah mendengar percakapan Dwi dan yang lain di kantin. Ternyata mereka hanya butuh kemampuan otakku saja setelah selama ini aku rela mengorbankan waktu dan tenagaku untuk mereka. Mereka yang palsu, mereka yang hina, terutama si Dwi yang berlaga seperti bos di kampus ini. Padahal kalau tidak ada aku, mana bisa dia menyelesaikan tugas besar praktikum kemarin. Dwi memang tidak tahu terimakasih.

    Mobil-mobil silih berganti mengisi lapangan parkir yang terletak di belakang kantin. Keberadaanku lama-lama akan diketahui oleh mereka jika aku diam saja disini. Akhirnya aku beranjak dari situ agar seolah-olah aku terlihat baru datang dari gedung sebelah. Tak sengaja kulihat mobil merah metalik milik Dwi di parkiran. Warna merahnya seakan berkedip kepadaku menggoda aku untuk sekadar berpamitan. Ya, aku memang tidak akan pernah menaiki mobil ini lagi.
    “Balik yuk!” seru Louis. Perkataan Louis diiyakan oleh yang lain. Maka Dwi membuka kunci mobilnya dari jarak lima langkah. Sambil bercanda mereka masuk ke dalam mobil Dwi dengan riang. Melajulah mobil merah metalik itu dengan anggun. Aku berdiri di depan parkiran menunggu mereka melewatiku. Satu, dua, tiga.

    Sebuah klakson menggema dengan nyaring dari belakangku.
    “Dih, dasar hina udah gue usir masih aja nongol di depan muka gue!” teriak Dwi dari jendela mobilnya. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya yang selalu menyakitkan. Nanda dan yang lainnya hanya diam. Mobil merah metalik itu melenggang terus dengan anggun.
    “Dadah, hina!” seruku sambil melambaikan sebuah tang yang kugenggam dari tadi. Entah perkataanku tadi terdengar oleh mereka atau tidak. Yang aku tahu tak lama setelah mobil itu menghilang dari pandanganku, terdengar suara logam bermesin menghantam pohon. Yap, berhasil. Dunia ini memang tidak adil, maka akan lebih baik jika aku sendiri yang mencari keadilan itu. Dadah, Dwi dan kawan-kawan!

  14. Nama: Gara
    Blog: pwgara.wordpress.com
    Twitter: @gara_pw
    Lanjutan:
    “Sudahlah, yang penting dia tidak marah. Itu artinya,” Dwi menelengkan kepala, “sebenarnya dia juga risih terus sama-sama kita. Dia sadar dirinya tidak pantas. Bagus deh. Meski sebenarnya kalau dia masih tidak sadar, dia keterlaluan. Sudah diludahi begitu masih tidak merasa?” Bangga sendiri dia dengan sikap lalimnya.

    Nanda terdiam. “Ya, dia memang sadar,” akunya.

    “Kenapa kau kedengarannya tidak yakin begitu? Aku cuma melakukan hal yang benar, lho. Kita sudah pernah membicarakan ini, dan aku ingat betul tidak ada yang protes.”
    “Benar?” Suara Nanda menerawang. Jeda sejenak.

    “Ya, kuharap semua baik-baik saja.”

    Kata-kata semua orang di situ seperti tercekat kesunyian.
    ====
    Entah, tapi apa yang terjadi di dunia biasanya berkebalikan betul dengan apa yang dipikirkan atau diharapkan seorang manusia. Seakan dunia berkomplot untuk membodohi benak, seperti sutradara yang memperdaya penontonnya.

    Setidaknya begitu yang dirasakan Nanda. Pascapemutusan hubungan pertemanan antara mereka dengan gadis itu, Nanda selalu menghindar untuk menemuinya, tapi ia juga tak tahu, setiap kali ia berusaha menghindar, setiap kali itu juga mereka bertemu, entah bertemu pandang atau berpapasan. Santi selalu tersenyum, senyum tulus yang demikian tulusnya seakan di antara mereka sudah tidak ada apa-apa lagi, tapi perlakuan itu membuat Nanda merasa risi.

    “Ngeliatin siapa, sih, kamu?” Nisa menggoda di ruang kafetaria.

    “Hm? Nggak. Ada Santi di sana.”

    “Terus? Mau nyamperin?”

    Nanda menoleh, menatap tidak percaya. “Gila! Mau ditaruh di mana mukaku? Bagaimanapun aku juga sudah bertekad untuk jauh-jauh dari anak itu. Aku kan bukan orang yang suka memanfaatkan orang dan mengemis untuk memintanya kembali!”

    Nisa cekikikan. “Oke deh…”

    Gusar, Nanda menyedot jus alpukatnya. Pandangannya yang tak bisa diatur itu lagi-lagi melayang ke meja tempat Santi duduk, dan kali itu, tatapan mereka bertemu.

    Santi tersenyum, memang. Senyum yang sangat normal. Tapi dari sini Nanda bisa melihat sesuatu yang berbeda, yakni tangan gadis itu yang sedang bermain di bawah meja.

    Tangan yang meremas, mencabik, dan merobek sapu tangan yang ada di genggaman tangannya yang bergetar itu.

    Detik itu, Nanda bergidik. Darahnya tersirap.
    =====
    “Aduh, bisa gila gue,” Dwi mengeluh di depan kaca toilet wanita di kampus. Dia mencuci muka dan mengambil tisu banyak-banyak sebelum menepuk mukanya agar kering. Untung saja toilet sepi, tidak ada petugas kesehatan yang protes karena tisunya cepat habis. Ya elah, batinnya, kalau lo mau gue beli pabrik tisu itu juga bisa.

    Tiba-tiba saja perutnya sakit minta buang air. “Dasar dagang ketoprak setan,” gerutunya. Ia berusaha membuka pintu-pintu kamar kecil tapi tak ada satu pun yang berhasil.

    “Setan! Rusak semua, apa?”

    Dwi pun tanpa pikir panjang membuka pintu toilet yang paling ujung, dan bahkan tidak sempat berteriak ketika pandangannya mengabur dan menghilang.

    Seseorang menghantam kepalanya dengan barbel.
    ***

    Okay. Malah panjang. Haha. Sorry.
    Dan tidak ada nama si cewek yang diludahi itu, jadi saya mengumpamakannya sebagai Santi :haha.
    Terima kasih sudah membuat saya menulis fiksi lagi :haha. Dan sekali lagi maaf kalau dirasa kepanjangan. *kabur*

  15. Nama:Dani
    Blog:danirachmat.Com
    Twitter:@danirachmat
    Lanjutan cerita=
    Dwi melangkah gontai menuju Honda Jazz RS merah tahun 2014 yang terparkir rapi di luar gedung kampus. Berat sekali keputusan yang harus dia ambil dan peran yang dia mainkan sekarang. Dia bersyukur mengetahui apa yang sebenarnya terjadi lebih cepat.

    “Mama tarik semua dana di bank! Lakukan perlahan-lahan dan dalam jumlah yang tidak terlalu mencolok. Ajaklah jtu kerjasama si Gita kepala cabangnya. Bilang aja mau fipake bayar proyek apa. Trus buka rekening atas nama Reta ponakan Mama yang desainer itu. Hari ini juga ya Ma!” Dwi mendadak berhenti di selasar menuju ruang keluarga ketika mendengar papanya berteriak ke mamanya.
    “Memang kenapa Pa? Kok tiba-tiba begini? ” bergetar suara Mama Dwi menanggapi.
    ” Tiga bulan dari sekarang kalau kita tidak segera membersihkan catatan kita, si Mamad sok suci itu pasti akan menarik aku ke lubang penjara. Aku gak tahu bagaimana nasib kalian nanti! ” dengan suara semakin meninggi Dwi mendengar papanya menjelaskan.

    Pikiran Dwi kalut. Selama ini dia selalu hidup tenang dan berkelimpahan kemewahan. Diapun dikenal sebagai kelompok “ITU” berkat kekusaaan papanya. Meskipun tidak pernah merasa itu adalah hal yang istimewa. Sampai suatu saat anak itu bergabung dengan anggotanya. Anak sederhana yang berjuang untuk bisa sekolah di kampus yang sama dengannya. Usulan memanfaatkan kepandaian teman-temannya terasa kejam tapi Dwi melihat ada hubungan yang saling menguntungkan. Paling tidak anak itu akan merasakan lingkaran kekuasaan juga.

    Tapi Dwi lebih dari memahami bagaimana media bekerja. Dia tidak mau kehormatan teman-temannya ikut terseret arus memalukan yang menimpa papanya. Meskipun sekarang terasa berlebihan, menjauhkan temannya adalah prioritas utama. Terutama si anak yang dia panggil hina itu. Terutama dia.

    Dwi yakin dia cukup pandai untuk melihat motif di balik perlakuannya saat ini. Akan ada cukup waktu nanti untuk meminta maaf.

    Bagaimana cara untuk menunjukkan bahwa dia bukanlah sekedar “anak papa” adalah prioritasnya saat ini ini.

      1. Iya kan tuh hadiah GA ada 2 yg SK II for woman ma man. Nah yg woman selamat. Yang man hancur lebur. Sedih. Kalau beli sendiri udah nangis gegulingan kali.

        Nggak tahu susah soalnya lagi nggak ada mood nulis. Hutang english fridayku banyak… Ma sibuk laporan juga sih. Ya ini susah karena akunya paling lagi g mood+sibuk+galau+males+ngantuk.. *curcol

Comments are closed.