fbpx

Dear Papa – Review

Berikut surat saya untuk ayah terkait review Dear Papa di blog satunya.

Dear Papa,

Dulu… aku suka kesal sama papa karena papa selalu membanding-bandingkan dengan teman. Setiap pulang membawa hasil ulangan dengan nilai yang tidak jelek, pasti papa akan bilang: “Ah, si anu dapet 10.” Padahal papa tuh gak pernah tahu nilai dia sebenarnya berapa – yang pasti di bawah nilaiku kok.

Tapi sekarang… aku tahu Pa. Itu sebenarnya cara papa mendidikku agar aku berusaha lebih lagi. Memang, setiap dibilang seperti itu, aku kesal dan akhirnya membuktikan ke papa kalau nilaiku bisa kok 10 – gak mungkin dong kalah sama yang lain kalau dah dapat 10. Dan akhirnya memang aku gak pernah lepas dari ranking 10 besar di kelas sampai aku SMEA.

Pa… tahu gak satu hal lagi yang ngeselin dari Papa?

Suara gigi papa tuh.  Kalau pas tidur kan papa suka banget ngadu gigi papa tanpa papa sadar. Bunyinya itu loh…. Berisik banget. Bikin orang gregetan. Mama juga gregetan. Tapi sekarang, papa dah gak ada, dan suara gigi itu yang aku kangenin.

Satu hal yang paling aku ingat pa… pas papa masuk rumah sakit kedua kalinya. Wajah papa tuh dah benar-benar menahan sakit banget. Aku Cuma bisa di samping papa doang dan megang tangan papa. Papa ngeluh dada papa panas dan segalanya akibat komplikasi penyakit yang papa idap. Maafkan aku ya pa.

Bahkan di saat terakhir papa, malah aku gak bisa di samping papa. Aku ingat banget, baru aja aku sama cici sampai depan rumah, setelah dari rumah sakit. Koko tahu-tahu telepon aku. Dan bilang kalau aku sama cici harus balik segera. Dan sampai di rumah sakit, papa dah di ruang seberang yang tadi papa dirawat. Dan ternyata papa dah gak ada. Tapi wajah papa tenang banget. Damai.

Satu lagi kejadian dalam hidupku yang aku gak bakal lupa pa… pas wisudaku. Hanya wisudanya aku yang tanpa kehadiran papa. Karena memang aku paling belakangan wisudanya. Tapi aku bahagia pa. karena saat itu mama nunggu aku turun dari podium setelah aku diwisuda, memeluk aku sambil nangis, dan membisikkan: ‘papa pasti bangga lihat kamu wisuda.’ Dan aku tahu itu benar pa. Aku sih benar-benar berharap kalau aku memang membuat papa bangga di atas sana.

Pa…

Aku gak minta banyak ke papa. Aku minta maaf jika aku belum bisa membahagiakan papa selama ini – termasuk di saat-saat akhir papa, gak bisa beliin makanan yang papa mau. Dan juga aku minta ke papa untuk selalu melindungi mama dan kita sekeluarga ya pa.

I miss you dad – ini satu hal yang sangat jarang kita bicarakan ya pa. Tapi aku tahu papa sayang aku dan aku juga sayang sama papa.

Jakarta, 9 September 2013.

Kalau teman-teman sekalian diminta menuliskan surat kepada Ayah, apa kira-kira yang akan dituliskan ya?

28 Comments

  1. Oh Mas Gusman! 20 September 2013
    • Ryan 20 September 2013
  2. utie89 19 September 2013
    • Ryan 19 September 2013
      • utie89 20 September 2013
      • Ryan 20 September 2013
  3. winnymarch 18 September 2013
    • Ryan 18 September 2013
      • winnymarch 18 September 2013
  4. araaminoee 18 September 2013
    • Ryan 18 September 2013
  5. abi_gilang 18 September 2013
    • Ryan 18 September 2013
  6. pursuingmydreams 18 September 2013
    • Ryan 19 September 2013
  7. pak bakul 18 September 2013
    • Ryan 18 September 2013
      • araaminoee 18 September 2013
      • Ryan 18 September 2013
      • pak bakul 18 September 2013
  8. jampang 18 September 2013
    • Ryan 18 September 2013
  9. potretbikers 18 September 2013
    • Ryan 18 September 2013

Leave a Reply