fbpx

Love and Lost

Dari milist.

Hari ini tiga tahun yang lalu, 5 Oktober 2011, Steve Jobs meninggal dunia.

Steve Jobs dilahirkan sebagai anak yang tidak diharapkan lahir dari pasangan yang tidak mampu. Ia kemudian diberikan kepada pasangan lainnya untuk dibesarkan dan dididik dengan lebih baik. Ternyata anak yang tidak diharapkan lahir ini kemudian mengubah dunia dan gaya hidup manusia dengan produk-produk luar biasa.

Apa yang kemudian menarik dari cerita hidup Steve Jobs dipaparkannya ketika memberikan pidato di Stanford University, salah satu Universitas terbaik di dunia. Tentang love and lost. Steve sebagai pendiri Apple dan orang yang sangat mencintai pekerjaannya, pernah ditendang dari perusahaan yang didirikannya tersebut, berbulan-bulan setelah itu dia merasa sangat kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya dan merasa ada disorientasi dalam hidup.

Namun Steve Jobs akhirnya bangkit dan mendirikan dua buah perusahaan besar NEXT dan PIXAR. Next kemudian dibeli kembali oleh Apple dan menjadikannya kembali sebagai CEO Apple yang menyelamatkan Apple dari jurang kebangkrutan dan menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor teknologi informasi.

Love and Lost mengajarkan kita untuk tidak mencintai segala sesuatu di dunia ini secara berlebihan karena suatu saat itu akan hilang. Love and Lost juga mengajarkan kita untuk tidak berputus asa atas rahmat Allah, karena segala sesuatu yang buruk menurut kita tanpa kita ketahui itu baik bagi kita.

Steve Jobs terdeteksi kanker dan divonis mati oleh dokter pada tahun 2004, namun jauh sebelumnya sejak berusia 17 tahun, setiap pagi ketika bangun tidur, Steve selalu melihat di cermin dan berkata kepada dirinya sendiri “Suatu saat kematian pasti akan menimpa diriku, apapun yang terjadi. Seandainya hari ini adalah hari terakhirku, maka hari ini aku harus bermanfaat kepada orang lain.”
Berbagi itu Memberi, memberi adalah menanam, setiap yang kita tanam akan bebuah lebih banyak. itulah rahasia dan keajaiban memberi dan berbagi.
Hati yg mau memberi dimulai dari hati yg terbuka utk ber empati kpd orang lain yg memerlukan uluran kasih. Sdgkan hati yg tergerak utk berempati kpd orang lain adalah hati yg telah digerakkan oleh ucapan syukur atas apa yg telah mereka terima selama ini dalam kehidupannya. Baik itu kesehatan,jabatan maupun kecukupan lainnya. Tantangan seseorang dalam memberi adalah kemampuan diri utk merendahkan hati guna melayani orang lain. Semakin kuat label yg diberikan masyarakat kpd seseorang shg ia menjadi populer, biasanya semakin enggan pula baginya utk memberikan pelayanan terbaik yg dilandasi dengan ketulusan. Kecuali bila diikuti dg meningkatnya ketaqwaan kepada Sang Pencipta. Alloh Adza wajala. Bukankah derajat seseorang akan semakin ditinggikan ketika ia mampu merendahkahkan diri untuk melayani orang lain? Berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita adalah hal biasa dan normatif. Namun berbuat baik dan memberi kepada orang yg
telah berbuat jahat kepada kita adalah hal yang luar biasa. Hanya orang – orang dengan tingkat pemahaman spiritualitas yang tinggilah yang mampu melakukan hal semacam itu. Sukses kita dalam menjalani kehidupan ini bukan dari apa yang sedang dan akan kita raih, melainkan sudah seberapa banyak yang sudah kita berikan untuk sesama.

10 Comments

  1. aqied 9 Oktober 2014
    • Ryan 9 Oktober 2014
  2. Ie 9 Oktober 2014
    • Ryan 9 Oktober 2014
  3. jampang 9 Oktober 2014
    • Ryan 9 Oktober 2014
  4. danirachmat 9 Oktober 2014
    • Ryan 9 Oktober 2014
  5. Ika Koentjoro 9 Oktober 2014
    • Ryan 9 Oktober 2014

Leave a Reply