fbpx
Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

Jangan Sampai Kamu Dalam Yang Nomor 9 Ini

2 min read

depresi atau tidak

Beberapa hari lalu, saya mengikuti (lagi) acara semi workshop mengenai Depresi. Kenapa Semi Workshop? Karena sebenarnya acara ini terbatas pada orang-orang yang akan terlibat dalam proyek yang sedang dilakukan oleh seorang mahasiswi jurusan Psikologi. Dia ini sedang membuat proyek untuk mengatasi depresi secara online, yaitu Mbak Retha Arjadi.

Sumber: wikipedia.

Depresi Dan Konsep Online Treatment

Katanya, ciri ciri orang yang depresi itu cenderung menarik diri dari keramaian dan kebiasaan sehari-hari mereka. Cenderung enggan melakukan apa-apa. Ini yang sudah akut depresinya. Adalah lebih baik menemui ahlinya kalau sudah menemui yang seperti ini.

Namun, seperti kata Mbak Aretha sendiri, biaya konsultasi per jam itu mahalnya minta ampun, karenanya banyak yang enggan datang dan konsultasi. Dengan latar belakang seperti inilah, dia mencoba membuat program online di mana orang-orang yang menderita depresi bisa ditangani lebih cepat.

Kenapa dengan online? Ya kita sekarang kan hidup di era digital ya, hampir setiap orang itu sudah memahami dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan kalau dengan online, diharapkan akan lebih banyak yang tertangani, karena yang dibutuhkan adalah waktu dan uang yang lebih sedikit untuk mengaksesnya.

Dan agar konsultasi tentang depresi secara online ini bisa berjalan, dibutuhkan orang-orang yang mau membantu sebagai konselor awam. Tugas mereka tidaklah termasuk memberikan penyembuhan, tapi lebih ke arah membantu memahami gejala depresi dan mengaktifkan orang tersebut kembali ke kegiatan sehari-hari mereka.

Saya mendapatkan info mengenai proyek ini tahun lalu dari seorang teman (yang tak perlu disebut namanya cukup hati ini yang mengingatnya #tsah) dan setelah mendaftar serta melalui proses wawancara, saya masuk dalam proyek sebagai konselor awam.

Tugas konselor awam ini lebih kepada membantu mereka mengatasi depresi dengan deretan langkah-langkah yang sudah disiapkan di sebuah website (maaf gak bisa share websitenya di sini). Nah salah satu langkah yang digunakan adalah 9 pertanyaan dalam kuisioner kesehatan berikut.

Kuisioner Kesehatan – Apakah Kamu Termasuk Yang Depresi?

Kuisioner ini saya dapatkan dari acara itu dan seijin yang menyelenggarakan, saya memuatnya di tulisan ini. Menurut beliau, kuisioner ini juga dia sadur dari kuisioner yang dikembangkan oleh Dr. Robert L. Splitzer, Janet B. W. Williams, Kurt Kroenke dan rekan.

Ingin tahu apa kuisionernya dan coba ikutan tesnya? Pas mengisi kuisioner ini, ingat frame waktunya ya, yaitu dalam 2 (dua) minggu terakhir.

Gimana? Sudah mengisi kuisioner di atas belum? Kalau belum ya belum bisa dinilai nih. :d

Di antara ke-9 pertanyaan di atas, nomor 9 itu paling bahaya. Makanya, jangan sampai mengalami yang seperti di nomor 9 ini. Saya sendiri mungkin boleh dibilang mengalami juga beberapa tahun lalu karena sebuah cerita, untungnya ada sahabat yang setia menolong dan membantu saya.

Penilaian Kuisioner Kesehatan Di Atas

Kalau kalian perhatikan kuisioner di atas selalu berisi 4 jenis jawaban, yaitu Tidak Pernah, Beberapa hari, Lebih dari separuh, dan hampir setiap hari. Nah masing-masing dari jenis jawaban ini memiliki score untuk menentukan berapa besar nilai akhir kita.

Score masing-masing jawaban adalah sebagai berikut:

Tidak pernah – 0

Beberapa hari – 1

Lebih dari separuh – 2

Hampir tiap hari – 3

Berapa total akhir nilai kalian? Cara menghitung nilai akhirnya adalah sebagai berikut:

Tidak pernah (#) ___ x 0 =

Beberapa hari (#) ___ x 1 =

Lebih dari separuh (#) ___ x 2 =

Hampir tiap hari (#) ___ x 3 =

Total Score = ____

Termasuk yang depresi atau tidak? Coba bandingkan dengan gambar di bawah ini ya hasilnya.

depresi atau tidak
Jadi, kamu termasuk depresi atau tidak?

Akhir Kata

Saya hanya bisa share sampai di sini saja ya. Kalau tentang cara mengatasi depresi sendiri harus kembali ke psikiater eh apa psikolog ya? Hmmm… saya sendiri masih agak bingung sih beda antara keduanya apa. Sebagai konselor awam, saya hanya membantu dalam memastikan mereka mengikuti program yang ada.

Kalau untuk penanganan lebih serius akan dibantu oleh ahlinya. Seperti yang tertulis di kuisioner nomor 9, kalau sudah seperti ini, bukan lagi tanggung jawab konselor awam. Tapi untuk mengatasi mereka yang mengalami depresi dan menghadapi nomor 9 ini, sudah harus ke ahlinya langsung. Setidaknya, dari kuisioner di atas kita bisa tahu, apakah kita sendiri depresi atau tidak. Benar bukan?

Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

52 Replies to “Jangan Sampai Kamu Dalam Yang Nomor 9 Ini”

  1. Score saya 24. Akhir2 ini emang lagi banyak banget pikiran, jadinya Malah nangis Kejer Dan gk berenti2. Sering ngerasa berasalah dan Nggak berguna.. Pengen cerita Tapi gak Ada yg peduli. Sempet buat ngelakukin hal yg Di Nomor terakhir, Tapi saya takut dosa.. Hehe

  2. skor saya 20, kalo lagi ada masalah juga suka susah cerita ke orang lain dan gatau harus gimana jadi dipendem aja sendiri soalnya bingung hehe

  3. Skor saya 9, termasuk depresi ringan. Tapi ini udh menyiksa banget. Gak bisa bayangin yg punya depresi berat.

  4. Pak gimana ya saya dapet 14 point.. memang saya sudah lama merasa seperti ini.. ingin ke psikiater tapi bingung gimana caranya orang tua saya mau mengantar saya ke psikiater.. kalau saya bilang pasti mereka menganggap tidak penting dan tidak perlu.. seandainya saya memaksa pasti ditanya mengapa.. jujur saya tidak bisa mengungkapkan semua isi hati pikiran dan perasaan saya kepada orang tua maupun orang lain..bagaimana pak ?

    1. Mbak Auliya, memang agak susah kalau dianggap tidak perlu.
      Saran saya dan teman – mbak bisa cari group support (bisa teman atau sahabat) untuk saling curhat. Ini membantu sih – setidaknya dalam kasus saya. saling bercerita satu sama lain itu menolong.

  5. Nafsu makan masih menggila. Gampang tidur. Untunglah #eh. Pertanyaan kalau online kelemahan terapisnya kan tidak bisa lihat bahasa tubuh atau melakukan gesture mimicking, dsb. Bagaimana solusinya?

  6. Sebagai mantan mahasiswi Psikologi SMT 1 doang (HAHA) bedanya psikolog dan psikiater itu adalah…
    Psikolog utk gangguan kejiwaan yg tidak memerlukan bantuan obat (hanya konsultasi dan terapi) dalam penyembuhannya, dan tidak diperkenankan mengeluarkan resep obat. Sedangkan psikiater menangani pasien yg membutuhkan perawatan medis dan boleh mengeluarkan resep obat. Oleh karenanya, utk kasus depresi spt ini masih bisa ditangani oleh Psikolog, seperti Mbak Retha itu.

  7. aya masuk kategori minimal depression..
    Alhamdulillah
    sebenarnya yang utama dari hidup ini adalah kebahagiaan…dalam bentuk apapun itu
    sepanjang kebahagiaan diraih, depresi akan rendah..
    Gtu kan mas?

    Salam

  8. Alhamdulillah skornya 4, makan selalu semangat kalo ga nafsu biasanya karena ga ada sambel, depresi sebenernya rugi lho, karena banyak bgt yg menarik di dunia ini jd mending terus explor apa yg menarik minat kita, fokus ke itu spy kita lupa sama hal yg bikin kita sedih/depresi

    1. Syukurlah masih 4 mbak Wenda. 😀 Setuju banget tuh. Harus memikirkan dan explor apa yang menarik buat kita.

      Aduhhh…ternyata penggemar berat sambal ya. Hmmmm….

  9. Paling parah cuman pengen ngilang aja dari semua orang. Putuskan semua koneksi. Alhamdulillah gak pernah nyampe ke nomor 9. Kalo hasil isi kuisionernya sih kebanyakan di tidak pernah. ? Hamdalah! 😀

  10. Duh yang nomor 9 duluuuu pernah, sampai merancang metodenya segala. Tapi selalu ingat konsekuensi (dari agama), jadi gak pernah dikerjain. Kalau sekarang diingat2 lagi, suka mikir “apa-apaan deh sampai kaya gitu” 😀

  11. Saya mungkin masih termasuk yg paling ringan ya. Belum depresi dan berharap enggak! Tapi memang, salah satu kuncinya sih enggak menyangkal kalo lagi punya masalah dan mulai mencari “peer” untuk berbagi.

    Some peoples said “kembalilah ke jalan Tuhan and bla bla bla”. I do agree. Tapi lebih dr itu mereka juga perlu berbicara dengan orang lain. Karena berapa banyak mereka yg (terlihat) relijius tapi memutuskan utk mengakhiri hidupnya?

    1. Wuaduhh. Pertanyaan dalem nih mas Nuno. Tp memang kita ini mahkluk Tuhan dan sosial at the same time. We do need others.

      Udah isi blm mas kuisionernya?

Comments are closed.