fbpx
Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

Kebenaran

1 min read

Mana yang benar?

Saya pernah baca sebuah tulisan di sebuah buku dengan subjudul 8 x 3 = 23, karya Budi S. Tanuwibowo – Bertambah bijak setiap hari – 8 x 3 = 23.

Diceritakan ada seorang Guru Bijak yang memiliki murid yang pintar. Disebut dengan Putih. Putih adalah anak tercerdas. Suatu hari ada murid lain yang menantang Putih. Si Bodoh… dia menantang kepintaran Putih. 

“8 x 3 berapa?” Tantang bodoh. Tentu saja dengan segera dijawab oleh Putih dengan 24. Namun si Bodoh bersikeras bahwa hasil yang benar adalah 23. Karena tidak ada jalan tengah akhirnya si Bodoh mengajak Putih untuk menghadap Sang Guru.

“Jika aku salah… kau boleh potong kepalaku ini. Tapi jika kau salah… kau harus copot topimu.” Ucap si Bodoh dalam perjalanan menemui Sang Guru.

Di hadapan Sang Guru, diceritakan semua dan Sang Guru segera menjawab: 8 x 3 = 23. Si Putih sangat kecewa. Segala hormatnya kepada Sang Guru selama ini tiba-tiba saja menguap mendengar jawaban Sang Guru. Dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya.

Sang Guru hanya tersenyum dan berkata: “Jika hujan besar nanti. Janganlah kamu berdiri di bawah pohon besar”. Tak lama berjalan… hujan memang turun dengan deras. Si Putih saat itu sedang berdiri di bawah pohon besar. Tiba-tiba teringat ucapan Sang Guru dan segera pindah. Tak lama bergerak meninggalkan pohon itu, kilat segera menyambarnya.

Si Putih segera memutuskan untuk kembali ke Guru karena dia yakin Gurunya adalah guru yang pintar. Ternyata sang Guru sudah menunggu di depan pintu. Segera Putih menanyakan mengenai ‘lomba’ dengan si Bodoh tadi. 

Bagaimana menurut kalian?

Salahkah sang guru menjawab bahwa murid kedua yang benar? Apa yang akan kalian katakan bila kalian adalah sang guru?

Kelanjutannya, jawaban sang guru dapat dibaca besok pagi pada jam yang sama. Password untuk akses blog adalah tanggal favorit saya (ada di salah satu postingan sebelumnya – dan juga jawaban matematis dari yang dipertanyakan sang murid)

Febriyan Writing about life and anything that happen in life is one of my to do things. That's the reason blog Blog Review, Tips & Inspirasi by Febriyan Lukito born. Now I also admins for: Tempat Nongkrong Seru Pikiran Random Tulisan Blogger Indonesia

64 Replies to “Kebenaran”

  1. kupikir guru itu mengatakan begitu karena mempertimbangkan beda hukuman yang diberikan potong kepala vs copot topi… tapi eh penasaran ..memang kenapa sebenarnya sang guru menjawab begitu? pasti ada penjelasannya Mas Ryan..

    1. iya mba. ada kok lanjutannya. di postingan yang pakai password setelah ini, Jawaban Sang Guru.
      Passwordnya kan dah dikasih clue di postingan ini

  2. Seru banget, Mas, hehe….

    Saya punya jawaban sendiri. Tapi rahasia :p

    Btw, ada lagi buku yg sangat menarik ttg kebajikan. Judulnya Bowero, tulisan Wandi S. Brata. Sayang buku itu sekarang sudah ngga ada di toko-toko besar seperti Gramedia.

      1. udah bro, bayam + daun singkong sama sambel trnyata mujarab utk mengembalikan otak kembali dedel…hahaaha.

        intinya saya suka sama tulisan sampeyan ttg filsafat di atas..
        kalau boleh menebak (mudah2an tebakannya keliru..)
        the man who doesn’t know, and he doesn’t know that he doesn’t know,he is stupid. Go away from him…
        pokoknya sing waras ngalah aja, kearifan tdk boleh hilang hanya sebab sepele apalagi harus menghilangkan nyawa orang lain..

      2. wah… sayuran hijau memang bagus ya mas? 😀

        tapi kalau dijauhi terus, si bodoh takkan pernah jadi pintar dong?

        jawaban si guru sih ada di postingan lainnya mas

      3. haha…lha wong mau mamam di fred ciken, kentaki, atau mek donal saya nggak suka dan yo ora gablek duit kok hehehe..,jadi dengan sangat bangga saya milih nrimo bayem, kangkung, dan daun singkong…ples sambel krosek bawang…

        katanya ya…katanya lho ini. orang bodoh itu ada 2..
        1. rojulun la yadri fahuwa la yadri annahu la yadri..

        2. rojulun la yadri fahuwa yadri annahu la yadri..

        pd kasus di atas si bodoh termasuk kategori #1, bodoh tp nggak merasa kalau dia bodoh, biasanya sok tahu dan maunya bener sendiri..diajari juga paling2 ngeyel saklek. kaku nggak mau menerma ilmu baru dn pendpat orang lain,lha kalau eyel2an dengan orang macam begini, apa bedanya si pintar yg arif dan bijak dngan si bodoh..?

        jk si bodoh termasuk kategori #2, bodoh tp mnyadari kebodohannya dan mau belajar, si bodoh yg begini hendaknya dituntun dan diajari..

        saya belum sempat baca jawaban si guru pd postingan Mas Ryan..nanti Insya Allah saya baca..

  3. saya kok mendapat kesan gurunya membenarkan si bodoh untuk menyelamatkan si bodoh ya … meskipun yang dilakukan sang guru itu salah, tapi bisa jadi kedepannya menyelamatkan lebih banyak korban … bagi si bpdph, tentu kepalanya terselamatkan. Bagi si putih, dia bisa belajar bahwa kadang-kadang, kebenaran tidak bisa diterapkan secara kaku. Dalam contoh ini, kalau kebenaran di terapkan secara kaku, si bodoh tidakpunya kesempatan untuk mengetahui yang benar, karena kepalanya terlanjur di penggal … *komen yang panjang :mrgreen:

  4. Saya pernah baca cerita ini. Bukan masalah benar atau salah jawabannya kayanya ya? Tapi bagaimana si guru dituntut bertindak bijaksana.. 🙂

  5. kebenaran memang pait, selayaknya tidak perlu bertaruh apalagi dengan orang bodoh.. tidak ada untungnya. jadi katakan saja maaf aku ndak mau bertaruh 🙂

      1. benar seperti kata pak iwan,
        ini seperti penyesatan ketika ketika pembenaran logika sibodoh tanpa mendidiknya
        penyalahan kepada sibenar tanpa komunikasi…

      2. terus bagaimana dong?
        btw kalau mau tahu jawaban si guru setelah si benar kembali, ada kok postingannya, tapi harus masukkan kata sandi. 😀

  6. Saya pernah melihat bukunya di Gramedia.

    Begini, mas Ryan.
    Si Bodoh itu mungkin saja belum pernah belajar Matematika praktis.
    Kenapa si Guru itu tidak meluangkan waktu untuk mengajarinya matematika secara simpel agar mudah dipahami oleh si Bodoh?
    Daripada berkorban dengan dalih menyelamatkan si Bodoh.

    1. Nah… jadi menurut mas, apa yang dilakukan oleh si guru itu sebenarnya salah ya.
      tapi kalau diajarkan saat itu juga ke si Bodoh, bukannya nanti si Bodoh akan benar-benar penggal kepala mas?
      Gimana dong?

      1. Menurut saya, lebih baik diajarkan dulu, daripada memelihara kebodohan.
        Apa artinya terus hidup kalo hidup dalam kebodohan, seperti zombie.
        Jadi begini …
        Bikin kesepakatan terlebih dahulu yaitu:
        [1] Menunda taruhan sampai si Bodoh itu benar-benar diajarkan ilmu pasti.
        [2] Setelah pengajaran selesai, akan ditinjau ulang apakah taruhan tetap dilanjutkan, atau hukumannya diganti.

      2. Kalau dalam ajaran islam, white lies itu hanya ada dalam 3 kondisi:

        1. Menumbuhkan kebaikan kepada 2 orang yang sedang berselisih, agar mereka kembali berdamai. Misalnya si Guru kepada si B ngomong baik-baik tentang A, di lain hari si Guru kepada si A ngomong baik-baik tentang B.

        2. Menghindari bahaya yang lebih besar, seperti melindungi pemimpin.

        3. Menyenangkan istri.
        Itu sesuai dengan bunyi hadits.

        Nah, dalam kasus si Bodoh tadi saya tidak melihat urgensinya dalam memenuhi syarat di antara 3 poin di atas. Jadi, saya tidak setuju.

      1. Gurunya benar untuk membenarkan orang bodoh. Karena percuma berdebat dengan orang bodoh. Dan pengorbanan orang bodoh itu terlalu besar untuk membenarkan kebodohannya..

      2. Hmm… seperti halnya berbohong. Kita boleh berbohong untuk kondisi tertentu, misalnya nyawa kita terancam. Dalam cerita ini kan taruhannya nyawa orang bodoh itu..
        Jadi mungkin kalimat pertanyaannya dirubah aja mas jadi seperti ini: Kebohongan itu apakah diperbolehkan untuk mebenarkan? jawabannya: Ya! 😀
        #korasanyablibet

  7. berbohong untuk menyelamatkan orang “yang bodoh” agar suatu saat kebodohannya bisa berubah menjadi cerdas…. begitu kali yah pendapat si guru

  8. Aku rasa tindakan Sang Guru menyalahkan jawaban si Putih sudah tepat kalau memang taruhan yang dilakukan adalah serius. Bukankah lebih baik ada orang kehilangan topi daripada ada orang lain yang meninggal gara-gara kehilangan kepala? Seorang yang bodoh belum tentu tidak berguna bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *