fbpx
Big Difference 1

Big Difference

Big Difference 2
taken from: http://cdn.raamdev.com/media/images/swtmabd-cover-585×452.jpg

Big Difference

There is little difference in people, but that little difference makes a big difference. The little difference is attitude. The big difference is whether it is positive or negative.

Ada perbedaan kecil di antara orang-orang, tetapi perbedaan yang kecil itu membuat suatu perbedaan yang besar. Perbedaan kecil itu adalah sikap. Perbedaan besar itu bisa negative atau positif.

Attitude

Attitude diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai sikap, perilaku. Kalau kita ambil dari wikipedia, attitude diartikan sebagai sebuah konstruksi hipotesis yang mewakili pandangan (baik menyetujui atau tidak menyetujui, suka atau tidak suka) terhadap suatu barang/keadaan.

An attitude is a hypothetical construct that represents an individual’s degree of like or dislike for an item. Attitudes are generally positive or negative views of a person, place, thing, or event– this is often referred to as the attitude object. People can also be conflicted or ambivalent toward an object, meaning that they simultaneously possess both positive and negative attitudes toward the item in question.

Lebih lanjut, artikel dalam wiki mengatakan bahwa attitudes itu adalah penilaian demi penilaian. Attitude ini merupakan hasil dari model ABC (Affect, Behavior dan Cognition).

Menurut model ini, attitude dimulai dengan adanya emosi/sifat seseorang (affection) yang kemudian ditunjukkan lebih verbal melalui perkataan dan tidakan yang sering disebut behavior dan diakhiri dengan sebuah kepercayaan atas sesuatu hal tersebut (cognition).

Attitude ini dapat berubah seiring jalannya waktu. Tidak semua attitude itu selalu sama. Perubahan ini bisa dilakukan oleh manusia manapun dengan cara merubah cara pandangnya dan menerapkan sedikit demi sedikit (menjadikannya sebagai behavior) dan kemudian menanamnya kembali.

Jadi attitude itu bukanlah suatu hal yang mutlak kawan… bisa dirubah asalkan ada keinginan dari dalam, dari orang itu sendiri, untuk merubahnya. Bukan hal mustahil kok.

Positive or Negative

Sebenarnya selalu ada dua sisi di dunia ini. Yin or Yang. Baik atau buruk. Benar atau salah. Ayah atau ibu. Bahkan koin pun mengikuti konsep ini: dua sisi mata uang. Ada apa ya dengan angka 2? Ga… saya ga akan bahas di sini… konsep dua sisi ini juga dianut oleh system pikiran kita.

Kita bisa berpikir mengenai sebuah keadaan secara positive atau secara negative. Pikiran positive tentunya lebih disukai oleh orang daripada pikiran negative.

Kenapa? Karena dengan pikiran positive, seseorang dapat melihat sebuah kejadian yang ada dari sisi baiknya. Apa manfaatnya kejadian itu dan apa yang dapat dia kendalikan dalam hidupnya agar kejadian positive itu membuat hidupnya menjadi lebih berarti.

Kebalikan dari positive, jika seseorang memandang masalah dari sisi negative, kecenderungan orang itu akan mengangkat masalah kecil menjadi sebuah masalah besar dan tidak memecahkan masalah itu tapi malah membuat masalah itu semakin rumit.

Sisi negative membuat seseorang menjadi prejudice (berprasangka buruk). Sedangkan sisi positive membuat orang lain dan diri sendiri menjadi bahagia. Bagaimana caranya?

Pikiran sebenarnya ada dalam kendali kita. “Tuan” dari pikiran kita adalah kita sendiri. Saat kita dihadapi pada sebuah kejadian, semua akan terlintas dalam pikiran kita. Pikiran kita akan mengolah satu per satu mengenai kejadian itu. Mulai dari awal kejadian tersebut sampai dengan akibat yang akan ditimbulkannya serta opsi demi opsi yang dapat kita pilih.

Opsi demi opsi yang muncul dalam pikiran kita mengenai sebuah kejadian terdiri dari opsi negative atau opsi positive. Saat melihat opsi demi opsi itulah sebenarnya kita ‘dituntut’ untuk memilih antara keduanya.

Artinya…. Setiap tindakan yang kita ambil dari sebuah kejadian adalah hasil dari keputusan kita sendiri. Keputusan dalam pikiran kita. Saat itu kita melihat opsi positive atau negative dan memilih di antara keduanya. Hal ini harus ditunjang lagi dengan kemampuan kita mengendalikan pikiran kita agar semua opsi terlihat.

Kecenderungan, jika sudah dihadapkan pada sebuah masalah, seseoarang cenderung untuk panik dan akhirnya mendorong pikiran negative dan memunculkan opsi negative dengan lebih banyak. Karena itulah diperlukan waktu saat menghadapi sebuah kejadian. Waktu yang singkat namun sangat efektif dalam membantu kita melihat beberapa sisi kejadian.

STOP – THINK – CHOOSE

Kita mulai dengan berhenti. Berhenti di saat kita menghadapi sebuah masalah. Berhenti dulu untuk dapat mengambil nafas sejenak. Hanya beberapa detik saja sudah cukup. Tarik nafas dalam-dalam saat menghadapi masalah. Saat mengambil nafas itulah, kita cenderung membuka diri kita dari sebuah opsi-opsi negative saja dan membuat opsi demi opsi positive itu muncul.

Satu demi satu opsi yang muncul menambah pilihan memang, akan tetapi pilihan yang muncul adalah pilihan yang memang ditujukan untuk membantu kita ke arah yang lebih baik. Bayangkan kita dihadapkan pada sebuah kejadian sebagai berikut:

– Kita berangkat dari rumah kita di pinggiran kota dengan menggunakan angkutan umum yang penuh sesak (lebay dikit ahhhhhh). Hanya dengan satu tujuan. Ikut sebuah acara pencarian bakat.

– Akhirnya kita tiba di tempat pendaftaran tersebut dan sudah di-ok-kan untuk ikut lomba itu.

– Saat kita masuk ke ruangan audisi – di hadapan penonton yang banyak, kita menggunakan baju terbaik kita yang akan mendukung kita dengan baik, tiba-tiba baik juri dan penonton semua, mentertawakan kita. Mocking kita karena penampilan kita tidaklah seperti artis demi artis sekarang ini.

Apa yang akan kita lakukan saat menghadapi itu? Apakah kita akan tetap maju? Ataukah kita akan berhenti?

Susan Boyle @ British Got Talent

Susan Boyle - British Got Talent
Susan Boyle – British Got Talent

Jika kita berhenti… tidaklah kita kenal seorang Susan Boyle hari ini. Yup… Susan Boyle. Memang dia bukan pemenang, tapi Juara 2 British Got Talent ini mengalami itu semua. Dia dicemooh karena penampilannya yang tidaklah artist look.

Saat dia maju untuk audisi di hadapan juri dan ribuan orang, hampir semua orang mencemoohnya. Meledeknya. Karena penampilannya bukanlah penampilan seorang artis. Tapi tahu tidak apa yang dia lakukan?

Dia bernyanyi… saat itulah semua orang mulai berbalik. Mereka memujanya. Dari seseorang yang tidak ‘ok’ muncul suara seorang dewi. Yup. Dia menyanyikan I Dreamed a dream. Dan lagu itulah yang menghantarkan dirinya menjadi juara dan menjadi artis sensasional.

Dia hanya mengatakan: “I know what they were thinking, but why should it matter as long as I can sing? It’s not a beauty contest.” That is a positive thinking my friend.

Dia hanya ingin bernyanyi dan bernyanyi sebenarnya tidaklah membutuhkan tampilan yang luar biasa. Tapi hanya diperlukan suara yang luar biasa. Dan dia tahu itu. Mungkin di saat itu pun dia dapat saja berpikir dan menghabiskan diri untuk mundur. Benar? Tapi tidak dia lakukan. Dia memilih untuk tetap maju.

Berpikirlah positive dengan stop dulu sekitar 5 detik.

Tarik nafas panjang dan pelan.

Rasakan setiap aliran yang masuk bersama nafas itu menjadi bagian dari diri.

Dan pilihan positive akan bermunculan.

Dari sana pikirkan baik-baik semua pilihan itu.

Dan pilihlah yang terbaik.

Jangan ragu memilih.

Setiap pilihan yang diambil akan membawa dampak.

Ketahui dampak yang dapat ditimbulkannya.

Ketahui semua akibat dan kita akan menjadi lebih baik dalam memutuskan.

Jangan ragu memilih hanya karena takut akan dampaknya nanti.

Biarkan semua terjadi dan mengalir.

Ketahui konsekuensinya.

Jangan merasakan ketakutan menghantui.

Karena ketakutan itu hanya akan membuatmu semakin menarik diri ke dalam pikiran negative. Semakin membuat kita hanya dalam penyesalan demi penyesalan saja.

Stop – think – choose.

Tiga tahap simple dan memudahkan diri kita membentuk pikiran positive. Ketahui semua konsekuensi pilihan. Dan terima hasilnya. Itu bagian dari pikiran positive.

Repost from blogspot

Leave a Reply