Febriyan Lukito

Peran Astra dalam Meningkatkan Kesadaran Berlalu-Lintas dan Mengajarkan Tanggung Jawab di Jalanan

Menikmati jalanan di kota besar seperti Jakarta itu agak susah ya. Saya ingat ketika kerja di bilangan segitiga emas, berjalan di trotoar saja dibilang salah harus hati-hati dengan sepeda motor. Para pengendara motor itu menggunakan trotoar untuk mendahului kendaraan yang pada stuck alias MACET.

Soal macet doang sih masih gak terlalu mengerikan ya – apa karena saya sudah terbiasa ya jadi agak cuek. Yang lebih mengerikan adalah melihat kecelakaan di jalan. Pernah lihat foto pengendara motor yang ditabrak bus TJ. Ngeri rasanya.

Terus saya pun teringat kejadian beberapa tahun lalu bersama rekan kerja. Kami sedang memutar mobil. Setelah melihat kanan kiri yang kosong lengang. Pas mobil sudah setengah jalan, tahu-tahu motor muncul dan menabrak bagian tengah mobil.

Kaget sih udah pasti. Lah tadi jalanannya kosong melompong gitu, tahu-tahu ketabrak. Pengendara motornya pun sudah menghilang dari mata. Kalau sudah kayak gitu, kita mau marah? Ke siapa?

Tanggung Jawab di Jalanan itu Siapa yang Punya???

Mau marah ke si pengendara motor? Lah orangnya dah ngilang, entah ke mana. Ke petugas yang gak ada di tempat kejadian? Aduhduh… petugas juga banyak kerjaan kali, gak semua jalan harus ditungguin kan?

Ke produsen mobil karena bikin mobil yang gampang ditabrak #lah??? Atau ke pemerintah karena pejalan kaki bikin macet #eh? Atau salah tiang listriknya?

Saya pribadi sih gak mau salah-salahan ya… cuma dari pengalaman itu, saya pun sadar, semua pengguna jalan punya tanggung jawab yang sama besarnya di jalanan – di kota manapun kita berada.

Misalnya nih, ketika saya berjalan kaki, maka saya punya tanggung jawab di jalanan yaitu berjalan di sisi yang seharusnya dan di tempatnya – ya trotoar (walau trotoar di Jakarta sudah banyak alih fungsi jadi tempat jualan sih #curcol).

Atau misalnya, ketika saya menggunakan Uber Pool, saya pun punya tanggung jawab di jalanan kan? Saya wajib mengingatkan uber driver untuk menaati aturan lalu lintas.

tanggung jawab di jalanan
Janji untuk tanggung jawab di jalanan di acara HUT 60 Astra di Surabaya

Apalagi kalau saya yang ada di belakang kemudi… tanggung jawab lebih besar dong ya.

Namun… apa yang saya lihat dan rasakan kalau di jalanan rasanya beda. Masing-masing kenapa merasa bukan tanggung jawab saya. Hal ini juga yang kemudian jadi kekhawatiran Astra sebagai produsen otomotif yang besar di Indonesia.

Keamanan Kendaraan Ditingkatkan, Tapi… Tanggung Jawab Di Jalanan Tetap Milik Bersama

Sebagai produsen kendaraan terbesar di Indonesia, Astra selalu berpikir bagaimana cara mengurangi tingkat kecelakaan di jalanan. Karena berdasarkan global status report on road safety, lebih dari 1 juta orang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia. Tiga hingga 4 orang tersebut berusia 15 tahun hingga 29 tahun.

Jumlah itu bukanlah jumlah yang kecil kan? Apalagi jika melihat usia yang meninggal tersebut.

Karena itu, dalam 60 tahun perjalanan, Astra senantiasa berusaha mengembangkan teknologi baru untuk diterapkan di setiap kendaraan yang diproduksinya (sejalan dengan butir 2 Catur Dharma – Memberikan Pelayanan Terbaik kepada Pelanggan). 

Kita tahulah, setiap mobil yang ada sekarang ini sudah dilengkapi dengan air bag dan seat belt. Keduanya jadi standard paling rendah untuk kendaraan roda empat keluaran Astra. Tujuannya sudah tentu mengurangi tingkat kematian akibat kecelakaan jalan raya.

Dalam talkshow Astra Road Safety di Surabaya, yang saya ikuti, bulan Juli 2017 silam, Bapak Faris Hengky, Brand Manager Auto2000 Surabaya, menegaskan kembali masalah pengembangan teknologi ini.

Bapak Faris Hengky, Branch Manager Auto2000 Surabaya menjelaskan teknologi di kendaraan buatan Astra hanyalah alat bantu. Tetap saja, tanggung jawab di jalanan adalah tanggung jawab bersama.

Sebut saja, sekarang setiap mobil keluaran Astra memiliki alarm pengingat kalau seat belt tidak dipakai oleh pengendara dan penumpang.

Eh tapi… kembali lagi ya… masalah teknologi yang ditanamkan ini hanyalah “tambahan” karena ujung-ujungnya selalu kembali ke manusia di balik setir. Sebaik-baiknya teknologi, kalau orangnya sendiri tidak “bener” ya akan jadi salah.

Makanya saya agak takut pas belajar mobil di jalan ramai – karena ngerasa orang-orang di sekitar itu menakutkan banget.

Karena itu juga, Astra giat dalam meningkatkan kesadaran berlalu lintas. Setiap pembelian kendaraan di Astra, selalu diingatkan masalah safety riding. Selain itu, Astra juga mengedukasi masyarakat umum dengan talkshow, seminar dan acara lain. Salah satunya ya program berikut.

Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas & Astra Road Safety Challenge – Cara Astra Menginspirasi Indonesia

Program Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas (IAABL) ini adalah cara Astra mengajak para pengguna jalan raya untuk meningkatkan kesadaran diri dalam berlalulintas. Salah satu bagian dari program ini adalah Astra Road Safety Challenge, di mana Astra mengajak masyarakat Indonesia untuk memberikan ide inovatif dalam berlalu lintas.

Astra Road Safety Challenge mengajak kelompok komunitas, pelajar dan mahasiswa serta seluruh masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam menyebarkan aksi-aksi positif dalam menjaga keselamatan di jalan raya. (diambil dari website)

Astra Road Safety – Meningkatkan kesadaran berlalu lintas melalui talkshow, seminar dan challenge

Pemenang Astra Road Safety Challenge ini diumumkan dalam rangkaian ulang tahun 60 tahun Inspirasi Astra di Medan 23 September 2017 silam. Juara pertama challenge membuat alat modifikasi peringatan dini kepada pelanggar rambu lalu lintas.

Alat bernama Mamnu’ Wuquf dibuat dengan pemikiran untuk memberi efek jera kepada pelanggar.

“Peraturan lalu-lintas dibuat untuk dipatuhi, tetapi banyak rambu yang dilanggar karena tingkat kesadaran masyarakat masih rendah. Agar tidak dilanggar, pengguna jalan harus diingatkan.” ujar Melati Dyah Kumalasari, mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember mewakili kelompoknya. Pemenang lainnya, bisa dilihat di artikel ini.

Baca juga: Inspirasi dari Pemenang Astra Start-up Challenge

Program seperti IAABL ini memang dirasakan sangat bermanfaat dan menginspirasi. Sejalan juga dengan program pemerintah dalam meningkatkan kesadaran pengguna jalan raya dan juga mengajak untuk bertanggung jawab di jalanan.

Setidaknya itu yang disampaikan oleh Direktur Keamanan dan Keselamatan (Dirkamsel) Korlantas Polri Brigjen Polisi Chrysnanda Dwilaksana, di acara peringatan 60 tahun Astra di Medan itu.

Tidak hanya berfokus pada produksi yang mendatangkan profit, Astra merasa kalau perusahaan haruslah menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara (butir pertama Catur Dharma – filosofi perusahaan Astra). 

Tanggung Jawab BERSAMA!

Intinya, apapun yang dilakukan oleh produsen otomotif sebesar Astra ataupun banyaknya peraturan yang dikeluarkan pemerintah, semua akan sia-sia. Tidak ada yang bisa menjamin jalan raya tanpa kecelakaan jika kita – pengguna jalan raya – mengabaikan semua itu.

Teknologi yang diciptakan oleh Melati sebagai pengingat pun hanyalah jadi teknologi tak berguna jika kita, tidak merasa ada tanggung jawab di jalanan. Demikian juga teknologi yang ditanamkan Astra dalam tiap kendaraan produksi mereka.

Ataupun program edukasi kesadaran berlalu-lintas mereka. Semua akan sia-sia kalau tidak ada rasa tanggung jawab di hati kita semua (sampai muncul benda mati jadi kambing hitam juga).

Secanggih-canggihnya telepon pintar, tidak akan membuat penggunanya pintar kan? Tapi manusia penggunanya sendiri yang menentukan, apakah dia orang pintar atau bukan. 

Kalau menurut kamu sendiri, tanggung jawab di jalanan itu jadi milik siapa?

Exit mobile version