Febriyan Lukito

Me, Myself and (a) Tattoo

Family & Love in Infinity

Sumber dari sini
Sumber dari sini

Makasih Dan buat input untuk judulnya, orang satu ini memang ahli bikin judul cetar membahana ya. 😀 Kenapa bisa saya dapat judul dari dia? Karena diskusi di group masalah postingan saya kali ini. Apa post aja atau tidak? Dan mereka mendukung untuk post. Akhirnya ya lahir inilah.

Tattoo

Yes, I want to talk about Tattoo. Pembahasan ini mungkin akan bertentangan dengan nilai yang dianut masing-masing pribadi, tapi toh ini blog pribadi dan tidak mengajak untuk bikin tato. So… here I am writing thisjudge me as you please. 

Tattoo sendiri sebenarnya sudah ada sejak dulu, sejak jaman Neolitikum. Banyak dilakukan oleh kaum Eurasian sebagai salah satu bentuk penyembuhan dari penyakit. Saat ini, sebagian memandang tattoo sebagai bagian dari seni, sebagian lagi memandangnya sebagai bentuk penyiksaan terhadap kebersihan tubuh, bahkan ada yang mengkaitkan tato dengan “penjahat”. Namun mulai banyak yang menyukainya dan membuatnya, termasuk beberapa kawan saya. Jika saya tanya ke mereka kenapa mentato tubuh mereka, mereka akan mengatakan: “Ini seni man…”

Kemudian saya menonton salah satu reality show dari US, saya lupa apa nama acara itu, di sana, seorang wanita membuat tattoo untuk mengenang almarhum adik laki-lakinya yang meninggal dalam tawuran antar geng. Tattoo adalah bentuk seni dan pengingat bagi diri seseorang. Seperti yang dilakukan kawan terdekat saya, saat dia kembali dengan tattoo tulisan, saya bertanya untuk apa? Dan alasan dia membuat tattoo itu, sebagai pengingat untuk dirinya sendiri bahwa dia kan bertahan dalam keadaan apapun.

My Own Tattoo

Yes… finally, I have one. Sebelum berangkat ke Liberia, saat saya ke Bandung bersama beberapa teman, saya sudah ingin membuatnya. Namun, untungnya saat itu tempat tattoonya tutup. Kenapa untung? Karena saya belum ada ide seperti apa tattoo yang saya inginkan dan kenapanya (baca: mencari alasoan).

Saat saya balik dari Liberia, keinginan membuat tattoo ini kembali hadir. Namun kali ini saya sudah tahu apa yang saya inginkan dan mendapat restu dari mama. Desain tattoo yang saya inginkan, saya temukan dari browsing mengenai tattoo beberapa kali dan menggabungkannya. Hasilnya sebuah tattoo yang akan menjadi reminder dalam hidup saya.

Pengingat dan Pengerjaan

A glimpse of my tattoo

Reminder apa dari tattoo yang saya pilih ini? Pengingat akan siapa yang menjadi prioritas dalam hidup saya. Yaitu my Family. Dan apa yang saya harus lakukan adalah untuk satu hal, yaitu Love in many terms. Kedua kata itu saya gabungkan dengan infinity yang diakhiri dengan bentuk daun yang ujungnya beterbangan dan berubah menjadi burung.

Kenapa infinity? Tak lain dan tak bukan karena saya ingin keduanya akan selalu ada dalam hidup saya, tidak pernah berhenti. Lalu daun dan burung? Daun melambangkan alam, bahwa semua berasal dan berakhir dari alam dan burung melambangkan transformasi dalam hidup agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Penasaran bentuknya?

Sebelum saya kasih unjuk tato saya, saya cerita sedikit pengerjaannya ya. Jadi, kawan saya mengenalkan saya pada Bayu, seorang kenalannya yang tattoo artist. Pada saat saya membuat tattoo, dia di studio tattoo di Gading, tapi sekarang dia di Jl. Mampang Prapatan 11 No. 49. Awalnya saya deg-degan juga membayangkan prosesnya nanti, apalagi mendengar suara mesin tattoo itu (mirip suara bor di dokter gigi).

Namun dia berhasil menenangkan saya. Perlahan tapi pasti, saya pun akhirnya ditattoo. Sakit? Gak berasa, karena dia mengajak saya mengobrol saat mengerjakan tato saya. Jadi awalnya dia membuat desain di kertas. Menunjukkannya ke saya dulu untuk persetujuan, lalu dia membuat versi di kertas minyak. Tempat di mana saya ingin tatonya itu, diberi vaselin, lalu kertas minyak itu ditempelkan ke sana.

Sama seperti pembuatan tato temporer kan? Nah bedanya adalah yang berikutnya. Saya diminta tiduran di ranjang (mirip ranjang pemeriksaan dokter), lalu mulailah dia menggambar dengan mesinnya. Sebelumnya dia menunjukkan ke saya bahwa jarum yang dipakai steril. Sarung tangan pun dia pakai. Dimulailah pengerjaan tato itu. Saya sempat meminta kawan saya itu untuk memfoto prosesnya. Dan setelah itu saya upload dalam Meipai saya. Jadi ini proses dan hasilnya….

Saya tidak menyarankan untuk membuat tattoo ya, hanya ingin menuliskan yang saya alami. Tattoo kini bagian dari diri saya, yang menjadi pengingat di kala saya sedang merasa down. Dan ternyata menolong loh, setidaknya bagi saya pribadi ya.

Exit mobile version