Febriyan Lukito

Afraid Makes Us Keep Going On

Instagram Meghan

The voice season 8. One of the contestant on Pharrell’s team, Megan Linsey said that she was afraid when she perform. Then Pharrell said: “Okay… You are afraid. But then, did that brings anything good to your life?” 
“No.” She replied. 
“So, if you know that it is not bring anything positive, why do you want to bring it up here, to the stage.” Pharrell replied. 

Megan - image courtesy of NBC
Megan – image courtesy of NBC

Di atas adalah kira-kira pembicaraan antara Pharrell sebagai pelatih dengan Megan. Dia ini pernah menjadi penyanyi pembuka dalam acara Blake Shelton dan sudah terbukti suaranya memang bagus. Tapi ya itu, dalam latihan dia merasa takut dan akhirnya suaranya pun agak terpengaruh. Di saat Pharrell mengucapkan kata-kata di ataslah dia mulai menyadari dan kemudian berhasil melewati babak Knock Out. Gadis ini akhirnya kembali menyatu dengan Blake karena Blake melakukan “steal“.

Yang ingin saya bahas di sini bukanlah masalah The Voice Season 8 (tapi ini acara memang keren dah), tapi masalah ketakutan – afraid. Siapa sih yang gak punya rasa takut? Saya yakin setiap orang punya. Bahkan tak sedikit yang punya rasa takutnya agak akut – dikenal dengan phobia. Kalau saya sendiri takut akan ketinggian. Beneran deh. Bahkan untuk berdiri di pinggir dari lantai atas dan melihat ke bawah gitu di mall (apalagi yang pembatas pinggirnya adalah kaca) saya pasti langsung deg deg deg deg. Padahal ya, kalau seperti di Grand Indonesia, foto dari lantai atas, itu menghasilkan foto luar biasa – foto eskalator dari atas. Ini keren abis karena susunannya melingkar gitu.  Satu yang belum kepikir oleh saya sih untuk bungee jumping. Kayaknya kalau yang ini sih akan jauh lebih susah. Segan rasanya membayangkan.

MAJU SEGAN MUNDUR TAK MAU

Membayangkan bungee jumping aja rasanya dah seperti maju segan tapi mundur pun tak mau. Kalau maju ya itu depan dah jurang atau jembatan yang tingginya gak kira-kira. Kalau mundur kok ya malu saya orang-orang di belakang gitu. Badan gede tapi nyali kecil. (Kayak wajah preman hati mah… – boleh kalian isi sendiri deh).

Jadi saya pun pernah tuh pas di DUFAN bersama teman kuliah. Ada wahana baru yang tinggi luar biasa. Takutlah sebenarnya tapi penasaran dan dorongan teman akhirnya ikut antri. Semakin dekat, semakin berasa deh takutnya. Membayangkan yang gak-gak aja. Mau mundur malah… Itulah saat saya merasakan MAJU SEGAN MUNDUR PUN TAK MAU. Mau maju ya segan karena takut tapi mundur bukan opsi juga, malu sama yang lain. Hahaha.

Akhirnya sih ya saya naik juga karena dah kepalang antri kan, awalnya saya tutup mata. Pas dah di atas, wahana ini sempat diam sebentar sebelum kita diputar-putar. Pas diam itulah saya buka mata saya. Dan ternyata keren banget viewnya. Dari atas sana saya bisa lihat view pantai Ancol dengan bianglala di kejauhan. Ah pemandangan keren abis deh. Gak nyesal sampai sekarang dah memutuskan antri yang dipaksa-paksa.

RUGI BANDAR

Born – Live – Died

Dari pengalaman naik wahana itulah saya mulai perlahan menikmati ketakutan saya akan ketinggian. Hasil yang kita dapatkan kalau mengatasinya itu jauh lebih baik daripada kita hidup dalam ketakutan terus. Yah setidaknya bagi saya. Misalnya seperti yang saya bilang di atas, di Grand Indonesia, mana mungkin saya menikmati view eskalator yang didesain sedemikian rupa posisinya hingga susunannya keren abis. Atau view Ancol dari atas seperti pas naik wahana baru itu.

Memang hingga kini saya masih bergidik kalau disuruh bungee jumping tapi who knows? Someday I will do it. And I will scream out loud that I have conquer my fear once again. Hahaha. Back to topic. Seperti dalam The Voice yang saya ceritakan. Mungkin kalau Megan masih merasa takut dalam mengeksplorasi gerak di panggung, malam itu dia tidak akan di-steal oleh tiga juri lainnya.

Artinya kalau dia tetap dalam ketakutannya itu, dia out for good dari acara itu. No more chances. Inilah yang terjadi kalau kita juga mengukung diri kita dalam ketakutan kita, menurut saya. Kita tak bisa mengeksplorasi sebegitu banyak kesempatan di luar.

LIVING IN FEAR

Ini salah satu view di IG-nya Noni.

Padahal ya, luar itu banyak menawarkan yang indah-indah tapi kitanya malah memutuskan untuk tinggal dalam ketakutan. Misalnya saja kita takut bepergian karena menonton berita di TV yang bilang kalau transportasi gak aman (pesawat jatuh atau hilang, bus kebakar, dll). Apa yang dilakukan? Diam di rumah? Takut mendengar berita-berita seperti itu adalah wajar tapi kalau hal itu membuat kita jadi tidak mau lakukan apa-apa. Uidih… Sayang atuh.

Coba deh lihat foto-fotonya Noni di IGnya. Keren-keren tuh tempat-tempat di luar sana. Atau mungkin kisah orang-orang yang ditemui Deva dalam blognya. Kapan kita bisa bertemu orang-orang hebat seperti itu kalau kita takut keluar. Atau lihat juga lokasi keren dalam Pendekar Tongkat Emas, kalau kita takut, mana mungkin bisa ke sana sendiri.

Takut adalah wajar tapi hidup dalam ketakutan? Menurut saya dah gak wajar. Kita ini pemilik hidup kita sendiri. Kita sutradara film kita sendiri dan penulis kisah hidup kita sendiri (dengan restuNya tentu). Jadi kenapa kita membiarkan naskah film kita diatur oleh ketakutan itu sendiri?

Just be free, live the life you want to be. Let the fear come and turn it into positive way to do. Nah… Bagaimana pendapat kalian? Apa saja ketakutan kalian dan apakah kalian hidup dalam ketakutan itu?

Tulisan lainnya mengenai inspirasi hidup:
[display-posts category=”inspirasi-hidup” posts_per_page=”10″]

Exit mobile version