Febriyan Lukito

Mencari Tenaga Admin itu Gak Gampang

Shine in time

Bukan, ini bukan soal lagu yang itu kok, ataupun meme yang sangat banyak beredar dengan foto Polwan yang sakitnya di sini. Walaupun lagu maupun memenya itu booming banget, saya sendiri baru tahu itu belakangan *kudet banget yak*. Ini sebenernya postingan agak curhat dikit sih, sekali-sekali gak apa kan ya?

The dark sky - segelap hati yang galau #tsah
The dark sky – segelap hati yang galau #tsah

Kapan dan seberapa sering sih curhat di sini? Kalau di grup sih sering dicurhatin gadis penyuka pink itu atau malah saya yang curhat ke bapak muda itu. Kalau sama jagonya sosial media ataupun ksatria baja hitam itu sih masih agak jarang curhat-curhatan. Kalau di blog? Coba deh lihat, berapa banyak post saya yang curhatan? Palingan juga yang suka saya tulis dalam coretan suka-suka kalau lagi random mood. Well, ada beberapa sih member atau mentor English Club yang pernah kena dicurhatin saya juga. Makasih banget yak.

Pendahuluan Galau

Cieleh, curhat aja pake pendahuluan kayak skripsi, hehehe. Kata orang, galau itu kini dah jadi bagian hidup. Kalau gak galau bukan manusia katanya, sekali lagi ini kata orang ya. Bukan, bukan galau cinta ataupun galau kerjaan, melainkan galau tentang membantu seseorang. Beberapa minggu lalu, saya dimintai bantuan, which is not the first time she asked me. Dia ini dosen favorit saya pas kuliah di program beasiswa dulu.

Dia minta tolong kepada saya untuk mencarikan seseorang yang mau bekerja di tempat usaha suaminya. Kebutuhannya sih gak yang tinggi-tinggi. Hanyalah lulusan SMA Sederajat atau maksimal D1 doang karena kerjaannya juga hanya sebagai admin di kantor. Nah, saya iyakan dong membantu mencarikannya. Saya pikir juga banyak yang mencari kerja kan? Menolong orang ini.

Eh ternyata, hingga saat ini saya baru berhasil memberikan satu calon pelamar saja. Sedih banget rasanya. Saya selalu berpikir banyak yang ingin bekerja tapi kok ya susah juga ya mencari seperti ini, satu doang padahal.

KEBUTUHAN vs KEINGINAN

Nah, pas acara Seminar Getting Your Career in Digital World Jumat kemarin, sempat beberapa kali disinggung oleh Ibu Eka Sudjana mengenai gap antara kebutuhan perusahaan mencari karyawan dengan calon karyawan itu sendiri. Gap ini salah satunya ya karena kebutuhan perusahaan akan karyawan tentunya dengan kriteria tertentu belum tentu dimiliki oleh sih calon karyawan.

Blurry… Gak tahu yang diinginkan

Perusahaan butuh banyak karyawan tapi kok dari sekian banyak orang yang mencari kerja di luar sana tidak ada yang memenuhi sama sekali, sehingga gak heran belakangan ini semakin banyak wajah-wajah asing dari sekitar kita bermunculan, apalagi kalau kalian bekerja di bilangan Segitiga Emas *acung yang pernah/sering lihat coba*.

Nah pas kemarin itu posting di FB mengenai bantuan yang dibutuhkan dari saya ini, saya pun ingat kembali dan menyadari satu hal bahwa ada hal lain yang sebenarnya terjadi nih. Kalau tadi itu dari sisi perusahaan, ini dari sisi si calon karyawan. Keinginan mereka inilah yang terkadang bikin sakitnya bener-bener deh. Ini hanya sebatas share saya ya, dari yang pernah saya kenal, bukan berarti semua seperti ini:

1. Tidak tahu apa yang diinginkan

Jadi ada beberapa yang pernah ngobrol-ngobrol sama saya ujungnya minta diinfokan kalau mencari kerja. Saya sih no problem, karena bagi saya ini membantu orang kan. Kalau orang dibantu sukses, kita pasti juga ikut senang kan? Nah masalahnya, kalau saya balik bertanya: “Jenis kerjaan apa yang dicari?” Mereka rata-rata akan menjawab dengan APA AJA DEH. Samalah dengan pengalaman teman saya Santi Widjaja saat jadi HRD yang akhirnya membuat dirinya memutuskan keluar dan melakukan hal yang dia suka.

Banyak yang mencari kerja tidak tahu apa yang diinginkannya. Inilah yang bikin hati saya meringis sendirian dan gak jarang saya juga agak kesal. Jawaban ‘apa aja deh’ bagi saya bukan jawaban sama sekali, kenapa? Karena ujung-ujungnya saya yang bingung. Pas dikasih tahu ada lowongan tertentu, mereka akan balik bilang, ada yang lain gak? *pusing gak tuh….* Kalau sudah gini, saya angkat tangan akhirnya, daripada saya rekomendasikan dia ke seseorang kan?

Baca juga tentang: Hal yang Harus Dikembangkan dalam Diri Sendiri sebelum Melamar Kerja

2. Keinginannya WOW

Stand for believe

Nah ini kebalikan nih dari yang nomor satu di atas. Mereka tahu apa yang mereka inginkan, tahu di bagian apa mereka ingin kerja, tahu di industri apa, dan lainnya. Syukurlah, batin saya ketika mendengarnya, setidaknya gak akan merepotkan saya. Pertanyaan saya berikutnya dah pasti dong, lulusannya apa? Dan… JEDEEER *ala-ala sinetron lebay di TV saat ada berita mengejutkan*. Kualifikasinya sangat gak sesuai dengan yang diinginkannya.

Mohon maaf ya sebelumnya kalau ada yang tersinggung, misalnya saja inginnya bekerja di industri oil and gas (yang mana memang industri impian banyak orang di Indonesia) di bagian Off-shore (bagian dengan gaji besar memang), tapi lulusannya hanya SMA (bahkan bukan STM Mesin). Sorry to say, tapi ini bagai punguk merindukan bulan. Dan pas ditanya dah pernah training atau ada sertifikasi yang mendukung ke arah sana gak, katanya gak ada.

If you know what you want in life, you have to be ready for it – be prepared. Do what you need to do to get it. 

Baca juga: Hal yang Harus Dipunya kalau Mau Kerja.

3. Santai tapi Wokeh

Nah ini sebenarnya nyambung sama kedua point di atas nih, kebanyakan sekarang inginnya kerja yang santai tapi penghasilannya okeh beud. Ya siapa juga yang gak mau kan? Saya mau kok, tapi saya juga paham, semua gak bisa datang begitu saja. Perlu yang namanya kerja keras membangun dari awal. Pertama kali saya bekerja, tahun 2000 (saat itu baru lulus SMK – Akuntansi), saya bekerja di bilangan Rasuna Said. Di sana saya mendapat bayaran Rp 400rb sebulan (all in) – ini kisah nyata, kalau penasaran bisa japri deh.

Ya memang kecil dibandingkan UMR saat itu, saya sangat di bawahnya malah. Tapi saya terima karena saat itu saya butuh kerja dan pekerjaannya bagi saya okeh kok memang sesuai yang saya inginkan. Perlahan tapi pasti semua naik kok. Tapi ya bukan dalam waktu yang sebulan dua bulan. Bertahun-tahun, tepatnya 30 bulan pendidikan di atas yang membuat kenaikan berarti dalam hal gaji. Dan sejalan kenaikan yang saya terima, kerjaannya pun gak lagi sesantai dulu pas gajinya masih kecil. Ini sudah pasti. Di mana pun akan selalu gitu, that’s the fact.

High risk high return – mau gaji gede, siap korban dalam hal kerjaan. 

Baca juga tentang Pembelajaran tentang Hidup dan Batu Karang

Eits… kok curcol saya jadi panjang banget ya… hahaha. Sorry ya. Sampai sini aja deh, ya intinya sih memang saya sedih dan merasa sakitnya di sini *tunjuk dada – bener gak sih di dada?!?* kalau bicara soal lowongan kerja, antara kebutuhan perusahaan dan juga keinginan calon karyawannya.

Ada yang punya pengalaman yang bisa dishare di sini? Monggo, siapa tahu bisa membantu saya lepas dari kegalauan saya. O iya… kalau ada kenalan, sanak keluarga yang seperti saya tuliskan di atas – SMA Sederajat atau max D1, tolong japri saya ya di feb_ryan@yahoo.com, masih butuh nih.

Exit mobile version