Febriyan Lukito

Membeli Kebahagiaan

Ternyata oh ternyata… post tentang Membeli Kebahagiaan ini saya bikinnya di blog lama, dan jadi error saat dibuka. Jadi saya copas aja dah lagi ke sini.

***

Entah napa, tiba-tiba aja kemarin saya nulis status di FB yang agak gimana gitu. Beneran saya sendiri gak tahu kenapa kepikir menulis soal itu. Itulah kadang pikiran saya terlalu bebas, termasuk tiba-tiba nulis Membeli Kebahagiaan ini.

Padahal mah draft di blog ini banyak banget dan belum saya teruskan. Tapi kalau pikiran udah menyampaikan seperti ini suka lanjut nulis yang baru lagi aja.

O iya. Status di FB kemarin sih kira-kira gini. Saya berada di situasi sedang iri pada grup atau orang tertentu yang sering jalan-jalan liburan. Iri. Iri dan iri deh pokoknya. Terus pas balik badan, saya melihat kelompok orang lain lagi. Harus pakai kursi roda atau dengan alat bantu buat jalan. Tapi bahagia. Bersama. Gitu. Ya sekali lagi sih saya sampaikan kalau randomnya pikiran saya itu gak tahu dari mana datangnya.

Banyak yang ngelike di status itu (dua like bagi saya udah banyak beud). Dan ada beberapa komen termasuk dari teteh Dewi. Dia bilang kita sering melihat ke atas untuk iri. Cobalah lihat ke atas untuk motivasi diri. Lihat ke bawah untuk bersyukur.

membeli kebahagiaan
Status Membeli Kebahagiaan

Bahagia banget deh itu rasanya. Bersyukur itu membawa kebahagiaan. Saya juga berpikir gitu. Ada juga yang bilang bersyukur menikmati apa yang diberikan itu memberi nikmat sendiri. Nah ada yang nulis soal membeli kebahagiaan.

Saya bertanya balik. Membeli kebahagiaan itu seperti apa. Sampai saya berpikir ulang pada yang pernah saya lakukan dan alami. Hmmm. Damn. Saya pernah tampaknya melakukannya. “Membeli Kebahagiaan”. Mungkin itu yang dimaksud oleh Tara.

Dulu. Saya suka traktir orang makan di sana sini. Tujuannya satu. Agar saya dikenal oleh orang lain. Dan dideketin. Gitu. Apakah saya bangga dengan hal itu? Gakk. Beneran. Karena memang pada dasarnya gak perlu seperti itu.

Jika seseorang mau berteman dengan kita, hendaknya mereka memang mau karena ada kesamaan dalam diri kita. Jangan memaksakan dengan melakukan yang seperti itu. Dan saya pun dulu berakhir dengan banyak yang harus saya bayar. Wong waktu itu gesek gesek gesek cyinn. Hahahaha.

Just be yourself. Gak usah memaksakan orang untuk menyukai diri kita. Jalani apa adanya hidup ini dan nikmati roller coaster kehidupan ini. Jangan juga memaksakan diri menjadi orang yang diinginkan orang lain.

Sebenarnya kebahagian itu ada di depan kita. Ada di hidup kita. Tapi sering kali mata kita tertutup karena berbagai hal. Salah satunya karena kurang bersyukur mungkin. Atau juga karena keseringan menatap gadget dibandingkan melihat sekeliling.

Padahal sekeliling kita juga banyak yang bisa bikin kita bahagia. Senyum ibu kita misalnya. Atau sinar mentari yang masih bersinar di sekitar kita. Atau tawa anak-anak yang bermain bebas. Semua itu bisa memberi kebahagiaan kan?

Kalau menurut kalian, apakah membeli kebahagiaan itu ada? Atau kebahagiaan itu apa menurut kalian?

Exit mobile version