Ada yang pernah nonton reality show Korea berjudul Food Avengers gak? Itu loh… yang ada Moon Ga-Young itu. Itu salah satu reality show yang bagus banget menurut saya. Konsepnya beda dari reality show terkait makanan lainnya.

Reality show singkat selama 6 episode ini mengingatkan saya akan besarnya food waste – sisa (bahan) makanan yang masih layak dimakan tapi dibuang gitu aja. Begitu juga ketika saya mendengar nama Kevin Gani. Saya teringat akan hal kecil yang dilakukan Kevin Gani berakhir dengan dampak cukup besar.
Kevin Gani adalah sosok muda asal Surabaya yang di tahun 2024 dianugerahi penghargaan SATU Indonesia Awards di kategori lingkungan, tepatnya sebagai Pejuang Pangan Berkelanjutan.
Penghargaan ini bukan sekadar piala di rak, melainkan pengakuan atas kerja gigihnya lewat organisasi sosial yang digagasnya bersama rekan-rekan: Garda Pangan.
Food Waste di Sekitar Kita
Coba deh, bayangkan… dalam sehari, berapa banyak food waste yang kita hasilkan. Saya sendiri dua tahun terakhir memang mulai aktif masak sendiri di rumah. Setiap hari, setidaknya ada satu kantong sisa makanan versi saya.
Ada juga yang saya lupa masak hingga sudah merasa sudah tak layak dan berakhir di tempat sampah. Terkadang masak nasi kebanyakan, sehingga sisa tidak dimakan dan dibuang. Padahal, ada yang bisa diolah lagi jadi bahan makanan.
Seperti yang dilakukan di Food Avengers, dalam salah satu episode, bahkan mereka menggunakan kulit kentang yang termasuk saya buang, dan menyulapnya jadi masakan yang layak santap – es krim kentang.
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik KLH, total terdapat 33,34 juta ton timbulan sampah yang dilaporkan 307 kabupaten/kota seluruh Indonesia pada 2024. Dari jumlah tersebut 39,41 persen diantaranya adalah sisa makanan sebagai jenis sampah terbesar, disusul sampah plastik di posisi kedua dengan komposisi 19,55 persen.
Kebayang gak tu… dan ternyata Indonesia sendiri menjadi satu dari 5 negara terbesar dalam negara penghasil sampah di dunia. Dengan total 20.9 juta ton sampah makanan per tahun menurut laporan United Nations Environment Programme (UNEP) yang bertajuk Food Waste Index 2021. Walaupun, di tahun 2024 Indonesia di peringkat 8, hal ini tetap menunjukkan banyaknya food waste Indonesia selama ini.
Hal ini menarik Kevin Gani tergerak untuk melakukan sesuatu. Melalui hal-hal “kecil” seperti itu justru bisa menjadi pintu masuk untuk menggerakkan perubahan besar dalam masyarakat.
Awal Gerak: Ketika Rasa Keprihatinan Menjadi Tindakan
Kondisi Indonesia itulah yang membuat Kevin memulai sebuah gerakan kecil. Semua bermula dari kesadaran bahwa Indonesia adalah salah satu negara penyumbang sampah makanan terbesar, terutama dari sisa pangan yang tidak termanfaatkan. Kevin dan teman-temannya melihat bahwa banyak restoran, hotel, usaha katering, bahkan petani memiliki makanan yang surplus, makanan yang jika tidak ditangani dengan baik, berpotensi menjadi limbah.
Pada suatu hari, ketika Kevin memberikan bantuan makanan kepada seorang nenek di kawasan Joyoboyo, Surabaya, ia dikejutkan oleh apa yang dilakukan sang nenek terhadap makanan itu.
“Makanan itu ditaruh di gayung” katanya, karena si nenek tak punya piring layak pakai.
Momen sederhana ini ternyata berdampak besar: hati Kevin tergugah untuk melakukan sesuatu yang lebih nyata dan menyeluruh.
Akhirnya, sejak 2017 Kevin mulai terlibat aktif dalam upaya menyelamatkan makanan surplus bersama Garda Pangan, yang kemudian tumbuh menjadi organisasi sosial yang menjalankan sistem food bank dan berbagai program inovatif.
Baca juga: Seribu Pohon dari Astra untuk Cianjur – Hentikan Peruaskan Lingkungan Sekarang
Garda Pangan: Wadah untuk “Menyelamatkan” Makanan dan Harapan

Garda Pangan berdiri dengan visi sederhana tapi ambisius: mengurangi limbah makanan dan memperluas akses pangan bagi mereka yang kekurangan. Namun di balik visi itu, ada sistem kerja yang rapi dan strategi yang matang, karena buat Kevin Gani dan timnya, menyelamatkan makanan bukan sekadar soal mengumpulkan sisa, tapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap pangan.
Langkah pertama yang mereka lakukan adalah edukasi masyarakat. Kevin percaya, perubahan harus dimulai dari kesadaran. Maka lewat berbagai kampanye dan lokakarya, Garda Pangan mengajarkan hal-hal praktis seperti cara menyimpan bahan makanan agar tidak cepat rusak, mengelola sisa makanan, hingga mengolah kembali makanan yang masih layak konsumsi. Pesannya sederhana tapi kuat: kalau setiap rumah tangga tahu cara mengelola dapurnya dengan bijak, masalah food waste bisa berkurang drastis.
Langkah berikutnya adalah mengumpulkan surplus makanan. Garda Pangan bekerja sama dengan restoran, hotel, katering, petani, dan bakery, semua pihak yang kerap memiliki kelebihan stok makanan. Makanan-makanan ini kemudian dijemput oleh tim Garda Pangan, disortir, dan disimpan dengan standar kebersihan ketat. Dari luar mungkin terlihat sederhana, tapi logistiknya rumit: makanan harus diambil dalam waktu cepat agar tetap layak dikonsumsi.
Setelah itu, mereka menjalankan proses pendistribusian. Makanan yang sudah lolos uji kelayakan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan, mulai dari panti asuhan, komunitas jalanan, hingga keluarga pra-sejahtera. Di sinilah momen paling hangat terasa. Setiap kotak nasi atau roti yang dibagikan bukan hanya mengenyangkan perut, tapi juga memberi rasa bahwa seseorang masih peduli.
Nah, untuk makanan yang sudah benar-benar tidak bisa dikonsumsi manusia, Kevin tidak serta-merta membuangnya. Melalui pendekatan biokonversi dengan teknologi maggot Black Soldier Fly (BSF), makanan tersebut diolah menjadi pakan ternak.
Cara ini bukan cuma cerdas, tapi juga ramah lingkungan. Sisa makanan tak lagi berakhir di TPA, melainkan jadi bagian dari rantai hidup baru, membantu peternak kecil mendapatkan pakan murah dan berkelanjutan.
Terakhir, semua itu tak akan berjalan tanpa kolaborasi. Garda Pangan membangun kemitraan dengan berbagai pihak, mulai dari sektor bisnis, komunitas lokal, lembaga pendidikan, hingga relawan individu. Bagi Kevin, kolaborasi adalah kunci agar gerakan ini punya napas panjang. Dengan semakin banyak orang yang terlibat, semakin besar pula jangkauan dampak yang bisa mereka berikan.
Hasilnya lumayan menggembirakan: hingga saat ini, Garda Pangan telah mendistribusikan lebih dari 577.000 porsi makanan kepada hampir 28.000 penerima manfaat, didukung oleh lebih dari 1.500 relawan. Selain itu, mereka juga mencatat bahwa upaya biokonversi mereka telah membantu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar ± 533.900 kg.
Baca juga: 7 Sosok Penerima SATU Indonesia Awards 2017 – Inspirasi dari Generasi Muda
Tantangan di Lapangan: Tidak Ada Jalan Pintas

Tentu saja, membangun gerakan sosial sebesar Garda Pangan bukan hal yang mudah. Di balik setiap porsi makanan yang sampai ke tangan penerima, ada serangkaian tantangan yang harus dihadapi Kevin dan timnya, mulai dari urusan dapur, logistik, sampai persoalan mentalitas masyarakat.
Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga kualitas makanan. Tidak semua makanan yang disumbangkan otomatis layak dibagikan. Tim Garda Pangan harus memastikan makanan masih aman dari segi higienis dan gizi.
Mereka bekerja cepat, memeriksa satu per satu, memastikan tak ada makanan basi atau berjamur. Ini penting, karena misi mereka bukan sekadar memberi makan, tapi memberi makanan yang layak.
Masalah lain yang cukup pelik adalah logistik dan distribusi. Makanan punya waktu “hidup” yang pendek. Jadi, mereka berpacu dengan waktu agar makanan yang dikumpulkan tidak membusuk di tengah jalan.
Koordinasi harus rapi, mulai dari menentukan rute pengambilan, siapa yang bertugas di lapangan, sampai memastikan kendaraan dan alat pendingin siap beroperasi.
Terkadang, hujan deras atau kemacetan kota bisa mengacaukan semua rencana. Tapi Kevin percaya, selama niatnya jelas, selalu ada jalan untuk memastikan makanan sampai tepat waktu.
Selain itu, tantangan sosial juga tak kalah besar. Tak semua orang familiar dengan konsep food bank. Ada yang masih merasa malu menerima bantuan makanan, seolah itu tanda kelemahan. Ada juga yang ragu akan kualitas makanan yang diselamatkan.
Di sinilah Kevin dan tim Garda Pangan bekerja ekstra keras untuk membangun kepercayaan. Mereka menjelaskan bahwa gerakan ini bukan soal “kasihan”, melainkan tentang berbagi berkat dan menjaga bumi dari limbah yang sia-sia.
Dan tentu saja, urusan pendanaan dan keberlanjutan selalu jadi pekerjaan rumah bagi gerakan sosial mana pun. Operasional, bahan bakar kendaraan, pendingin makanan, pelatihan relawan, semua butuh biaya.
Tapi Kevin memilih untuk tidak menyerah pada keterbatasan. Ia membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perusahaan, lembaga donor, hingga masyarakat umum yang ingin berdonasi.
Transparansi jadi kunci. Semua laporan dibuka dengan jujur, agar setiap orang yang ikut berkontribusi tahu ke mana dana dan makanan mereka mengalir.
Perlahan tapi pasti, lewat kombinasi komitmen, kolaborasi, dan keterbukaan, Kevin dan Garda Pangan berhasil melewati tantangan demi tantangan itu. Mereka terus berkembang, bukan hanya sebagai organisasi penyelamat makanan, tapi juga sebagai penggerak perubahan cara pandang terhadap pangan dan kemanusiaan.
Baca juga: Sosok Inspirasiku: Ibu dan Kue Onde – Tradisi Makan Onde di Keluarga
Penghargaan SATU Indonesia Awards 2024: Pengakuan atas Usaha Nyata

Penghargaan SATU Indonesia Awards adalah bentuk apresiasi yang diberikan oleh PT Astra International Tbk kepada anak-anak muda di Indonesia yang punya prestasi dan kontribusi positif ke lingkungan, pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan teknologi.
Pada tahun 2024, dari puluhan nominasi di seluruh Indonesia, Kevin Gani berhasil membawa pulang penghargaan untuk bidang Lingkungan sebagai Pejuang Pangan Berkelanjutan.
Penghargaan ini tidak hanya menegaskan bahwa kerja Garda Pangan telah diakui secara nasional, tetapi juga diharapkan menjadi pemantik semangat bagi orang lain untuk ikut ambil bagian dalam gerakan pengurangan food waste dan ketahanan pangan.
Lebih dari sekadar trofi, penghargaan ini membuka peluang jaringan, dukungan dari berbagai pihak, dan visibilitas agar gerakan Garda Pangan semakin dikenal luas.
Pesan Kevin Gani & Ajakannya kepada Generasi Muda

Kevin selalu menekankan bahwa gerakan lingkungan bukanlah tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama. Ia percaya perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil di rumah sendiri: merencanakan menu dengan bijak, menyimpan bahan makanan dengan benar, makan sesuai porsi, dan memanfaatkan sisa untuk diolah kembali.
Dari rumah, gerakan ini bisa menyebar lebih luas ketika kita ikut serta dalam gerakan lokal. Apabila di kota atau daerah ada organisasi penyelamat makanan atau bank pangan, Kevin mengajak generasi muda untuk bergabung sebagai relawan atau sekadar menjadi penyebar informasi.
Lebih dari itu, Kevin menekankan pentingnya kesadaran kolektif. Ajak tetangga, keluarga, teman, warung, bahkan restoran untuk tidak membuang makanan yang masih layak dikonsumsi; alih-alih dibuang, bisa disumbangkan atau diolah kembali.
Pemanfaatan teknologi dan inovasi juga jadi kunci: misalnya lewat biokonversi Black Soldier Fly (BSF), sisa makanan yang tak layak konsumsi manusia tetap punya nilai, diubah menjadi pakan ternak yang ramah lingkungan.
Menurut Kevin, generasi muda punya peran strategis dalam gerakan ini. Mereka lebih fleksibel, akrab dengan media sosial dan teknologi, serta punya energi dan idealisme yang bisa mendorong perubahan nyata. Dari langkah kecil di rumah hingga kolaborasi berbasis teknologi, Kevin percaya setiap orang bisa menjadi bagian dari solusi.
Dengan semangat dan kesadaran bersama, tidak ada sisa makanan yang terbuang sia-sia, dan tidak ada satu pun orang yang kelaparan tanpa jawaban. Gerakan ini bukan sekadar soal makanan, tapi soal membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dan penuh empati.
Baca: Artikel Terkait 7 Habits – Kebiasaan Baik untuk Kita
Jejak Kecil, Jejak Berarti
Kisah Kevin Gani mengingatkan kita bahwa perubahan besar kadang lahir dari langkah-langkah kecil. Sekeping roti yang tadinya akan dibuang bisa menjadi santapan seseorang yang kelaparan. Sebungkus nasi yang diselamatkan bisa berarti harapan.
Penghargaan SATU Indonesia Awards 2024 yang dianugerahkan kepada Kevin adalah wujud apresiasi masyarakat dan lembaga terhadap kerja yang tulus, namun yang paling penting bukanlah penghargaan itu sendiri, melainkan apa yang terjadi sesudahnya: apakah gerak-gerik itu terus berkembang, menjangkau lebih banyak orang, menularkan inspirasi.
Semoga cerita Kevin dan Garda Pangan membuat kita semua terkena “virus kepedulian”: bahwa setiap potongan makanan, setiap sisa, bisa menjadi jembatan untuk kemanusiaan dan keberlanjutan. Mari kita bergerak bersama, tak seorang pun boleh kelaparan tanpa jawaban, dan tak satu potong pun makanan seharusnya sia-sia.
#APA2025-PLM