Site icon Febriyan Lukito

Gak Bisa!

It is not about able or not able. It is about willing or not willing 

Beberapa hari lalu tiba-tiba saja teringat kejadian beberapa waktu silam. Salah seorang karyawan datang ke saya untuk penilaian, setelah selesai, saya dan rekan dari HRD mengajukan satu permintaan. Terkait pekerjaan tentunya. Permintaan mudah sih sebenarnya mengingat area kerja yang bersangkutan adalah di AR, saya hanya memintanya untuk menyiapkan laporan tambahan setiap bulannya dalam versinya sendiri. Sebuah laporan yang merupakan ‘perbaikan’ dari dirinya.

Ybs dalam hitungan detik menjawab, “Tidak bisa!”

Baik saya dan rekan hanya berpandangan sejenak dan kemudian memintanya keluar ruangan. Semua penilaian baik hasil presentasinya tadi langsung turun. Baik dari saya maupun rekan saya.

Bisa

Kita seringkali seperti orang itu, entah kita sadari ataupun tidak. Kita mengatakan ‘tidak bisa’ untuk hal-hal baru yang diberikan kepada kita dalam berbagai bentuk. Mulai dari perkataan singkat tidak bisa itu sendiri sampai dengan berpuluh-puluh kalimat penolakan yang artinya juga sama.

Untuk hal-hal yang baru, kita sering membatasi diri kita sendiri untuk mencobanya. Ketakutan akan kegagalan dalam mencoba hal itulah yang membuat kita seperti itu.

Sama seperti saya saat diminta belajar sepeda (yang mana sampai sekarang juga masih tidak bisa… hiks). Saya serta merta mengatakan tidak bisa. Dan menghindari semua ajakan. Beragam alasan saya ciptakan agar tidak dekat-dekat dengan kata-kata sepeda itu. Hasilnya? Ya saya masih belum bisa sepedaan sampai sekarang.

HASIL

Kita selalu menginginkan hasil yang baik, entah dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan. Namun, kita sendiri selama ini, tanpa disadari, telah menjauhkan diri dari hasil yang baik itu sendiri. Ya dengan cara itu tadi. Tidak bisa. 

Dan karena tidak mendapatkan hasil yang baik (seperti yang diinginkan/diidamkan), alhasil kita seringkali mengeluh dan mengeluh. Padahal, mengeluh itu tidak menjawab apapun. Hanya menambah list beban hidup kita saja. (sebuah artikel bagus tentang keluarga dan mengeluh karya Andikha Wijaya Kurniawan dapat dibaca di sini).

Sekarang, coba kita pikir ulang bersama. Saya ingin bisa naik sepeda (baca: mengendarai sepeda – kalau naik saja sih bisa). Saat ini saya ‘mengeluh’ saya tidak bisa. Kalau ditelaah ulang, hal itu terjadi karena saya tidak mau belajar dari dulu. Setiap diajak belajar, saya cenderung ‘kabur’ dan menyebutkan seribu satu alasan agar tidak belajar. Jadi??

Hasil itu ada karena kita sendiri. Kita sendiri mengatakan tidak mau, padahal kita belum sekalipun mencobanya.

Gak Bisa atau Gak Mau?

Coba tanyakan sekali lagi ke diri sendiri, untuk semua hasil yang kita terima, yang tidak sesuai dengan harapan. Itu hasil dari apa? Hasil dari diri kita sendiri atau bukan?

Kalau dari diri sendiri, sekarang pertanyaan berikutnya: MAU berubah gak?

Setiap ada penawaran yang baru. Hal-hal yang belum pernah kita kerjakan sebelumnya, apakah kita akan menjawab: Gak bisa atau Gak mau? 

Loh… kok? Sama-sama Gak? Kalau salah satu dari pilihan itu kan artinya tetap ‘tidak’. Masa yang satu lebih baik?

Kalau jawabannya gak mau, itu lebih gawat. Karena di dalam gak bisa, masih terkandung pertanyaan kedua, yaitu mau atau tidak. Terkadang, ada beberapa orang yang mengatakan gak bisa karena membutuhkan dorongan untuk mencobanya. Membutuhkan dukungan (moril support).

Tapi kalau sudah gak mau, sekuat apapun kita mendorongnya agar mencoba, kemauan itu sudah ada di dalam. Dan dia sudah memutuskan bahwa dia tidak mau. Itulah yang terjadi pada cerita saya di atas tentang karyawan. Saat ditanyakan berikutnya, mau atau tidak (mulai dari pertanyaan implisit hingga pertanyaan langsung), akhirnya dia menjawab, tidak.

Inilah kenyataannya kawan.

Kalau kita menghadapi segala sesuatu di dalam hidup kita, pertanyaan sebenarnya bukanlah BISA atau TIDAK. Melainkan MAU atau TIDAK. 

Ryan

131012 1015

 

Exit mobile version