Site icon Febriyan Lukito

Belajar Seperti Akar

Belajar Seperti Akar 1

the higher you grow, the higher wind will blow

Jika ada satu hal yang dapat saya pelajari hari ini adalah semakin tinggi kita, entah dari kekayaan, kedudukan, jabatan, pekerjaan, dan lainnya… akan semakin banyak angin yang meniup kita. Berusaha meruntuhkan kita.

Bambu

Di suatu hutan belantara, hiduplah berbagai jenis pepohonan berakar besar. Dan sebatang Bambu yang baru saja tumbuh. Bambu yang pendek jarang mengalami terpaan angin karena dia masih terhalang oleh banyak pohon-pohon kekar di sekelilingnya. Dan tak jarang di sekelilingnya mencemoohnya karena bambu memang kecil. Tak berarti jika dibandingkan dengan sekelilingnya yang kekar. Akarnya besar dan daunnya banyak.

Namun… Bambu tak pernah menyerah. Dia terus bertumbuh dan bertumbuh. Dari masa ke masa, dia bertumbuh hingga kini dia setinggi pohon lainnya. Walaupun tubuhnya tetap kecil tak sekekar pohon lain di sekelilingnya. Celaan masih sering di dengarnya dari waktu ke waktu.

Kembali Bambu tak menyerah dan tetap bertahan. Hingga suatu hari, datang angin badai di hutan itu. Angin itu begitu kencang sehingga menerpa semua apa yang ada di hadapannya. Mulai dari rumput hingga daun yang ada di setiap pohon yang dilaluinya. Tak terkecuali pohon kekar dan Bambu.

Dedaunan pohon kekar itu tak lepas dari tiupan angin itu. Satu per satu angin badai itu membuat daun itu lepas dari cengkraman si kekar. Perlahan demi perlahan, kekar kehilangan pelindungnya. Dan angin badai itu mulai mengganggu si kekar dengan lebih kencang lagi.

Si kekar mempertahankan dirinya dari tiupan angin itu. Namun angin tak mau kalah, dia terus menerpa si kekar dengan tiupan demi tiupan yang semakin lama semakin kencang. Perlahan tapi pasti, si kekar mulai kehilangan pegangan. Akar-akarnya yang kokoh itu mulai melepaskan cengkramannya. Hingga akhirnya si kekar itu pun tumbang.

Angin melihat si kekar tumbang, dia pun mulai mencari mangsa baru kembali. Dan dia pun melihat si Bambu yang berdiri sendiri di sana. Dia pun perlahan mulai mendekati si Bambu yang terlihat tenang di antara angin yang ada.

Angin pun mulai menghembus dengan kencang. Dia berfokus kepada si Bambu yang berdiri tegak itu.

‘Kecil dia mah… kurus ceking gitu.’ pikir si Angin. Dia memulai aksinya. Hembusan demi hembusan yang semakin lama semakin kencang dia tiupkan ke si Bambu. Namun… Bambu tak bergeming. Bambu mampu bertahan. Angin yang tak putus asa berusaha untuk terus mengganggunya. Tapi setelah mencoba berkali-kali dan beberapa saat, dia pun menyerah dan meninggalkan si Bambu.

Learn From Bamboo

Bambu yang secara fisik kecil dibandingkan pohon-pohon lain itu sangatlah unik. Dia mampu bertahan di antara angin besar sekalipun. Banyak yang dapat kita petik dari sebatang Bambu.

Kalau kita perhatikan, Bambu memiliki batang yang kecil namun kuat. Akarnya bertahan di antara semua tiupan. Itulah yang dapat kita pelajari. Akan banyak godaan, gangguan – angin badai – dengan semakin tingginya kita, seperti bambu.

Tapi…

Jika kita memiliki akar – prinsip hidup – yang kuat dan benar, kita akan dapat bertahan.

Akar

Akar yang kuat haruslah dipupuk sejak kecil, sebagaimana Bambu memperkuat akarnya sejak kecil. Agar memiliki akar yang kuat, kita haruslah dipupuk sejak kita kecil.

Dimulai dari yang terdekat dan pertama kita kenal, yaitu keluarga. Dari merekalah awal pembentukan akar yang kuat. Inilah pentingnya sebuah keluarga.

Nilai-nilai yang diajarkan di keluarga adalah nilai pertama yang akan menjadi dasar seseorang itu di kehidupannya kelak. Nilai-nilai ini hendaknya ditanamkan sangat mendalam agar akar pada diri orang itu menjadi kuat. Dapat menjaga dirinya sekalipun sedang dalam masalah terbesar.

Nilai-nilai ini dapat berupa apa saja, termasuk yang secara tidak langsung diajarkan. Seorang anak cenderung melihat, mengamati dan menyimpan apa yang dilihatnya, didengarnya. Jadi.. ada kalanya pertengkaran dan ucapan-ucapan tak benar menjadi nilai yang diajarkan secara tak langsung.

Lingkungan selanjut yang dihadapi seorang anak dan menjadi tempat belajar adalah lingkungan sekolahnya. Di sana dia juga mempelajari banyak nilai-nilai yang akan menjadi akar hidupnya. Namun, peran keluarga di sini juga masih dibutuhkan.

Keluarga berperan untuk membantu anak itu memfilter segala yang diperolehnya di lingkungan sekolah itu. Tidak semua yang didapatkan di sekolah dapat digunakan sebagai akar.

Janganlah melepaskan peran kita sebagai keluarga dalam pendidikan dan pembentukan anak untuk mendapatkan akar yang dibutuhkan dalam kehidupan. Agar mereka mampu bertahan di antara tiupan angin yang akan mengganggunya nanti.

Ryan

130912 1600

Exit mobile version