Review Film Filosofi Kopi – Kopi, Kenangan, Cinta dan Obsesi

Setelah menonton Film Fast & Furious 7 di Cinemaxx dan mereviewnya, saya berkesempatakn kembali menonton film yang saya inginkan di tempat yang sama. Film Filosofi Kopi Senin lalu di Cinemaxx Semanggi. Berikut ini Review Film Filosofi Kopi – Kopi, Kenangan, Cinta dan Obsesi, versi saya.

Plot

Ini bukan dari Filosofi Kopi - tapi di balik secangkir kopi ada filosofinya. Menurut kalian apa yang ada di cangkir ini?

Ini bukan dari Filosofi Kopi – tapi di balik secangkir kopi ada filosofinya. Menurut kalian apa filosofi kopi di cangkir ini?

Film yang diangkat dari kumpulan cerpen Dewi Lestari (@deelestari) ini berkisah tentang Ben dan Jody, dua teman baik sejak kecil yang membuka sebuah kedai kopi di bilangan Melawai bernama Filosofi Kopi. Ben yang sejak kecil sudah mengenal dan akrab dengan kopi (karena sang ayah adalah petani kopi) menjadi barista di kedai kopi ini. Yang membuat beda kedai kopi ini adalah tentang filosofi yang dibuat Ben untuk setiap jenis kopinya.

Sedangkan Jody adalah partner yang lebih menekankan pada laporan dan keuangan kedai kopi. Permasalahan mengenai hutang yang melilit mereka (yang dapat membawa kedai kopi ini jatuh) membuat Ben menerima tantangan seorang pengusaha untuk menemukan kopi yang sempurna untuk disuguhkan ke calon partner kerjanya yang benar-benar keliling dunia hanya untuk secangkir kopi terbaik. Bahkan Ben meningkatkan tantangan 100juta menjadi 1M karena dia yakin akan memenangkannya dan mampu menyelesaikan semua masalah kedai kopi itu sekaligus.

Tak lama kemudian Ben sibuk membuat racikan kopi terbaik dengan biji kopi pilihannya (yang “terpaksa” direlakan Jody dengan merogoh kocek lebih dalam) dan dia berhasil menemukan Ben’s Perfecto. Hadirlah El, seorang penikmat kopi sejak kecil dan sedang dalam proses membuat buku mengenai kopi (melanjutkan penelitian ayahnya soal kopi). Kehadiran El yang membuat Jody terpesona ternyata membawa Ben ketar-ketir. Karena menurutnya Ben’s Perfecto bukanlah kopi terbaik.

Perjalanan mencari kopi terbaik pun di mulai oleh Jody, Ben dan El. Apakah mereka berhasil menemukannya?

Cast 

Film ini disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang berhasil membuat Film Cahaya Dari Timur dengan apik. Dia pun bertindak sebagai produser bersama dengan Anggia Kharisma, dan Handoko Hendroyono. Adi S. Jerikho Nagara bertindak sebagai Associate Producer dan juga Glenn Fredly dan Chicco Jerikho sendiri juga sebagai Co-Producer.

Chicco Jerikho sendiri bermain sebagai Ben – si penggila kopi dan bahkan bisa kita bilang obsesi terhadap kopi dan kesempurnaan. Sedangkan Rio Dewanto bermain sebagai orang keturunan yang memiliki modal (walau karena hutang) dan merupakan orang keuangan yang penuh perhitungan. Tak lama kita dikenalkan dengan Julie Estelle yang bermain sebagai gadis Indonesia yang lama di luar negeri karena sang ayah berkeliling meneliti kopi.

Film ini memang berpusat pada ketiga karakter di atas, namun banyak nama-nama yang cukup terkenal dalam perfilman Indonesia yang terlibat dalam film ini. Di antaranya Slamet Rahardjo yang bermain sebagai pemilik kedai kopi Tiwus yang dibilang lebih enak oleh El. Kemudian ada Jajang C. Noer yang bermain sebagai sang istri pemilik kedai kopi. O iya, ada juga Tara Basro loh yang sangat membuat saya tercengang di Film Pendekar Tongkat Emas kemarin, di sini dia bermain sebagai asisten pengusaha yang memberi tantangan.


Review 

Film ini merupakan film yang saya tunggu bersama teman saya, yang sama-sama penggila Filosofi Kopi sejak pertama kali membacanya. Dia bahkan sudah mendengungkan saat pertama kali cerita ini akan diangkat ke layar lebar dan banyak bercerita soal bagaimana Chicco Jerikho dan Rio Dewanto berlatih meracik kopi di Pasar Santa dan lainnya.

Filosofi Kopi sendiri menarik perhatian saya karena kisahnya adalah kisah perjalanan hidup tentang cinta dan obsesi akan kopi dan ternyata film ini berhasil membuatnya dengan apik. Karena itulah saya memberi judul Review Film Filosofi Kopi ini dengan Kopi, Kenangan, Cinta dan Obsesi. Akan saya coba jelaskan nanti di akhir tulisan ini.

Akting para pemeran dalam film ini sudah sangat tidak diragukan. Persiapan yang dilakukan oleh masing-masing pemeran film ini sangat keren. Mereka benar-benar belajar meracik secangkir kopi dan menikmati filosofi di balik secangkir kopi itu. Adakah yang saya sayangkan secara peran dalam film ini? Tidak ada. Sepanjang film saya menikmati semuanya yang berjalan dengan mulus. Ben sang barista ditonjolkan dengan baik oleh Chicco, si orang keuangan Jody juga diperankan dengan apik oleh Rio, si peneliti yang hanya menyuarakan versi dia juga diperankan dengan baik oleh Julie. Ini ada video di mana Chicco melakukan penelitian soal kopi untuk film ini.

Kisah, ah secara kisah film ini tidaklah jauh dari cerpen yang dituliskan oleh Dee dan menangkap semua dengan pas. Karena itulah saya mengangkat topi untuk Jenny Jusuf sang penulis naskah yang berhasil menuangkan cerpen ini ke dalam naskah film dengan baik.

Setting tempat kedai kopi Filosofi Kopi ini sangat saya suka, berhasil sekali memvisualisasikan apa yang tertulis dalam bukunya dan mengangkatnya dalam konteks kekinian. Kemudian kebun kopi Tiwus, ah…. seperti dalam bayangan saya kala pertama kali membaca bukunya. Dan hasilnya setelah nonton kemarin, membuat saya ingin sekali ke kebun kopi…. wonder when.

Nah, seperti yang saya bilang, saya akan tuliskan kenapa saya mengambil judul itu untuk review film ini, di akhir nanti saya akan berikan nilai saya atas film ini.

Kopi, Kenangan, Cinta dan Obsesi

Kopi… ya sudah pastilah film ini tentang kopi, judulnya saja adalah Filosofi Kopi. Film ini berhasil mengangkat kopi dan kedai kopi yang sekarang tampaknya menjadi bagian tak terpisahkan dari bagian kota-kota di Indonesia, Jakarta misalnya. Coba saja lihat di mana sih tidak kita temukan kedai kopi berlogo hijau dengan wanita (eh wanita kan ya?). Nongkrong di kopi seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak muda dan eksekutif yang gaol gitu. Dalam salah satu scene film ini ada yang membuat saya terbahak, yaitu di mana segerombolan anak muda membatalkan pesanan karena kedai Filosofi Kopi tidak memiliki wifi. Sebuah fasilitas “must have” bagi sebuah kedai kopi sekarang ini. Ya inilah kenyataannya kan?

Tapi pengenalan kopi dalam film ini membuat saya acungkan jempol. Kenapa? Kita ini salah satu negara penghasil kopi terbaik loh – di dunia…. masa kita sendiri tidak bisa menikmati kopi negeri sendiri. Kopi yang di kedai logo yang saya sebut di atas juga menggunakan kopi dari negeri kita kok. Sudah seharusnya kopi menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, sebagaimana film Indonesia juga menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Kenangan…. 

Ini juga kopi - tidak seperti kopi kedai berhias macam-macam, ini kopi jahe. Enak banget... apalagi minum di tempatnya... di Semarang

Ini juga kopi – tidak seperti kopi kedai berhias macam-macam, ini kopi jahe. Enak banget… apalagi minum di tempatnya yang agak-agak dingin… di Semarang

Pejamkan mata, hirup aromanya perlahan. Lalu sesap perlahan. Biarkan dia mengalir. Ah… kenangan demi kenangan akan melintas. Dan film ini sebenarnya membawa kita kembali ke kenangan masa kecil Ben yang harus dilaluinya bersama sang ayah. Bagaimana sang ayah dipaksa melepaskan kecintaannya pada kopi dan kemudian beralih. Kenangan atas masa kecil Jody dan El bersama sang ayah kembali. Jujur… saya nangis pas scene ini. Saya teringat kembali kenangan alm papa yang bulan ini tepat 10 tahun meninggalkan kami. Kenangan demi kenangan yang acap kali menghampiri pikiran saya kala menikmati kopi, beneran. Gak percaya?

Cinta….

Ya… film ini tentang cinta. Cinta terhadap ayah. Cinta terhadap keluarga. Cinta pada hal-hal yang memang membawa kita hidup sebagaimana seharusnya. Bagaimana kopi Tiwus menjadi kopi terbaik karena memang rasa cinta itu sendirii sejak dirawat hingga disajikan. Bagaimana secangkir kopi nikmat itu tergantung pada kecintaan baristanya terhadap kopi itu sendiri. Bagaimana mencintai keluarga, sang ayah melalui caranya masing-masing. Bagaimana memaafkan mereka yang mencintai kita dan kita cintai dan yang paling penting film ini adalah tentang bagaimana mencintai diri sendiri dan berdamai dengan diri sendiri.

Obsesi

Kecintaan Ben terhadap kopi mungkin membawanya ke arah terobsesi habis dengan kopi terbaik. Dia ingin dikenal sebagai orang yang berhasil menciptakan kopi terbaik hingga melupakan rasa CINTA itu sendiri. Obsesi yang dirasakan sejak dia dilarang ayahnya berhubungan dengan kopi. Namun ending film ini sangat manis di mana kita diajarkan bahwa obsesi itu tidak berarti tanpa cinta. Obsesi berlebihan akan kesempurnaan kopi membuat Ben terlena akan memberikan cintanya dalam kopi yang disajikannya.

Ya itu sih review saya untuk film Filosofi Kopi ini. Kali ini saya berikan nilai film Filosofi Kopi ini 4 dari 5. Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan sebuah kutipan yang diberikan teman:

Perfection without soul is nothing

 

Advertisements

42 Comments

  1. capung2 19 April 2015
    • Febriyan 19 April 2015
  2. Yudhi Hendro 19 April 2015
    • Febriyan 19 April 2015
  3. gustyanita pratiwi 18 April 2015
  4. lieshadie 18 April 2015
    • Febriyan 18 April 2015
      • lieshadie 18 April 2015
      • Febriyan 18 April 2015
  5. Beby 18 April 2015
    • Febriyan 18 April 2015
  6. fee 18 April 2015
    • Febriyan 18 April 2015
  7. Hengki 18 April 2015
  8. Dila 18 April 2015
    • Febriyan 18 April 2015
  9. Febriyan 17 April 2015
    • Dila 19 April 2015
      • Febriyan 19 April 2015
  10. sandy 17 April 2015
    • Febriyan 17 April 2015
  11. angki 17 April 2015
    • angki 17 April 2015
      • Febriyan 17 April 2015
    • Febriyan 17 April 2015
  12. zaki19482 17 April 2015
    • Febriyan 17 April 2015
  13. Ira 16 April 2015
    • Febriyan 16 April 2015
  14. Dian Rustya 16 April 2015
    • Febriyan 16 April 2015
  15. jampang 16 April 2015
    • Febriyan 16 April 2015
  16. eda 16 April 2015
    • Febriyan 16 April 2015
  17. Puji 16 April 2015
    • Febriyan 16 April 2015
  18. Collin 16 April 2015
    • Febriyan 16 April 2015

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: